Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PAUL RICOEUR AND THE TRANSLATION-INTERPRETATION OF CULTURES Garcia, Leovino Ma.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.615 KB) | DOI: 10.26593/mel.v23i3.963.325-345

Abstract

Dengan mengelola gagasan Ricoeur tentang ‘Hermeneutics of Self ‘ artikel ini membahas kesadaran tentang pluralitas budaya dan bahasa yang makin nyata. Dalam situasi itu komunikasi makna menuntut ‘penerjemahan’ serentak kewajiban ‘berdukacita’. Dalam kerangka itu identitas bukan lagi soal ‘batas’ melainkan soal interaksi. Identitas mesti dilihat sebagai sesuatu yang tak pernah final, ber-evolusi dalam saling penerjemahan antar bahasa dan budaya. Penerjemahan adalah pertaruhan yang diwarnai ‘dukacita’ sebab penerjemahan identitas kita oleh pihak lain (eksternal) maupun oleh diri sendiri (internal) selalu hanya sampai pada ‘ekuivalensi tanpa adekuasi’, dan kesenjangan itu tak kan pernah teratasi.
PAUL RICOEUR AND THE TRANSLATION-INTERPRETATION OF CULTURES Garcia, Leovino Ma.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v23i3.963.325-345

Abstract

Dengan mengelola gagasan Ricoeur tentang ‘Hermeneutics of Self ‘ artikel ini membahas kesadaran tentang pluralitas budaya dan bahasa yang makin nyata. Dalam situasi itu komunikasi makna menuntut ‘penerjemahan’ serentak kewajiban ‘berdukacita’. Dalam kerangka itu identitas bukan lagi soal ‘batas’ melainkan soal interaksi. Identitas mesti dilihat sebagai sesuatu yang tak pernah final, ber-evolusi dalam saling penerjemahan antar bahasa dan budaya. Penerjemahan adalah pertaruhan yang diwarnai ‘dukacita’ sebab penerjemahan identitas kita oleh pihak lain (eksternal) maupun oleh diri sendiri (internal) selalu hanya sampai pada ‘ekuivalensi tanpa adekuasi’, dan kesenjangan itu tak kan pernah teratasi.