Zainal Arifin
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kajian Budidaya Kentang Ramah Lingkungan dengan Teknik Konservasi Tanah di Lahan Kering Berlereng (Study of Environmentally Friendly Potato Cultivation with Soil Conservation Techniques in Sloping Upland Area) Zainal Arifin; Imam Sutrisno; Eli Korlina; Ratna Dewi Indriana
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n1.2017.p55-68

Abstract

Penelitian ini bertujuan memperoleh paket teknologi usahatani konservasi kentang yang dapat mengurangi laju erosi dan ramah lingkungan serta mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani kentang.  Lokasi penelitian terletak di sentra produksi kentang lahan kering dataran tinggi dengan ketinggian tempat 1.725 m dpl dan kemiringan lahan 40% di Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, pada MH 2014/2015. Rancangan percobaan secara acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan teknik konservasi tanah meliputi : (1) teknologi petani A (bedengan searah lereng), 125 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 75 kg SP36/ha + 250 kg Ponska/ha + 5 t pupuk organik/ha, (2) teknik konservasi B1 (bedengan kemiringan 30o),  300 kg Urea/ha + 350 kg ZA/ha + 200 kg SP-36/ha + 100 kg KCl/ha + 2,5 t pupuk organik/ha + PHT, (3) teknik konservasi B2 (bedengan kemiringan 30o),  150 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 100kg SP-36/ha + 50 kg KCl/ha + 5 t pupuk organik/ha & Trichoderma + PHT,  (4) teknik konservasi C1 (bedengan searah lereng selang seling guludan kontur), 300 kg Urea/ha + 350 kg ZA/ha + 200 kg SP-36/ha + 100 kg KCl /ha + 2,5 t pupuk organik/ha + PHT, (5) teknik konservasi  C2 (bedengan searah lereng selang seling guludan kontur), 150 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 100 kg SP-36/ha + 50 kg KCl /ha + 5 t pupuk organik/ha & Trichoderma + PHT, (6) teknik konservasi D1 (teras kredit dengan bedengan searah lereng),  300 kg Urea/ha + 350 kg ZA/ha + 200 kg SP-36/ha + 100 kg KCl/ha + 2,5 t pupuk organik/ha +  PHT, (7) teknik konservasi D2 (teras kredit dengan bedengan searah lereng), 150 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 100 kg SP-36/ha + 50 kg KCl/ha + 5 t pupuk organik/ha & Trichoderma + PHT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil umbi tertinggi dengan menerapkan teknik konservasi tanah dijumpai perlakuan bedengan searah lereng selang seling guludan kontur dengan ½ dosis pupuk (150 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 100 kg SP36/ha + 50 kg KCl/ha + 5 t pupuk organik/ha & Trichoderma) sebesar 37,7 t/ha umbi kentang ditambah hasil bawang prei 1,54 t/ha yang ditanam pada areal guludan kontur. Hasil umbi kentang yang tinggi di dominasi oleh ukuran umbi yang besar (> 200 g). Dengan teknik konservasi tanah ini dapat mengurangi laju erosi menjadi  26,98 t/ha (turun 34,31%) sehingga mengurangi kehilangan pupuk kimia yang terbawa erosi, dibanding  penanaman kentang searah lereng (teknologi petani) yaitu erosi 41,07 t/ha. Selain itu, dengan menerapkan teknik konservasi tanah ini diperoleh keuntungan yang tinggi dan R/C ratio 4,25.KeywordsBudidaya kentang; Teknik konservasi; Lahan kering berlereng; Erosi; ProduktivitasAbstractPlanting potatoes in a slope direction is often done on steep terrain so as to have a negative impact of increased run-off and erosion, and accelerate the process of land degradation. For that, required of soil conservation techniques are cheap and easy to implement farmers so that potato crop productivity increases and simultaneously can control the speed of run-off and erosion. This study aims to acquire of conservation farming technology of potatoes which can reduce the rate of erosion and environmentally friendly as be well as able to increase productivity and farm income. The research location was located in the center of upland potato production with an altitude of 1,725 m above sea level and a slope of 40% in Tosari Village, Tosari Subdistrict, Pasuruan District, wet season 2014/2015. The experimental design was a randomized block with seven treatments and four replications. The treatment of soil conservation techniques include : (1) farmer practice (undirectional slope beds), 125 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 75 kg SP36/ha + 250 kg Ponska/ha + 5 ton organic fertilizer/ha, (2) conservation technique of B1 (seedbed slope of 30o), 300 kg Urea / ha + 350 kg ZA/ha + 200 kg SP36/ha + 100 kg KCl/ha + 2,5 ton organic fertilizer/ha, (3) conservation technique of B2 (seedbed slope of 30o), 150 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 100 kg SP36/ha + 50 kg KCl/ha + 5 ton organic fertilizer/ha and Trichoderma, (4) conservation technique of C1 (seedbed contour parallel beds alternated with contour imparallel), 300 kg Urea/ha + 350 kg ZA/ha + 200 kg SP 36/ha + 100 kg KCl/ha + 2,5 ton organic fertilizer/ha, (5) conservation technique of C2 (seedbed contour parallel beds alternated with contour imparallel), 150 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 100 kg SP36/ha + 50 kg KCl/ha + 5 ton organic fertilizer/ha and Trichoderma, (6) conservation technique of D1 (credit terrace with unidirectional seedbed slopes), 300 kg Urea/ha + 350 kg ZA/ha + 200 kg SP36/ha + 100 kg KCl/ha + 2,5 ton organic fertilizer/ha, (7) conservation technique of D2 (credit terrace with unidirectional seedbed slopes), 150 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 100 kg SP36/ha + 50 kg KCl/ha + 5 ton organic fertilizer/ha and Trichoderma. The results showed the application of soil conservation techniques with treatment seedbed contour parallel beds alternated with contour imparallel in the land sloping > 40% accompanied fertilization ½ dose recommendation (150 kg Urea/ha + 200 kg ZA/ha + 100 kg SP 36/ha + 50 kg KCl/ha + 5 ton organic fertilizer/ha and Trichoderma) tuber produce 37.7 ton/ha and leek 1,54 ton/ha were planted in the area of contour ridges and economically beneficial to the R/C ratio of 4.25. Thus soil conservation techniques in seedbed contour parallel beds alternated with contour imparallel can reduce erosion and the use of chemical fertilizers and increasing yields and farm income potatoes.
Pengelolaan Pola Tanam Berbasis Kedelai dan Jagung di Lahan Kering Zainal Arifin; Chendy Tafakresnanto
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p83-93

