This Author published in this journals
All Journal Jurnal Hortikultura
Witono Adiyoga
Indonesian Vegetables Research Institute

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Studi Rantai Pasok Bahan Baku Keripik Kentang Industri Rumah Tangga di Jawa Barat (Supply Chain Study of Raw Material for Household Industry’s Potato Chips in West Java) Witono Adiyoga; Darkam Musaddad; Asma Sembiring
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n2.2020.p159-176

Abstract

Salah satu faktor utama yang dapat menjaga keberlanjutan dan kontinuitas produksi industri pengolahan pertanian adalah ketersediaan pasokan bahan baku. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik industri dan merancang upaya perbaikan rantai pasok bahan baku keripik kentang industri rumah tangga di Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di Garut dan Pangalengan, Jawa Barat pada bulan Agustus 2016. Pengumpulan data dilakukan melalui metode survey dan focus group discussion (FGD). Survey dilaksanakan melalui wawancara 19 responden prosesor keripik kentang skala rumah tangga. Focus group discussion diarahkan untuk mengelaborasi kondisi aktual dan potensi perbaikan rantai pasok bahan baku keripik kentang. Alat analisis yang digunakan adalah statistika deskriptif, analisis strengths, weaknesses, opportunities, and threats (SWOT,) matriks strategic position and action evaluation matrix (SPACE), dan analisis quantitative strategis planning matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pasokan bahan baku per industri adalah 2,8 ton per bulan. Sistem pembelian bahan baku adalah spot market. Kapasitas produksi keripik kentang per bulan berkisar antara 15–540 kg (84,2%). Spesifikasi bahan baku masih belum terstandarisasi dan bersifat ekstrinsik kualitatif. Analisis SWOT dan pemetaan faktor-faktor eksternal-internal menunjukkan bahwa perbaikan rantai pasok dapat ditempuh dengan menggunakan strategi agresif. Penyusunan prioritas strategi melalui analisis QSPM menyarankan agar strategi promosi masif varietas alternatif kentang prosesing non-Atlantik (termasuk Median) dan kemudahan akses petani terhadap benihnya, serta strategi perbaikan sistem pembelian bahan baku dapat diimplementasikan secara simultan.KeywordsKeripik kentang; Industri rumah tangga; Rantai pasok bahan baku; Analisis kekuatan-kelemahan-peluang-ancamanAbstractOne important factor that could maintain production sustainability of agro-processing industry is the availability of raw material. The study was aimed at examining potato chips household industry characteristics and designing strategies to improve the raw material supply chain in West Java. The study was conducted in Garut and Pangalengan in August 2016. Data collection was carried out through survey of 19 household industries. Meanwhile, FGD involving relevant participants was conducted to elaborate household industries’ existing conditions and potentials for improvements. The analytical tools used were descriptive statistics, analysis strengths, weaknesses, opportunities, and threats (SWOT),  strategic position and action evaluation (SPACE) matrix, and quantitative strategic planning matrix (QSPM) analysis. The results showed that the industry was characterized by average raw material demand of 2.8 tons/firm/month, spot market purchasing system, and production capacity of 15–540 kg/month. SWOT analysis and mapping in SPACE demonstrate that the improvement of raw material supply chain is best pursued by employing aggressive strategy.  Priority setting by QSPM suggests that the strategy of promoting massively non-Atlantic potato processing varieties (included Median) by also increasing farmers’ seed access, and improving potato chips raw material procurement systems should be implemented simultaneously.
Kelayakan finansial teknologi produksi benih bawang merah asal biji botani (True Seed of Shallot = TSS) (Financial feasibility of True Seed of Shallot seed production technology) Witono Adiyoga; Mathias Prathama; Rini Rosliani
Jurnal Hortikultura Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v31n1.2021.p81-92

