Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

STRATEGI DAKWAH TERHADAP MASYARAKAT AGRARIS Mahmuddin Mahmuddin
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i1.317

Abstract

Abstract; Syariat Islam yang dijadikan landasan oleh umat manusia, berawal dari Nabi Muhammad saw. syariat tersebut berupa risalah yang bersumber dari ajaran ilahi yang diperuntukkan bagi umat manusia. Untuk mengetahui risalah tersebut, memerlukan pengamalan dan pemahaman yang tepat. Alquran dan Sunnah merupakan sumber syariat Islam yang dijadikan sebagai pedoman hidup bagi umat manusia, terutama bagi umat Islam. Syariat Islam merupakan senjata yang ampuh dalam menentang berbagai faham yang sesat, pandangan yang keliru tentang Islam dan berbagai persoalan agama Islam. Seluruh ciri atau karakteristik masyarakat pedesaan di atas sangat berpengaruh terhadap konsep berdakwah di pedesaan. Bagaimana seorang dai dapat menyesuaikan metode dakwahnya dengan keadaan masyarakat pedesaan yang cenderung menerima sikap pasrah dan kurang komunikatif dengan orang golongan di atasnya (orang kaya). Pentingnya strategi dakwah adalah untuk mencapai tujuan, sedangkan pentingnya suatu tujuan adalah untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Kondisi masyarakat agraris yang cenderung memiliki waktu yang terbatas di waktu malam dan lebih banyak bekerja pada siang hari serta lebih banyak di rumah pada malam hari, maka langkah dakwah yang strategis adalah dakwah melalui face to face atau melalui rumah ke rumah. Masyarakat agraris cenderung butuh tempat bertanya masalah-masalah agama setiap saat. Oleh karena itu, pada kondisi tersebut mendorong dai untuk melaksanakan pendampingan terhadap mad’u, agar mereka mudah menyelesaikan masalahnya dengan tepat waktu. Materi dakwah yang tepat buat mereka adalah masih berkisar pada aqidah, akhlak dan muamalah. Kata Kunci: Strategi, Dakwah, Komunitas, Agraris Islamic Sharia which is premised by mankind, originated from the Prophet Muhammad. The law in the form of a treatise that comes from the divine teachings intended for humanity. To determine the treatise, requires practice and proper understanding. Qur'an and Sunnah is a source of Islamic law which is used as a way of life for humanity, especially for Muslims. Islamic Sharia is a powerful weapon in opposing the various schools of false, erroneous view of Islam and Islamic issues. The whole traits or characteristics of rural communities over very influential on the concept of preaching in the countryside. How a missionary preaching method can adjust to the situation of rural communities tend to accept resignation and less communicative with the group on it (the rich). The importance of da’wa strategy is to achieve the goal, while the importance of the goal is to get the desired results. Conditions of agrarian society that tend to have a limited time in the evening time and more work during the day and more at home in the evening, then step strategic da’wa is da’wa through face to face or through house to house. Agrarian societies tend to need a place to ask religious matters at any time. Therefore, in these conditions encourage preachers to carry out assistance to mad'u, so they are easy to resolve the problem in a timely manner. Material of da’wa is appropriate for them are still around on faith, morals and muamalah.
KEPEMIMPINAN DAKWAH Mahmuddin Mahmuddin
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.347

