Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS WACANA KRITIS PADA BERITA ONLINE SOLOPOS.COM TENTANG PILKADA BOYOLALI EDISI 9 DESEMBER 2020 Arina Mana Sikana
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jmbsi.v6i1.10037

Abstract

This research is motivated by the discourse on the online mass media solopos.com to determine the existence of power and marginalize someone in the discourse. The purpose of this study is to describe the use of Leeuwen's inclusion theory on political news and to see the alignments of journalists in the 2020 Boyolali regional election in the news maasa online solopos.com edition 9 December 2020 with the news title Said-Irawan Claims to Win the Boyolali Regional Election 2020, Achieves 95.6% of the votes . Data collection was carried out in three stages, (1) reading and understanding discourse on the 9 December 2020 edition of Solopos.com online mass media political news with the aim of obtaining a clear understanding of the content of the discourse to be studied, (2) marking the parts of the discourse that are related to Leeuwen's inclusion theory, and (3) inventory sentences in discourse related to Leeuwen's inclusion theory by sorting and classifying data. Based on the research results, it can be concluded that the discovery of Leeuwen's inclusion theory in an online news entitled Said-Irawan Claims to Win the 2020 Boyolali Regional Election, Gaining 95.6% of the vote. The inclusion theory is defined by three theories from the seven existing theories, namely objectivity-abstraction, nomination-categorization, and nomination-identification. From Leeuwen's three inclusion theories, it was found that there were 15 sentences containing this theory. It can be concluded that in writing criminal news, journalists do not marginalize victims and do not side with actors.
Kesalahan Berbahasa Tataran Fonologi pada Pidato Juru Bicara Penanganan Virus Covid-19 Achmad Yurianto Arina Mana Sikana; Antoni Agus Nugroho; Pasiyah Tahe
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 3, No 1 (2021): JANUARI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v3i1.3185

Abstract

Bahasa memiliki aturan atau kaidah yang semestinya ditaati agar pengguna bahasa tidak semena-mena dalam menggunakannya serta bahasa tersebut digunakan sesuai dengan kaidah kebahasaan yang benar. Pada kenyataannya masyarakat masih banyak yang melakukan kesalahan dalam berbahasa, terutama dalam bidang Fonologi meskipun kaidah kebahasaan sudah ada. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesalahan berhahasa pada tataran fonologi dalam pidato juru bicara penanganan virus Covid-19 oleh Achmad Yurianto.  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah simak dan catat pada tuturan kata dan kalimat yang dilakukan oleh Achmad Yurianto. Sumber data pada penelitian ini diambil dari tuturan langsung pembicara Achmad Yuianto dalam berbagai media masa melalui aplikasi youtube pada tanggal 9 sampai 23 Maret 2020. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya tiga kesalahan berbahasa tataran fonologi yaitu penghilangan fonem baik vokal, konsonan, maupun campuran. Penambahan fonem baik vokal dan konsonan, dan perubahan fonem yang terdiri dari perubahan fonem vokal dan konsonan. Perubahan fonem vokal sendiri terbagi menjadi dua, yakni perubahan satu fonem vokal dan dua fonem vokal sekaligus.