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran pada Maret-November 2018. Tujuan penelitian adalah mengestimasi kelayakan finansial teknologi produksi benih bawang merah TSS (True Seed of Shallot). Percobaan lapangan produksi benih dilakukan untuk luasan 1.500 m2. Keragaan usahatani dievaluasi melalui analisis anggaran usaha berdasarkan pencatatan usahatani. Sementara itu, kelayakan finansial dianalisis menggunakan NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return),  B/C ratio (Benefit Cost Ratio) dan PBP (Pay Back Period). Hasil analisis anggaran menghasilkan indikator keragaan produksi benih sebagai berikut: (a) biaya produksi Rp. 255.320.280/hektar, (b) rasio penerimaan-biaya 1,49, (c) titik impas produksi 102 kg/hektar, dan (d) titik impas harga Rp. 1.789.628/kg. Analisis finansial berdasarkan parameter: periode proyeksi 3 tahun; aliran kas 12 bulan; suku bunga 18%/tahun; proporsi modal 40% (sendiri)  dan 60% (kredit); luas lahan 1 hektar; produktivitas 150 kg/ha; dan harga output Rp. 2.500.000/kg menghasilkan NPV = Rp. -108.564.638 (<0), IRR = sampai tingkat bunga 2% masih menunjukkan besaran NPV yang negatif (<18%), Net B/C Ratio = 0,62 (< 1), dan PBP = 1,5 tahun (< 3 tahun). Berbagai kriteria tersebut mengindikasikan bahwa usahatani produksi benih TSS belum dapat dikategorikan layak secara finansial. Analisis sensitivitas menunjuk-kan bahwa kelayakan finansial baru tercapai jika terjadi pengurangan biaya produksi minimal 22%. Kelayakan finansial juga dapat dicapai jika terjadi minimal 15% peningkatan produktivitas atau 15% peningkatan harga benih. Penelitian ini menyarankan studi lebih lanjut untuk mengidentifikasi agroekosistem produksi paling ideal berpotensi produktivitas optimal, serta memperbaiki teknologi produksi benih TSS berorientasi peningkatan produktivitas dan efisiensi penggunaan input. Keywordsproduksi benih; benih biji botani bawang; analisis anggaran;  kelayakan finansialAbstractA trial of 1,500 m2 seed production was conducted in the Indonesian Vegetable Research Institute during March-November 2018. The objective was to assess the financial feasibility of True Seed of Shallot (TSS) seed production technology. Farm performance was assessed by using enterprise budget, NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), B/C ratio (Benefit Cost Ratio), and PBP (Pay Back Period). Budget analysis results in (a) production costs of IDR 255,320,280/ ha, (b) revenue-cost ratio of 1.49, (c) 102 kg/ha yield break-even-point, and (d) IDR 1,789,628/kg price break-even-point. Meanwhile, financial analysis based on some predetermined parameters has provided NPV = IDR -108,564,638 (<0), IRR = up to 2% interest rate still shows negative NPV value (<18%), Net B/C Ratio = 0.62 (<1), and PBP = 1.5 years (<3 years). Those criteria suggest that TSS seed production business is not yet categorized as financially feasible. Sensitivity analysis shows that financial feasibility may be achieved if there is minimally 22% reduced cost of production, or 15% increased yield, or 15% increased seed price. Further studies on identifying the most ideal agro-ecosystem with optimal yield potential, and improving TSS technology with an orientation to increasing yield and input-use efficiency are recommended.
Persepsi Petani Sayuran Tentang Dampak Perubahan Iklim di Sulawesi Selatan (Perception of Vegetable Farmers on the Impact of Climate Change in South Sulawesi) Witono Adiyoga; Rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p133-146

