Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PARALEGALS AND HUMANITARIAN RESPONSIBILITIES IN ADVOCATING SURVIVORS OF THE MOST SERIOUS CRIMES: LEARNING FROM WOMEN VOLUNTEERS FOR HUMANITY IN NORTH ACEH DISTRICT Moh. Fadhil
Jurisprudentie: Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Vol 8 No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum uin alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jurisprudentie.v8i1.21236

Abstract

The most serious crimes that occurred in North Aceh left a deep scar for the victims. The birth of impunity causes victims to be naturally forced to survive. However, various fundamental rights that are difficult to access are a significant problem for survivors due to post-conflict trauma, making it difficult for survivors to open up to the local government. Therefore, the Women Volunteer Advocacy Institute for Humanity (RPuK) is here to bridge the fundamental rights needs of survivors with advocacy to local governments. This study aimed to determine the existence of RPuK in accommodating the fundamental rights of survivors. The method used is empirical legal research with interview and observation techniques. The study results reveal that the existence of RPuK for ten years in North Aceh Regency has built a unique advocacy program with the Regional Government in terms of fulfilling integrated service programs and unique service bazaars for survivors of the most serious crimes. Both programs focus on making identity cards, health insurance cards, marriage certificates, service mental health, employment assistance, and other fundamental rights. This success is a form of reparations as part of the fulfillment of transitional justice to the survivors. Interestingly, RPuK made a breakthrough in its food security advocacy program for the survivors during the pandemic. Thus, RPuK sees a new perspective that is far more important, prioritizing the survivors during the pandemic, fulfilling the survivors' economic, social, and cultural rights to fulfill human rights and transitional justice.
Problematika Pemeriksaan Terdakwa di Pengadilan Tanpa Dampingan Penasehat Hukum Moh. Fadhil; Mochammad Imam Ghiffary
Jurnal Mahkamah : Kajian Ilmu Hukum Dan Hukum Islam Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Mahkamah : Kajian Ilmu Hukum Dan Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jm.v4i2.589

Abstract

Prinsip Miranda Rules merupakan prinsip fundamental yang imperatif sifatnya di dalam prosedur peradilan pidana. Prinsip tersebut melekat pada hak-hak tersangka atau terdakwa sebagai bagian dari manusia seutuhnya. Salah satu yang menjadi bagian dari prinsip tersebut adalah adanya hak tersangka atau terdakwa untuk didampingi oleh penasehat hukum yang dibarengi dengan kewajiban penegak hukum untuk menyediakan akses bantuan hukum sebagaimana ketentuan Pasal 56 KUHAP. Namun, implementasi pasal 56 KUHAP belum sepenuhnya ditegakkan. Salah satunya di Pengadilan Negeri Sungguminasa melalui Putusan Nomor 03/Pid.B/2015/PN.Sgm yang di dalamnya menyebutkan bahwa terdakwa tidak didampingi oleh penasehat hukum. oleh karena itu penelitian ini ingin mengungkapkan problematika terdakwa di dalam putusan tersebut tidak didampingi oleh penasehat hukum selama proses persidangan berlangsung. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan terdakwa tidak didampingi oleh penasehat hukum. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penggabungan antara penelitian yuridis normatif dan penelitian yuridis empiris. Sifat penelitian ini adalah deskriptif dengan menganalisisnya secara kualitatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdakwa berdasarkan perkara a quo tidak didampingi oleh penasehat hukum dikarenakan terdakwa menolak didampingi oleh penasehat hukum sehingga Hakim Pengadilan Negeri Sungguminasa merasa kewajiban Pasal 56 KUHAP menjadi gugur. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan terdakwa tidak didampingi oleh penasehat hukum adalah terbitnya SP2DPH sejak saat penyidikan berlangsung, pemahaman konotatif terdakwa mengenai penasehat hukum, kekuatan daya mengikat norma di dalam Pasal 56 KUHAP rendah, kurangnya koordinasi antara Pengadilan dengan Posbakum, pandangan aparat penegak hukum yang masih memandang inferior profesi advokat.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, INTERNALISASI NILAI-NILAI ANTI KORUPSI DAN PENCEGAHAN TINDAK PIDANA KORUPSI Moh. Fadhil
Journal of Research and Thought on Islamic Education Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.895 KB) | DOI: 10.24260/jrtie.v2i1.1229

