Erwin Jusuf Thaib
Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER INSPIRASI ETOS KERJA ISLAMI Erwin Jusuf Thaib
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.334

Abstract

Abstract; Agama Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai tuntunan dan pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam segi ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang berkenaan dengan kerja. Bekerja merupakan melakukan suatu kegiatan demi mencapai tujuan, selain mencari rezeki namun juga cita-cita. Dalam bekerja diwajibkan memilih pekerjaan yang baik dan halal, karena tidak semua pekerjaan itu diridhai Allah SWT. Etos kerja yang sehat akan mendorong seseorang bekerja keras, menambah wawasan, mempertajam skill serta mewarnai etos kerjanya dengan nilai-nilai Islam. Bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan menggerakkan seluruh aset, pikiran dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairul ummah) atau dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya. Etos kerja seseorang terbentuk oleh adanya motivasi yang terpancar dari sikap hidupnya yang mendasar terhadap kerja. Pembentukan etos kerja Islami terpancar dari sistem keimanan atau aqidah Islami berkenaan dengan kerja yang bertolak dari ajaran wahyu bekerja sama dengan akal. Etos kerja ini secara dinamis selalu mendapat pengaruh dari beberapa faktor, baik internal maupun eksternal, sesuai dengan kodrat manusia selaku makhluk psikofisik yang tidak kebal dari berbagai rangsang, baik langsung maupun tidak langsung. Kata Kunci: Etos, Kerja, Islam Islam that is based on the Quran and al-Hadith as guidance and guidance for the Muslims have a function not only set in terms of worship but also organize people into giving demands on matters relating to employment. Work is doing an activity in order to achieve the goal, in addition to searching for sustenance but also ideals. In the work required to choose a good job and kosher, because not all of the work that God approves. Healthy work ethic will encourage someone to work hard, broaden, refine skills and work ethic coloring with Islamic values. Working for a Muslim is an earnest effort, by moving the entire asset, mind and zikirnya to actualize or reveal the meaning of himself as a servant of God who must subjugate the world and established itself as the best part of the community (umma khairul) or in other words can also be said that only the working man to humanize him. One's work ethic is formed by the motivation that emanated from a fundamental attitude towards working life. Establishment of Islamic work ethics emanating from Islamic Aqeedah belief system or with respect to the work which is based on the teachings of revelation cooperate with any sense. This work ethic dynamically always under the influence of several factors, both internal and external, in accordance with human nature as psychophysical beings are not immune from a variety of stimuli, either directly or indirectly. Keywords: Ethos, Work, Islam
WARTAWAN SEBAGAI DA’I Erwin Jusuf Thaib
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.345

Abstract

Abstract; Peradaban saat ini sering disebut sebagai peradaban informasi. Informasi telah menjadi komoditas bahkan sumber utama kekuasaan. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk opini publik yang mempengaruhi dan mengendalikan pikiran, sikap, dan perilaku manusia. Khotbah adalah pekerjaan yang disamakan dengan garam kehidupan manusia dengan nilai-nilai keimanan, Islam dan kesalehan, demi sekarang dan masa depan kebahagiaan. Namun, di sisi lain sebagian besar perubahan sosial mencerminkan dinamika masyarakat yang tidak lagi ingin memberikan terlalu besar peran agama karena realitas sosial-ekonomi sering kebutuhan untuk lebih dominan. Pandangan Al-Qur'an dan Hadis pada kebebasan pers cenderung diresmikan oleh sistem pers yang berlaku, serta semua teori lain tentang kebebasan pers, sehingga semua teori akan diserap ke dalam sistem. Sebenarnya sistem Pancasila tidak bertentangan dengan pandangan teologis tentang kebebasan pers dan pembatasan. Berarti, tanggung jawab untuk kebebasan pers atau kebebasan informasi, menurut Islam, tidak berbeda dengan apa yang ada dalam hukum pidana atau hukum pidana media komunikasi dan etika jurnalisme massa. Dari perspektif ini penulis melihat potensi dakwah di dunia jurnalistik. Tuntutan untuk berdiri di atas kebenaran dalam menjalankan tugas jurnalistik merupakan tuntutan Islam. Dari sini dapat dikatakan bahwa seorang wartawan yang jujur dan benar adalah penyampai kebenaran, dan karena itu dapat diklasifikasikan sebagai khatib. Kata Kunci: Jurnalis, Dai Civilization is now often referred to as civilization information. Information has become a commodity even the main source of power. Such information can be used as a tool to shape public opinion to influence and control the thoughts, attitudes, and human behavior. The sermon is equated with salt work of human life by the values of faith, Islam and piety, for the sake of present and future happiness. However, on the other hand most of the social changes reflect the dynamics of the community who no longer want to give too large a role religion because of the socio-economic realities often needs to be dominant. View of the Quran and Hadith on press freedom tends to be unveiled by the press system in force, as well as all other theories about the freedom of the press, so that all the theories will be absorbed into the system. Actually Pancasila system does not conflict with theological views about freedom of the press and restrictions. Means, the responsibility for the freedom of the press or freedom of information, according to Islam, is no different from what is in the criminal law or criminal law media mass communication and journalism ethics. From this perspective the authors look at the potential of propaganda in journalism. Demands to stand on the truth of the job as a journalist is a requirement of Islam. From this it can be said that an honest and true journalist is conveyer truth, and therefore can be classified as a preacher. Keywords: Journalists, Da’i
DAKWAH KULTURAL DALAM TRADISI HILEYIA PADA MASYARAKAT KOTA GORONTALO Erwin Jusuf Thaib
Al-Qalam Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.018 KB) | DOI: 10.31969/alq.v24i1.436

Abstract

Studi ini mengungkap bagaimana realitas tradisi hileyia dalam masyarakat Kota Gorontalo, bagaimana wujud dakwah kultural dalam tradisi hileyia, serta apa  efek dakwah kultural dalam tradisi hileyia pada masyarakat Kota Gorontalo. Pendekatan studi ini bersifat  kualitatif  yang akan mengungkap dakwah kultural dalam tradisi hileyia pada masyarakat Kota Gorontalo. Melalui studi ini akan digambarkan bagaimana dakwah  disebarluaskan melalui medium budaya seperti tradisi hileyia. Dari hasil penelitian terungkap bahwa tradisi hileyia adalah suatu gambaran hubungan antara orang yang hidup dan yang sudah meninggal. Tradisi yang secara harfiah berarti pindah ini ditandai dengan berpindahnya seorang manusia dari dunia ini ke alam kubur karena sebab kematian. Hal ini diikuti dengan berpindahnya para keluarga dan kerabat dalam tempo tertentu ke rumah duka,  beraktivitas secara bersama-sama yang diisi dengan doa arwah dan aktivitas kehidupan lainnya dengan tujuan untuk menghibur keluarga yang berduka. Tradisi hileyia dalam masyarakat Kota Gorontalo adalah sebuah tradisi yang memiliki nilai-nilai dakwah kultural. Hal ini diyakini karena tradisi hileyia mengandung pesan-pesan kebajikan yang bisa disebar luaskan melalui perantaraan tradisi ini. Dakwah kultural yang disebarluaskan melalui tradisi hileyia memiliki efek positif dalam masyarakat Kota Gorontalo. Efek positif ini antara lain kepedulian sosial, keikhlasan dalam berbagi, serta rasa persaudaraan yang tinggi. Efek sosial ini dipandang sebagai modal sosial (social capital) yang sangat berkontribusi dalam membangun harmoni sosial dalam masyarakat terlebih dalam konteks masyarakat Kota Gorontalo yang plural.