Surayah Rasyid
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERMESTA MENGGUGAT (Telaah Atas Pemberlakuan Otonomi Daerah) Surayah Rasyid
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini mendiskusikan tentang ‘permesta menggugat’ sebagai sebuah gerakan pemberlakuan otonomi daerah. Isu sentral yang menjadi persoalan dalam studi ini adalah permesta dan otonomi daerah serta inflikasinya terhadap integrasi politik Indonesia. Dengan menggunakan analisis konten dan pendekatan sejarah, diperoleh pemahaman bahwa latar belakang lahirnya permesta adalah ketidakpuasan atas kebijakan-kebijakan pemerintah pusat, terjadiny perpecahan dwi-tunggal Soekarno-Hatta, serta adanya kesan bahwa Jawa menjajah daerah luar jawa, demikian pula adanya pembangunan yang tidak merata. Bentuk gerakan permesta pada awalnya dalam bentuk tawaran konsep terhadap pemerintah pusat mengenai penyelenggaraan pemerintahan. Namun upaya ini tidak disikapi secara bijak, sehingga permesta mengambil sikap tidak kompromi. Tuntutan otonomi daerah dijadikan prioritas bagi permesta, karena otonomi daerah disamping sudah menjadi amanat UUD 1945, juga merupakan sistem pemerintahan yang cukup efektif dalam rangka pemberdayaan potensi daerah untuk pembangunan, dan  kesejahteraan rakyat dapat terwujud.
ELIT POLITIK DAN KETERLIBANNYA DALAM PIMILUKADA DI KOLAKA UTARA Surayah Rasyid
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 5 No 1 (2017): Rihlah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3185

Abstract

Orientasi politik di kalangan elit politik dalam pemilukada setidaknya dapat dilihat pada dua hal, yaitu orientasi yang bersifat pragmatis dan yang bersifat ideologis. Orientasi pragmatis adalah dimana elit-elit politik memposisikan dirinya sebagai “elit lokal” untuk berjuang memenangkan pemilihan yang dilakukan sekali dalam lima tahunan itu. Dalam konteks ini elit-elit politik akan memaksimalkan usahanya untuk memperoleh kekuasaan karena itu yang menjadi orientasi politik. Sementara orientasi ideology, elit politik yang terjun ke gelanaggang politik merupakan panggilan hati untuk mengawal proses demokratisasi agar tercipta masyarakat yang aman, tentaram, adil dan makmur. Atau dengan bahasa agama, bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar. Jika dilihat kedua orientasi tersebut, maka orientasi yang bersifat pragmatisme ini lebih dominan dibandingkan dengan yang bersifat ideology. Kepentingan pragmatis motivasinya bisa beragam sesuai dengan keragaman kepentingan dan orientasi elit tersebut. Dan orientasi politik di kalangan elit bisa beragam motivasinya. Motivasi itu  ada yang karena ingin berkuasa, ada karena ingin mencari nafkah lewat politik, ada karena ingin mengembangkan wawasan kebangsaan,  dan ada pula karena ingin terkenal. Tetapi dari hasil penelitian mnunjukan bahwa motivasi kekuasaanlah yang paling dominan dari pada yang lain.