Abstract

This paper will discuss Islamic Religious Education and internalization of anti-corruption values as the effort to prevent corruption. The effort to overcome corruption crime not only with prosecution and eradication, but also with prevention efforts. One of the prevention efforts is education. Therefore, it needs anti-corruption education model as the resistence efforts toward corruptive behavior and to internalize the value of morality. It has to do literatively to build anti-corruption view. The aim of this paper is to understand integration of anti-corruption values in Islamic Religious Education model. Furthermore, this paper also discusses transformation of Islamic Religious Education that integrating anti-corruption values as the prevention efforts of widespread corruptive behavior and to increase corruption perception index. In this case, Islamic Religious Education must be able to make a methodological transformation in terms of cognitive anti-corruption literacy in each learning activity to all those learners. Furthermore, by building an analysis of social symptoms and public issues with a research approach, it must be able to build public morality. The success of the concept will be able to internalize anti-corruption values and to increase corruption perception index in the world.
Urgency of the Harmonization of Interception Regulation in the Context of Law Enforcement Moh. Fadhil
Susbtantive Justice International Journal of Law Vol 3 No 2 (2020): Substantive Justice International Journal of Law
Publisher : Faculty of Law, Universitas Muslim Indonesia, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/substantivejustice.v3i2.75

Abstract

Systems regarding the legal remedy of communication interception can be found in several regulations. However, those systems are not supported by horizontal harmonization since each regulation governs the mechanism differently, so there is a disparity among interception regulation. This paper analyzes the harmonization of wiretapping regulations in Indonesia from a law enforcement perspective with an inventory of regulations governing the current mechanism of interception. The results concluded that first, the disparity in intercepting authority of communication interception practice regulated by several institutions in the same form of crime eradication authority must be reformulated to restore overlapping regulations. Secondly, the interception regulation as a coercive force that derogates the right to privacy must contain detailed provisions in terms of a permit request and the wiretapping authority. The permit application must contain the purpose of the request for wiretapping permission descriptively. Moreover, these provisions must explicitly regulate legal subjects that are authorized to conduct wiretapping practice in the form of clear mechanisms and coordination with the direct superiors and court supervision regulating the interception procedure as well as the cooperation between law enforcement officials and telecommunications service providers. Third, prospectively interception regulations can be assessed from the political will of the legislators. The decision of the Constitutional Court No. 5/PUU-VIII/2010 mandates the need for horizontal harmonization of interception regulations in the form of the Interception Bill, which is also included in the 2019 National Legislation Program.
AMNESTI DAN KESETARAAN GENDER DI INDONESIA: TELAAH TERHADAP PEMBERIAN AMNESTI PRESIDEN JOKOWI KEPADA BAIQ NURIL Moh. Fadhil
Jurnal Yuridis Vol 9 No 2 (2022): Jurnal Yuridis
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35586/jyur.v9i2.2924

Abstract

Dalam pandangan feminist jurisprudence, hukum merupakan produk ketidakadilan dan bentuk dominasi negara terhadap kaum perempuan, salah satu contoh adalah kasus yang menjerat Baiq Nuril. Berdasarkan pertimbangan kemanusiaan, Presiden Jokowi memberikan amnesti kepada Baiq Nuril sebagai bentuk pemenuhan keadilan demi melawan ketidakadilan yang ditimbulkan oleh aturan hukum yang timpang. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menelaah pemberian amnesti kepada Baiq Nuril sebagai respon pemenuhan keadilan gender di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian normatif yang bertujuan untuk menelaah kebijakan yang dibuat oleh negara dengan menggunakan data sekunder. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pemberian amnesti merupakan sebuah terobosan hukum demi memenuhi keadilan gender dan menerobos aturan hukum yang kaku dan bias gender. Amnesti secara implisit mengirimkan pesan yuridis bagi pemerintah agar segera mereformulasi UU ITE dan berbagai macam regulasi yang bias gender. Kebijakan kriminal perlu melakukan penataan secara holistik, khususnya membangun jaminan dan akses perlindungan yang tepat kepada perempuan yang berhadapan dengan hukum.
PRAKTIK MENUMPANG LAHAN PERTANIAN PADI OLEH MASYARAKAT DESA SUNGAI AMBANGAH DALAM KAJIAN KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH Yati Ariyani; Rasiam Rasiam; Moh. Fadhil
Al-Aqad Vol. 1 No. 1 (2021): Al-Aqad: Journal of Shariah Economic Law
Publisher : LP2M and Shariah Faculty of The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/al-aqad.v1i1.169