Abstract

Penelitian bertujuan memperoleh teknologi pola tanam berbasis kedelai dan jagung yang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan usahatani di lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo dan di Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep pada musim kemarau (MK 1 dan MK 2 tahun 2018) dengan luasan 1 ha. Di masing-masing lokasi, penelitian dimulai dengan melakukan pengamatan pada pertanaman petani yang ditanam pada awal musim hujan (MH), dilanjutkan dengan menanam jagung dan kedelai sesuai penelitian pola tanam yang dirancang. Di Situbondo, pada awal MH petani menanam padi tanam pindah (tapin) varietas Ciherang, dan di Sumenep petani menanam jagung varietas BISI 18. Setelah tanaman di MH dipanen di masing-masing lokasi, penelitian dilaksanakan mengikuti pola tanam jagung dan kedelai menggunakan rancangan acak kelompok, 4 perlakuan diulang 6 kali. Pola tanam yang diteliti terdiri atas : a) jagung (75 cm x 20 cm) / / jagung (75 cm x 20 cm), b) jagung double row (100 cmx50cmx20cm)//kedelai(40cmx15cm),c) jagung (160 cm x 40 cm) / kedelai (40 cm x 15 cm), dand)kedelai(40cmx15cm)–jagung(75cmx20 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Situbondo pola tanam padi tapin-jagung//jagung mampu memberikan hasil tertinggi, yakni setara dengan hasil kedelai 12,7 t/ha dengan nilai IIT 0,82. Pada MK 1, sistem tanam jagung double row memperoleh hasil 7,542 t/ha pipilan dan pangkasan daun jagung 7,894 t/ha dengan pendapatan Rp27.581.100/ha dan R/C 2,97. Di Sumenep hasil terbaik diperoleh pada pola tanam jagung-kedelai-jagung, yakni setara dengan hasil kedelai 9,3 t/ha dengan nilai IIT 0,76. Pada MK I sistem tanam tumpangsari kedelai (2,385 t/ha biji) dan jagung (2,775 t/ha pipilan), ditambah hasil pangkasan daun jagung (2,025 t/ha) menghasilkan pendapatan Rp24.326.200 dengan nilai R/C 2,06. 
Pengelolaan Air dan Mulsa pada Tanaman Bawang Merah di Lahan Kering (Water Management and Mulch on Shalot in Dry Land) Zainal Arifin; Moh. Saeri
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n2.2019.p159-168