Abstract

Abstract Dalam dunia modern, masalah administrasi makin mendapat posisi penting dalam pelaksanaan segala usaha, termasuk kehidupan organisasional. Pimpinan memainkan peranan yang sangat penting, bahkan dikatakan amat menentukan dalam usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Seorang pimpinan harus benar-benar mengetahui metode atau cara pengambilan keputusan serta teknik-teknik lainnya guna menghindari kesalahan yang fatal dan dapat merugikan dirinya dan organisasinya. Manusia sebagai pemimpin akan menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan memimpin manusia. Dalam konteks ini makna keadilan yang pertama adalah keadilan yang benar-benar menempatkan manusia pada harkat kemanusiaannya. Untuk menjalankan fungsi keadilan, seorang pemimpin dituntut memiliki sifat-sifat kepemimpinan penunjang lainnya seperti pengetahuan, kearifan, kesabaran, kesederhanaan dan sifat terpuji lainnya, sehingga pada dirinya memang terdapat suatu otoritas yang memungkinkan ia menjalankan kepemimpinann yang adil tersebut. Setiap pemimpin sekurang-kurangnya memiliki tiga ciri yaitu persepsi sosial, kemampuan berpikir abstrak dan keseimbangan emosional. Kepemimpinan dakwah merupakan suatu kemampuan khusus yang dimiliki oleh pelaksana dakwah untuk mempengaruhi perilaku orang lain sesuai yang diinginkan oleh pelaksana dakwah. Tugas seorang pemimpin dalam arti kepemimpinan dakwah betul-betul merupakan tugas yang sangat besar dan mulia, dan tugas ini tidak dapat dipikul oleh semua orang, karena selain tugasnya yang berat, juga tanggung jawab menggerakkan dan memengaruhi orang lain secara suka rela. Tanggung jawab dunia dan akhirat. Itulah salah satu masalah yang tidak semua orang mampu melakukannya. Keywords; Kepemimpinan, Dakwah In the modern world, more and more administrative problems got an important position in the implementation of all the efforts, including organizational life. Leadership plays a very important role, even said to be very decisive in the effort to achieve goals that have been set previously. A leader must really know the method or manner of decision making as well as other techniques in order to avoid a fatal error and can harm himself and his organization. Humans as a leader will perform the function of leadership to lead people. In this context the meaning of the first justice is justice really put a man on the dignity of humanity. To perform the function of justice, a leader is required to have leadership qualities and other supporting such knowledge, wisdom, patience, modesty and good character of the other, so that in itself is there an authority that allows it to run the fair kepemimpinann. Every leader has at least three characteristics, namely the social perception, the ability to think abstractly and emotional balance. Leadership propaganda is a special ability possessed by implementing propaganda to influence the behavior of others as desired by implementing propaganda. The task of a leader in the sense of propaganda leadership really is an enormous task and noble, and this task can not be borne by everyone, because in addition to the heavy duty, also the responsibility to mobilize and influence others voluntarily. Responsibilities of the world and the hereafter. That is one problem that not everyone is able to do so. Keywords; Leadership, Da’wa
SUMBANGSIH MUHAMMADIYAH DALAM MELURUSKAN PANDANGAN YANG KELIRU TERHADAP PEMAKNAAN MACCERA’ BINANGA DI BULUKUMBA Mahmuddin Mahmuddin
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 17 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v17i1.6075

Abstract

This journal is to present about the contribution of Muhammadiyah in getting back the points of Maccera’ binanga in Bulukumba. Therefore, this journal is intended to talk about the action of Maccera’ binanga and Muhammadiyah’s contribution in correcting point of viewof Maccera’ Binanga which is still fallacious in Bulukumba. The collecting data done by indepth interview which is, then, examined through dakwah theory and social change theory. The outcome of this research points out that point of view of Bulukumbanesse about Maccera’ binanga is as an inscription to the Sea God for the fish. This thing must be done as if it is not done, so the God will be indignant and there is no more fish for the coming year. The Maccera’ binanga is usually done along with animal slaughter in the river springhead, and then the animal’s head is throw away in to the sea with sokko’ (A rice made from sticky rice), grilled chicken which is put in Suji ball. The fishermen have a point that Maccera’ binanga is a ritual which must be done every year.
MANAJEMEN DAKWAH MA‘HAD AL-SUNNAH KABUPATEN SIDRAP Isman Iskandar; Baharuddin Ali; Mahmuddin Mahmuddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 5 No 1 (2017): April
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v5i1.9640