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya praktik yang masih terjadi di desa Sungai Ambangah yang didasari atas kebiasaan masyarakat zaman dahulu yaitu praktik menumpang lahan pertanian padi. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk meneliti keabsahan dari cara praktik menumpang lahan pertanian padi tersebut ditinjau dari Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana praktik menumpang lahan pertanian padi yang sebenarnya terjadi di desa Sungai Ambangah tersebut. Jenis penelitian ini adalah normatif yang diperoleh dari pihak yang melakukan akad lahan tumpangan dan kajiannya berdasarkan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES). Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan observasi dan wawancara langsung kepada para pihak yang berakad. Data dikelompokkan menjadi data primer yakni beberapa petani di desa Sungai Ambangah dan KHES yang mengatur kerja sama bagi hasil dan data sekunder yakni buku-buku maupun jurnal-jurnal yang berhubungan dengan topik penelitian ini. Akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa praktik menumpang lahan pertanian yang dilakukan sah secara hukum walau sudah dianggap sebagai adat dan kebiasaan. Praktik muamalah ini termasuk dalam muzara’ah yang terdapat dalam KHES. Dalam penelitian ini diharapkan adanya penelitian lanjutan mengenai alternatif penyelesaian sengketa apabila terjadi permasalahan yang timbul akibat konflik internal antar masyarakat dalam praktik menumpang ini.
STATUS HUKUM UPAH PEKERJA MUSLIM MEMBANGUN GEREJA MENURUT KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA KABUPATEN SANGGAU Ergian Ramadhan Fahrezi; Rusdi Sulaiman; Moh. Fadhil
Al-Aqad Vol. 3 No. 1 (2023): Al-Aqad: Journal of Shariah Economic Law
Publisher : LP2M and Shariah Faculty of The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/al-aqad.v3i1.1190