Abstract

Budidaya bawang merah di lahan kering mempunyai ketersediaan air terbatas sehingga diperlukan pengelolaan air secara efisien. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh interval waktu pemberian air yang efisien dan jenis mulsa yang dapat meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani bawang merah. Penelitian pengelolaan air dengan interval pengairan dan mulsa pada bawang merah varietas Monjung dilaksanakan pada MK II 2016 dalam luasan 2.500 m2 (ukuran petak 15 m x 6 m) di Desa Bunbarat, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, disusun secara acak kelompok faktorial dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: faktor I (mulsa): (a) mulsa plastik, (b) mulsa jerami, dan (c) tanpa mulsa, sedangkan faktor II (pengairan): (a) 1 hari sekali, (b) 2 hari sekali, dan (c) 3 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mulsa jerami disertai pengairan 2 hari sekali memberikan bobot umbi 7,89 ton/ha dan penggunaan air selama pertumbuhan tanaman sebesar 1.230 m3/ha sehingga untuk menghasilkan 1 kg umbi dibutuhkan 156 liter air. Berdasarkan hasil analisis usahatani bawang merah yang diberi mulsa jerami disertai pengairan 2 hari sekali dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan biaya produksi serta mempunyai B/C ratio tertinggi (2,27) sehingga layak secara ekonomi.KeywordsPengelolaan air; Bawang merah; Mulsa; Lahan keringAbstractShallot cultivation in dry land has limited water availability so needed to efficient water management. This study aims to obtain an efficient water time interval and mulch type that can increase production and farming income of shallot. Research on water management with irrigation interval and mulch on shallot of Monjung variety was implemented at dry season year 2016 in the area of 2,500 m2 (the size of plot 15 m long to 6 m width) at Bunbarat Village, Rubaru Subdistrict, Sumenep Regency were arranged of randomized block design by factorial with nine treatments and three replications : I (mulch): (a) plastic mulch, (b) straw mulch, and (c) without mulch, while factor II (irrigation): (a) irrigation every 1 day, (b) irrigation every 2 days, and (c) irrigation every 3 days. The results showed that straw mulch treatment with irrigation every 2 days gave a tuber weight of 7.89 ton/ha and the use of water during plant growth was 1,230 m3/ha so that to produce 1 kg of tubers required 156 liters of water. The analysis of shallot farming that is given mulch straw accompanied by irrigation every 2 days can increase the efficiency of water use and production costs and has the highest B/C ratio (2.27) so that it is economically feasible.
Pengelolaan Pola Tanam Berbasis Kedelai dan Jagung di Lahan Kering Zainal Arifin; Chendy Tafakresnanto
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.152 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p83-93

Abstract

Penelitian bertujuan memperoleh teknologi pola tanam berbasis kedelai dan jagung yang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan usahatani di lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo dan di Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep pada musim kemarau (MK 1 dan MK 2 tahun 2018) dengan luasan 1 ha. Di masing-masing lokasi, penelitian dimulai dengan melakukan pengamatan pada pertanaman petani yang ditanam pada awal musim hujan (MH), dilanjutkan dengan menanam jagung dan kedelai sesuai penelitian pola tanam yang dirancang. Di Situbondo, pada awal MH petani menanam padi tanam pindah (tapin) varietas Ciherang, dan di Sumenep petani menanam jagung varietas BISI 18. Setelah tanaman di MH dipanen di masing-masing lokasi, penelitian dilaksanakan mengikuti pola tanam jagung dan kedelai menggunakan rancangan acak kelompok, 4 perlakuan diulang 6 kali. Pola tanam yang diteliti terdiri atas : a) jagung (75 cm x 20 cm) / / jagung (75 cm x 20 cm), b) jagung double row (100 cmx50cmx20cm)//kedelai(40cmx15cm),c) jagung (160 cm x 40 cm) / kedelai (40 cm x 15 cm), dand)kedelai(40cmx15cm)–jagung(75cmx20 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Situbondo pola tanam padi tapin-jagung//jagung mampu memberikan hasil tertinggi, yakni setara dengan hasil kedelai 12,7 t/ha dengan nilai IIT 0,82. Pada MK 1, sistem tanam jagung double row memperoleh hasil 7,542 t/ha pipilan dan pangkasan daun jagung 7,894 t/ha dengan pendapatan Rp27.581.100/ha dan R/C 2,97. Di Sumenep hasil terbaik diperoleh pada pola tanam jagung-kedelai-jagung, yakni setara dengan hasil kedelai 9,3 t/ha dengan nilai IIT 0,76. Pada MK I sistem tanam tumpangsari kedelai (2,385 t/ha biji) dan jagung (2,775 t/ha pipilan), ditambah hasil pangkasan daun jagung (2,025 t/ha) menghasilkan pendapatan Rp24.326.200 dengan nilai R/C 2,06.