Sortha Simatupang
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Jumlah Populasi dan Varietas Terhadap Produksi dan Keuntungan Usahatani Bawang Merah di Sumatra Utara (Assessment of Population and Varieties Toward Production and Revenue of Shallot Farming in North Sumatra) Sortha Simatupang
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n2.2019.p219-230

Abstract

Produktivitas bawang merah di Sumatra Utara saat ini lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas nasional. Terkait hal tersebut, perlu peningkatan produksi melalui perbaikan teknik budidaya bawang merah. Perbaikan teknik budidaya diawali dengan melakukan pemillihan varietas yang adaptif pada tingkat populasi tinggi di antaranya, yaitu Maja, Bima Brebes dan Mentes. Penelitian ini bertujuan mengetahui teknologi peningkatan produksi dan keuntungan usaha tani bawang merah di Sumatra Utara. Lokasi kegiatan dilaksanakan pada lahan petani dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl., yang terletak di Desa Pancur Batu, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatra Utara pada musim kemarau, bulan Mei hingga Juli 2017. Penelitian ini merupakan super impose dari kegiatan pendampingan pengembangan kawasan Hortikultura di Sumatra Utara. Metode penelitian menggunakan rancangan petak terpisah. Petak utama adalah populasi dan anak petak, yaitu varietas. Perlakuan populasi, yaitu: (a) 175.000 (umum dipakai), (b) 233.333, (c) 311.111, dan (d) 466.667 rumpun/ha. Perlakuan varietas, yaitu varietas Maja, Bima Brebes, dan Mentes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan varietas tidak berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah. Nilai B/C tertinggi diperoleh dari perlakuan populasi 233.333 rumpun/ha, yaitu 2,08, sedangkan B/C populasi umum (175.000 rumpun/ha) adalah 1,46. Untuk mendapatkan keuntungan paling tinggi secara ekonomi dan layak secara teknis pada budidaya bawang merah tujuan umbi konsumsi, direkomendasikan agar menanam dengan populasi 233.333 rumpun per ha dengan pilihan varietas Maja, Bima Brebes atau Mentes.KeywordsBawang merah; Keuntungan; Populasi; Produksi; VarietasAbstract The productivity of shallots in North Sumatra is currently lower than the national productivity. Related to this, it is necessary to increase production through improved shallots cultivation techniques. Improvement of cultivation techniques begins with the selection of adaptive varieties of shallots at high population level including Maja, Bima Brebes, and Mentes varieties. This study aims to determine the technology to increase production and profits of shallot farming in North Sumatra. The location of the activity was carried out on farmers’ land with a hight of 1,340 m.asl, located in Pancur Batu Village, Merek Subdistrict, Karo District, North Sumatra on dry season, may until july 2017. This research was a super impose of the activities of supporting the development of the horticultural area in North Sumatra. The research method used a split plot design. The main plot were population treatments and subplots, namely variety. Population treatments were : (a) 175,000 (commonly used), (b) 233,333, (c) 311,111, and (d) 466,667 clumps /ha; variety treatments were Maja, Bima Brebes, and Mentes. The results showed differences in varieties did not significantly affect to shallot production. The highest of B/C value was obtained by the treatment of the population of 233,333 clumps/ha was 2.08 while the B/C of the general population (175,000 clumps/ha) was 1.46. To get the highest profit economically and technically feasible in the consumption of shallot for tuber consumption, it is recommended that planting with a population of 233,333 clumps per ha with a choice among of Maja, Bima Brebes or Mentes varieties.
Kelayakan Finansial Produksi True Shallot Seed di Indonesia (Studi kasus : Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Jawa Tengah) [Financial Feasibility of True Shallot Seed Production in Indonesia (Case Study : North Sumatera, East Java, and Central Java)] Asma Sembiring; Rini Rosliani; Sortha Simatupang; Paulina Evy R; Sri Rustini
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p289-298

Abstract

Bawang merah merupakan komoditas penting dan bernilai ekonomi tinggi untuk Indonesia. Upaya untuk meningkatkan produktivitas bawang merah sesuai dengan potensi hasilnya terus diupayakan, namun terkendala oleh ketersediaan benih bawang merah bermutu dalam jumlah cukup sepanjang tahun bagi petani. Untuk mengatasi hal tersebut diupayakan dengan memproduksi biji botani bawang merah (true shallot seed =TSS). Penelitian sebelumnya menyatakan penggunaan TSS potensial untuk mengurangi biaya benih dan meningkatkan hasil panen bawang merah. Tujuan penelitian untuk mengetahui kelayakan finansial produksi biji botani bawang merah/TSS di tiga provinsi di Indonesia. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga Desember 2016 di Desa Gurgur, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Tobassa, Sumatera Utara, Desa Tulungrejo Kecamatan Bauji Kota Batu, Jawa Timur, dan di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah. Analisis data menggunakan analisis biaya usahatani dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi TSS di Sumatera Utara dan Jawa Timur memberikan keuntungan yang sangat baik, yakni sebesar 602,7 juta dan 356,3 juta rupiah dengan nilai R/C berturut-turut 3,44 dan 2,63. Sementara itu produksi TSS di Jawa Tengah mengalami kerugian, dengan nilai kerugian sebesar 184,3 juta rupiah dengan nilai R/C 0,41.KeywordsKelayakan finansial; TSS; Produksi bawang merah; Analisis usahataniAbstractShallot is an important crop that has high economic value for Indonesia. Efforts for increasing shallot productivity to fit its potential yield are continuously pursued. However, these efforts are mostly constrained by the availability of high quality shallot bulb seed and its accessibility to be used by farmers along the year. An alternative planting material that recently has been promoted is the use of true shallot seed (TSS). Preliminary findings suggest a promising potential of TSS use because it may not only reduce the seed costs, but also may increase the yield. The objective of this study was to assess the financial feasibility of TSS production in three provinces of Indonesia. The study was conducted from June to December 2016 in (1) Gurgur Village, Tampahan Subdistrict, Tobassa District, North Sumatera, (2) Tulungrejo Village, Bauji Subdistrict Batu, East Java, and in (3) Gumeng Village, Jenawi Subdistrict, Karang Anyar District, Central Java. Data were analyzed by using an enterprise budget method. The results suggest that TSS production in North Sumatera and East Java provides positive profit as much as IDR 602.7 million (R/C = 3.44) and IDR 356.3 million (R/C = 2.63), respectively. Meanwhile, because of unfavorable climatic condition, TSS production in Central Java experiences a loss as much as IDR 184.3 million, with the R/C of 0.41.
Karakterisasi dan Pemanfaatan Plasma Nutfah Jeruk In Situ oleh Masyarakat Lokal Sumatera Utara Sortha Simatupang
Buletin Plasma Nutfah Vol 15, No 2 (2009): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v15n2.2009.p70-74

Abstract

Characterization and utilization of in situ citrus germplasm of collection maintained by local community. This study was aimed at characterizing of in situ citrus germplasm collection and their use. This Study was conducted through interviewing citrus retailers as well as communinity leaders from January- December 2004. There were 33 citrus accescions found in this study. Local communinity utilized citrus in several different ways such as traditional medicine, ingredient of processed food as well as consumed as fresh fruit. Five accescions such as Laukawar, Keprok Sipirok, Boci, Maga, and Keling were sweet and juicy. In addition, Laukawar and Boci, both are seedless. There were four accescions, Andaliman, Purut, Sate, and Gajah having strong citrus scent. Lemon Tea, Nipis, seedless Nipis, Begu, Purut, Sunde, and Sate were used as ingredient of processed food. Gajah, Purut, Pagar, Malem, Kuku Harimau, Kersik, Kapas, Kayu, Puraga, and Kelele were used as traditional medicine. Keling Karo had highest vitamin C content (12 mg/100 mg). Laukawar had the highest total soluble solid. Bunian seemed to be salt tolerant one grown in mangrove area. AbstrakPenelitian bertujuan untuk mendapatkan karakterisasi plasma nutfah jeruk in situ dan pemanfaatannya oleh masyarakat lokal Sumatera Utara. Metode yang digunakan adalah eksplorasi. Wawancara terbuka tanpa kuesioner dilakukan pada pedagang jeruk yang dikros cek dengan para sesepuh masyarakat lokal. Survei dilakukan pada bulan Januari sampai Desember 2004. Dari eksplorasi diperoleh 33 aksesi jeruk di Sumatera Utara yang terpelihara secara in situ. Masyarakat lokal memanfaatkannya sebagai obat tradisional, bahan campuran olahan pangan, dan sebagai buah segar. Lima aksesi mempunyai rasa manis dan berair, yaitu jeruk Laukawar, Keprok Sipirok, Boci, Maga, dan Keling. Laukawar dan Boci adalah jeruk tanpa biji untuk konsumsi segar. Jeruk yang mempunyai aroma sangat kuat adalah Andaliman (skor 9), jeruk Purut, jeruk Sate, dan jeruk Gajah (skor 8). Jeruk olahan untuk campuran pangan, yaitu Lemon Tea, Nipis, Nipis Tanpa Biji, Begu, Purut, Sunde, dan Sate. Jeruk untuk obat tradisional adalah Gajah, Purut, Pagar, Malem, Kuku Harimau, Kersik, Kapas, Kayu, Puraga, dan Kelele. Kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada jeruk Keling Karo (12 mg/100 mg). Jeruk dengan padatan total terlarut tertinggi terdapat pada jeruk Laukawar (15oBrix). Terdapat satu aksesi jeruk yang toleran salinitas, yaitu jeruk Bunian, yang tumbuh di daerah mangrove.