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jawaban atas status hukum upah pekerja muslim membangun gereja di Kabupaten Sanggau menurut Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sanggau. Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif serta dengan sifat deskriptif analisis. Sumber data menggunakan data primer berupa wawancara dengan informan pekerja bangunan muslim dan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sanggau sedangkan data sekunder berupa buku, jurnal, skripsi, dan artikel-artikel membahas tentang kerjasama status hukum upah pekerja muslim membangun sarana ibadah gereja. Sedangkan uji keabsahan data, peneliti hanya menggunakan triangulasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) Sistem upah bagi para pekerja bangunan menggunakan sistem upah borongan dengan kesepakatan secara tertulis dan sistem upah harian dengan kesepakatan secara lisan. 2) Status hukum upah yang diterima para pihak beragama Islam yang melaksanakan kerjasama pembangunan gereja di antaranya pihak kontraktor, pihak pemborong/kepala tukang, dan pihak tukang menurut Komisi Fatwa MUI Kabupaten Sanggau adalah halal. 3) Dalil hukum yang digunakan Komisi Fatwa MUI Kabupaten Sanggau dalam menetapkan status hukum halal upah pekerja muslim membangun sarana ibadah gereja di Kabupaten Sanggau berpijak pada dalil tekstual yaitu Al-Qur’an, Sunnah, dan Qawaid Fiqhiyyah/Kaidah Fikih. Kemudian juga menggunakan dalil kontekstual yaitu dalil aqli (kondisi masyarakat yang pragmatis, sumber daya para pekerja yang tergolong rendah, dan alasan situsional) dan Tarikh Tasyri’ (istinbat hukum dari sejarah masa Sayyidina Ali dan masa KH. Hayim Asy’ari).
SEWA MENYEWA LAHAN PERTANIAN DI DESA SARANG BURUNG KOLAM DALAM REKONTRUKSI AKAD PERSPEKTIF KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH (KHES) Yuliana Yuliana; Moh. Fadhil; Nanda Himmatul Ulya
Al-Aqad Vol. 5 No. 2 (2025): Al Aqad: Journal of Shariah Economic Law
Publisher : LP2M and Shariah Faculty of The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to: 1) Examine the practice of agricultural land leasing in Sarang Burung Kolam Village; and 2) Analyze the legal status of this leasing practice from the perspective of the Compilation of Sharia Economic Law (KHES). The research employs a qualitative field study approach with a descriptive design. Data were collected through interviews and documentation. Data validity was verified using triangulation methods. Data analysis followed an interactive model, comprising data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that: 1) Agricultural land leasing in Sarang Burung Kolam Village is carried out under a two-crop seasonal system, namely musim tahun kacik (small-year season) and musim tahun basar (big-year season); 2) This leasing practice complies with the provisions stipulated in Chapter I, Article 20 of the Compilation of Sharia Economic Law (KHES) concerning the general terms of ijarah. Consequently, the practice can be categorized under Sharia law as an ijarah contract.
EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI E-COURT TERHADAP AKSES KEADILAN DI PENGADILAN AGAMA PONTIANAK Muhamad Arief Padilah; Moh. Fadhil; Husnun Nahdhiyyah
Al-Aqad Vol. 5 No. 2 (2025): Al Aqad: Journal of Shariah Economic Law
Publisher : LP2M and Shariah Faculty of The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objectives of this study are to determine: 1) the implementation of the e-court system at the Pontianak Religious Court; 2) to examine factors affecting access to justice in the implementation of the e-court at the Pontianak Religious Court.  The research method used by the researcher is descriptive-qualitative with a field research type and uses a normative-empirical approach. Data was obtained from two sources, namely primary data sources in the form of structured interviews conducted with the junior clerk for law, the e-court administrator, and litigants who did not use the e-court, regarding the data needed to support this research. And secondary data sources in this study were obtained by reading and studying documents relevant to this research, such as archived case documents, and through other media sourced from literature and related data. The results of this study indicate that the e-court system implemented at the Pontianak Religious Court has brought about a significant transformation in judicial administration, electronically integrating processes from registration to court hearings. Factors that influence access to justice include crucial challenges, such as the digital divide, which encompasses limited access to devices and the internet, as well as a lack of technological literacy among some members of the public.
Kebijakan Hukum Pidana Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Perspektif Maqashid Syariah Yara Shafa Alcika; Moh. Fadhil; Marluwi Marluwi
SANGAJI: Jurnal Pemikiran Syariah dan Hukum Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/sangaji.v7i2.1756

Abstract

Data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat pada tahun 2022 terdapat 18.250 kasus kekerasan dalam rumah tangga. Angka ini mengindikasikan tingginya tingkat kerentanan perempuan sebagai korban dalam hubungan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketentuan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dalam tinjauan maqashid syariah. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian hukum normatif. Bahan hukum primer menggunakan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan bahan hukum sekunder berasal dari berbagai literatur yang membahas maqashid syariah. Teknik pengumpulan bahan hukum dengan menggunakan studi dokumen atau studi kepustakaan yang diklasifikasikan berdasarkan bahan-bahan hukum yang relevan. Proses analisis data dilakukan secara deskriptif dan preskriptif. Bahwa peran Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah melindungi korban atau mencegah terjadinya kekerasan yang selaras dengan tujuan maqashid syariah yaitu hifdz al-nasl, hifdz al-nafs, hifdz al- maal, hifdz al-diin, dan hifdz al-aql yang dalam hal ini keduanya saling memiliki peran dalam menjaga tujuan kemaslahatan umat.