Abstract

Tulisan ini mengungkap dan mengelaborasi secara deskriptif manajemen dakwah Ma‘had al-sunnah Kabupaten Sidrap. Penelitian ini merupakan bentuk penelitian sosial yang menggunakan format deskriptif kualitatif. penelitian ini bertempat Ma‘had al-sunnah Sidrap yang berlokasi di Jl Andi Pannyiwi, Dusun II Labempa, Desa Kanie Kecamatan Maritenggngae Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Pendekatan yang digunakan dalah pendekatan manajemen dakwah dan pendekatan ilmu komunikasi. Sumber data primer ialah data yang diperoleh secara langsung melalui wawancara, dokumen (buku-buku yang telah ditulis oleh tokoh salafiyyah) dan para informan kunci yaitu para jama>’ah salafiyyah yang akan memberikan informasi tentang gerakan dakwahnya. Sedangkan informan luar jama>’ah salafiyyah adalah masyarakat dan aparat pemerintah. pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian observasi dan juga wawancara dengan daftar pertanyaan yang telah disediakan sebelumnya, dibutuhkan kamera, alat perekam (recorder) serta alat tulis menulis yang berupa buku catatan juga pulpen, dan bisa juga alat technology seperti smartphone. Data diolah dan dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang diuji keabsahannya dengan Credibility (validasi internal), Transferability (validasi eksternal), Dependability (reabilitas), dan Confirmability (obyektifitas).Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen dakwah salafiyyah dalam ma’had ini dapat dilihat dari fungsi manajemen yaitu: a. Perencanaan dakwahnya dibagi menjadi perencanaan dakwah perhari, perpekan, perbulan dan pertahun. Karakteristik yang paling menonjol dalam Ma‘had ini seluruh biaya pendidikan gratis  dan sumber pendanaannya mengandalkan sistem saling tolong menolong dan kerjasama diantara mereka dengan menggunakan pola pengajaran tersendiri yaitu talaqqi dan sanad. b. Pengorganisasian dakwahnya bersifat terbuka dan mempersilahkan siapapun untuk ikut andil. Pembagian tugas dilakukan melalui cara musyawarah. c. Pelaksanaan dakwahnya terlaksana dengan baik dan tetap istiqa>mah walaupun dengan sumberdaya seadanya. Mereka melakukan dakwah dengan dasar keikhlasan yang tinggi dan mengharap rida Allah swt. Gerakan dakwah salafiyyah yang dilakukan dikelompokkan dalam tiga bentuk yaitu: 1) Gerakan dakwah salafiyyah kepada non muslim adalah dengan tidak melakukan jihad syar’i (berperang dengan orang kafir) khususnya di Indonesia karena salah satu syaratnya harus bersama waliy al-amr. Adapun kondisi umat Islam yang terzalimi di berbagai negara di bolehkan untuk berjihad syar’i di negara masing-masing sesuai dengan syariat. Mereka melakukan interaksi dan toleransi yang baik dengan non Islam yang ada di Kab. sidrap salah satunya dengan komunitas agama lokal yaitu to lotang. 2) Gerakan dakwah salafiyyah kepada kaum muslimin dengan cara beramar makruf nahi mungkar, hajr al-mubtadi dan tahz|i>r 3) Gerakan dakwah salafiyyah kepada pemerintah adalah wajib taat kepada pemerintah, tidak boleh memberontak, tidak boleh dicela tapi hendaknya dinasehati atau bersabar dan berdoa. Namun mereka sangat menolak demokrasi dan politik. Mereka memandang keterlibatan dalam semua proses politik praktis seperti pemilihan umum sebagai sebuah bidah dan penyimpangan. d. Pengawasan dakwah yang dilakukan dimulai dari penentuan kegiatan serta aktivitas yang harus sesuai dengan dalil dan petunjuk Nabi saw. Ustaz memililki posisi sebagai rujukan utama dalam memberi pencerahan atau solusi atas permasalahan yang terjadi.