Hudjolly Hudjolly
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dualitas Das Verstehen dan Das Leben dalam Sajak (Sebuah Catatan Hermeneutis Membaca Buku Kumpulan Puisi “Seperti Bukan Cinta” Karya Arip Senjaya) Hudjolly Hudjolly
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1822.841 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v4i1.6239

Abstract

Ruang hidup dapat dimengerti karena adanya kemampuan memahami. Kita bisa memahami ”Seperti Bukan Cinta” dalam seluk beluknya yang berpusat pada keremeh temehan. Di dalamnya ada dualitas das Leben dan das Verstehen. Dualitas ini menghantarkan pembaca untuk mengerti, memahami keremehan peristiwa sebagai bagian dari hidup. Dualitas ini menghantarkan pemahaman pada ruang hidup pengarang “Seperti Bukan Cinta” yang terbagi dalam kuadran-kuadran.
KISAH KALISTA, BAHASA, DAN PANCASILA Hudjolly Hudjolly
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jmbsi.v5i1.8076

Abstract

.. di suatu event “adu” cantik-cantikan, Kalista Iskandar, perempuan berumur 21 tahun, peserta dari Sumatera Barat diminta menyebutkan sila-sila dalam Pancasila …”Nomor satu…nomor kedua…nomor tiga…nomor empat, kemasyarakatan yang dipimpin oleh hikmat/kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan… kelima, Kemanusiaan sosial yang adil dan beradab”. Sejenak, kalimat Kalista menggegerkan dunia maya dan meninggalkan jejak digital yang masih akan terus mendapat viewer.Bagi semua warga negara Indonesia, lima sila dalam Pancasila itu paten, deretan kata per kata yang sakti maka tidak boleh ditukar-tukarkan posisinya. Mungkin Kalista orang pertama yang di depan publik menggunakan sebutan sila dengan nomor, tidak bermaksud menggantikan sih, hanya kosakata ‘nomor’ digunakan menunjuk pada tuturan yang hendak disampaikan tapi tak sampai, maksudnya pasti “nomor satu, berarti sila pertama.” Ehm... tapi begitu tidak boleh, “sila adalah sila dan nomor adalah nomor, itu dua hal berbeda” begitu argumen warga net menyoraki keramaian yang ditimbulkan bahasa Kalista, ehm tuturan Kalista. Apakah nomor dan urutan itu setali dua makna? Ataukah sila menunjuk pada urutan atau menunjuk pada bentuk proposisi itu? Metode apa yang bisa menjawab pertanyaan ini?