Abstract

Walaupun masih terdapat ketidakpastian tentang kapan, bagaimana, dan di mana perubahan iklim akan berdampak negatif terhadap produksi pertanian dan ketahanan pangan, sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa dampaknya terhadap sektor pertanian di daerah tropis akan semakin parah dibandingkan di daerah temperate. Tujuan penelitian adalah mempelajari persepsi petani tentang dampak perubahan iklim terhadap variabilitas cuaca yang terjadi dan dampak perubahan iklim terhadap usahatani. Penelitian survei dilaksanakan pada ekosistem sayuran di dataran tinggi dan rendah Sulawesi Selatan dari bulan Juni hingga Agustus 2012. Pada setiap ekosistem, 110 petani sayuran dipilih secara acak (total = 220 responden). Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden lintas ekosistem dan pola musim mempersepsi tiga jenis kejadian alam akibat perubahan iklim secara signifikan yang menempati tiga urutan tertinggi pada awal musim tanam, yaitu (a) pola curah hujan sangat tidak menentu, (b) suhu udara meningkat, dan (c) musim hujan datang lebih awal, diikuti oleh minggu-minggu kering. Mayoritas responden juga mempersepsi tiga jenis kejadian cuaca ekstrim akibat perubahan iklim signifikannya menempati tiga urutan tertinggi, yaitu (a) sinar matahari sangat terik, (b) gelombang dan temperatur udara panas dan (c) kekeringan. Kebakaran hutan, asap hasil pembakaran bahan bakar oleh industri, asap kendaraan bermotor, dan penggundulan hutan secara konsisten, dikemukakan sebagian besar petani lintas ekosistem dan pola musim sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Sementara itu, separuh lebih responden menyatakan ketidaksetujuan/keragu-raguannya bahwa usahatani sayuran yang dilakukan secara terus menerus, pembakaran limbah tanaman/rumah tangga, penggunaan pupuk/pestisida kimia berlebih, penggunaan kayu bakar, dan penggunaan air irigasi tinggi memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap terjadinya perubahan iklim. Sebagian besar responden mempersepsi tiga dampak perubahan iklim terhadap usahatani yang signifikansinya menempati tiga urutan tertinggi, yaitu (a) risiko kegagalan panen yang semakin tinggi, (b) risiko kerugian usahatani yang semakin tinggi dan berpengaruh terhadap keberlanjutan usahatani, serta (c) suhu yang semakin tinggi menyebabkan peningkatan serangan hama dan munculnya hama baru. Kegiatan edukasi terpadu melalui penyuluhan pertanian maupun sekolah lapang iklim perlu terus dilakukan untuk mengoreksi beberapa perbedaan persepsi tentang penyebab perubahan iklim.KeywordsSayuran; Dataran rendah; Dataran tinggi; Variabilitas iklim; Dampak perubahan iklimAbstractVegetable farmers’ perception of climate change impacts in South Sulawesi. Even though there are still uncertainties regarding when, how, and where the climate change will have a negative impact on agricultural production and food security, most scientists agree that the impact of climate change on agricultural sector is more severe in the tropical regions as compared to the temperate regions. The objective of this study was to examine farmers’ perceptions regarding the impacts of climate change on weather/climate variability and on their vegetable farms. A survey was carried out in lowland and highland vegetable areas of South Sulawesi in June until August 2012. In total, there were 220 respondents randomly selected for interview by using a structured questionnaire. Results suggest that most respondents across different ecosystem and seasonal pattern perceive three climates variability as the most important impacts of climate change i.e. (a) high uncertainty of rainfall pattern, (b) increasing air temperature and (c) earlier start of rainy season followed by dry weeks. Those respondents also perceive three most important extreme weathers, such as (a) intense heat/sun, (b) hot air temperature and waves and (c) long dry season. Forest fire, smoke from industrial fuel burning, smoke from motor vehicles and deforestation are consistently identified as factors that significantly contribute to the existence of climate change. Meanwhile, more than half of respondents are disagree or in doubt that continuous vegetable cultivation, crop/household waste, excessive use of fertilizers, and pesticides, use of cooking woods, and excessive use of irrigation water as factors that contribute to climate change. Most respondents perceive three most important impacts of climate change to their vegetable farms i.e. (a) increasing crop failure risk, (b) increasing financial loss risk that directly affects farm sustainability, and (c) increasing air temperature that tends to increase more severe pest/disease incidence and bring out new pests and diseases. A concerted educative effort through agricultural extension or climate field school should be carried out, especially to correct some misperceptions regarding causes of climate change.
Front Mather Witono Adiyoga
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract