Nirmala Friyanti Devy
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Jl. Raya Tlekung No. 1, Junrejo, Batu, Jawa Timur 65301

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Keragaman Jeruk Gunung Omeh (Citrus nobilis Lour.) di Sumatera Barat Berdasarkan Marka RAPD [The Diversity of Gunung Omeh Citrus (Citrus nobilis Lour.) in West Sumatera Based on RAPD Marker] Nirmala Friyanti Devy; nFN Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n2.2017.p155-164

Abstract

Jeruk siam Gunung Omeh/Gn. Omeh (Citrus nobilis Lour.) merupakan jeruk lokal yang berkembang di seluruh sentra jeruk Sumatera Barat. Namun, buah yang ada di pasar sangat beragam fenotipiknya. Tujuan penelitian adalah untuk mengelompokkan sebaran tanaman jeruk Gn. Omeh yang berada pada empat Kabupaten berdasarkan karakter genetik dan morfologi. Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juni 2016, dengan 21 contoh daun dan buah berasal dari petani di empat kabupaten pengembangan wilayah jeruk Sumatera Barat (Kabupaten Limapuluh Kota, Agam, Solok Selatan, dan Tanah Datar), dan dua contoh daun kontrol masing-masing asal BPMT dan PIT di Kabupaten Limapuluh Kota. Keragaman morfologi daun dan buah dianalisis dengan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis/PCA). Data yang dihasilkan dianalisis lebih lanjut dengan kluster analisis untuk mengamati pengelompokannya. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kemiripan secara genetik 23 contoh jeruk Gn. Omeh yang dianalisis menggunakan dua macam RAPD marker, yaitu OPA 04 dan OPA 18 yang menghasilkan 24 pita, di mana 83,3% adalah polimorfik. Berdasarkan dendrogram yang dihitung menurut UPGMA, 23 contoh daun jeruk secara genetis terbagi menjadi dua kelompok besar. Pada kelompok I, terdapat dua contoh asal Kabupaten Limapuluh Kota, sedangkan 21 contoh sisanya berada pada kelompok II. Pada derajat kemiripan antara 86,5–96%, tanaman PIT mirip dengan A1 dan satu subkelompok dengan S2, A5, T3, T5, dan S1, sedangkan BPMT mirip dengan T4, dan satu subkelompok dengan A4 dan A3. Berdasarkan karakter morfologi pada derajat kemiripan 75%, jeruk Gn. Omeh di Sumatera Barat terbagi menjadi lima kelompok, di mana pada kelompok 1, 3, 4, dan 5 masing-masing adalah contoh L1, T5, S5, dan S2, sedangkan 18 tanaman lainnya masuk di dalam kelompok 2. Dari hasil analisis secara genetik maupun morfologi menghasilkan derajat variasi yang cukup tinggi di antara 23 contoh yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa keragaman buah yang ada diduga disebabkan oleh penggunaan benih serta pengelolaan tanaman yang beragam.KeywordsJeruk (Citrus nobilis Lour.); RAPD; MorfologiAbstractThe Gunung Omeh citrus (Citrus nobilis Lour.) is a local citrus growing throughout the citrus center of West Sumatera. However, the fruits available in the market are very diverse phenotypic. The purpose of this study is to classify the spread of citrus cv. Gn. Omeh derived from four districts based on genetic and morphological characters. The study was conducted from January to June 2016, with 21 of leaf and fruit samples collected from four Citrus District Regional Development farmers in the West Sumatera (Limapuluh Kota, Agam, Solok Selatan, and Tanah Datar). Besides that, control leaf samples derived from Budwood Multiplication Block/BPMT and Single Mother Tree/PIT were used. The morphological diversity both leaves and fruits were analyzed by Principal Component Analysis (PCA). The result showed that the level of genetic similarity in 23 samples of orange Gn. Omeh analyzed using two markers RAPD namely OPA 04 and OPA 018 which generate 24 bands, where 83.3% were polymorphic The resulting data were further analyzed by cluster analysis to observe groupings. Based on the dendrogram calculated according to UPGMA, 23 samples genetically are divided into two major groups. In the first group, there are two samples from Limapuluh Kota, while the remaining 21 samples are in second group. On the degree of similarity between 86.5–96%, PIT similar to the A1 plant and it belong to the same subgroup with S2, A5, T3, T5, S1. While BPMT similar to T4 plant, and it belong to the same subgroup with A4 and A3. Based on morphological characters at a 75% degree of similarity, the Gn. Omeh citrus in West Sumatra is divided into five groups, where the L1, T5, S5, and S2 plant sample belongs to the groups 1, 3, 4, and 5, respectively, while 18 others in Group 2. From the analysis of both genetic and morphological characters, it generates fairly high degree of variation among 23 samples. This shows that the diversity of the marketed is thought to be caused by the use of seed plants and crop cultivated management are diverse.
Pengaruh Penyambungan Plantlet Jeruk Siam Kintamani (Citrus nobilis Lour.) yang Diregenerasi Melalui Embriogenesis Somatik Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Nirmala Friyanti Devy; nFN Yenni; nFN Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n2.2017.p173-184

Abstract

(The Effect of Grafted Kintamani Tangerine Plantlet Derived from Somatic Embryogenesis on its Growth and Production)Plantlet jeruk hasil perbanyakan embriogenesis somatik (ES) in vitro telah banyak dihasilkan. Meskipun demikian, pertumbuhan vegetatif dan generatif di lapang belum dievaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman jeruk hasil sambung dengan plantlet asal ES dibandingkan mata tempel asal BPMT. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Tlekung, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, mulai September 2013 sampai dengan Desember 2016. Materi penelitian adalah tanaman jeruk dengan batang atas asal (a) plantlet hasil regenerasi melalui ES tanpa bagian akarnya dan (b) mata tempel yang berasal dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT), yang masing-masing disambungkan dan ditempelkan dengan batang bawah Japansche Citroen (JC) berumur 8 bulan setelah transplanting. Tanaman hasil sambung berumur 1 tahun dipindah dan ditanam di lapang dengan jarak tanam rapat 1,5 m x 1,5 m. Pengamatan pertumbuhan dilakukan mulai umur 18 – 42 bulan setelah transplanting (BST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman jeruk dengan batang atas hasil ES dapat tumbuh, berkembang, dan berproduksi sama dengan tanaman dengan batang atas asal BPMT. Tinggi tanaman, diameter batang atas, dan diameter batang bawah pada tanaman ES tidak berbeda nyata dengan tanaman BPMT. Tanaman pada dua perlakuan mulai berbunga pada umur 18 BST, dengan jumlah bunga, buah, dan persentase fruitset yang tidak berbeda nyata antarkedua perlakuan, demikian juga pada pembungaan pada tahun berikutnya. Jumlah buah pada tahun ke-2 berbuah (September 2014) dan akhir pengamatan (September 2016) menunjukkan terjadi kenaikan sebesar 215,7% dan 176,1% pada masing-masing perlakuan ES dan BPMT, sedangkan pada tahun ke-4 pembuahan (2016), perlakuan tanaman jeruk hasil ES mempunyai jumlah buah/tanaman dan berat buah total/tanaman lebih banyak secara nyata dibandingkan asal BPMT. Sifat fisik dan kualitas buah (vit C, total keasaman, dan TPT) yang dihasilkan relatif sama. Tanaman jeruk siam Kintamani yang berasal dari plantlet hasil perbanyakan ES in vitro dan disambungkan dengan batang bawah JC dapat tumbuh, berkembang, dan berproduksi dengan normal di lapang.KeywordsSiam Kintamani (Citrus nobilis Lour.); BPMT; Sambung; Tempel; Embriogenesis somatikAbstractThe plantlets derived from citrus somatic embryogenesis (SE) in vitro have been widely produced. However, their vegetative and generative growth in the field has not been evaluated. The aimed of this research was to evaluate the ability of vegetative and generative growth both of SE and Budwood Multiplication Block (BMB) derived citrus plants. The research was conducted in Tlekung Experimental Garden, Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute, from September 2013 to December 2016. The citrus plants derived from (a) root-decapitated plantlets and (b) buds come from BMB that were grafted and budded, respectively on 8 months old JC rootstock. One-year old grafted and budded plants were planted at field using a dense spacing (1.5 m x 1.5 m). The plant growth observation was done at 18–42 months after field transplanting (MAT). The results showed that the SE derived citrus plants could grow, develop, and produce as well as the BMB one. The SE and BMB plant height, scion, and rootstock diameter were not significantly different. All treatment plants were flowering on 18 MAT, the number of flower, fruit, and fruit set percentages were not significantly as well as in the following year. The fruit total in the 2nd year (September 2014) and the end of the observation (September 2016) showed an increase of 215.7% and 176.1% on the both of SE and BMB derived plant, respectively. In the 4th year (2016), the number fruits/plant and total fruit weight/plant were better on SE derived plant than BMB one, however the fruit physical and quality properties produced (vitamin C, total acidity, and TSS) were relatively similar. The Kintamani tangerine citrus plants derived from plantlet that grafted on to JC rootstock could grow develop and produce well in the field.