Agus Pakpahan
Pusat Penelitian Agro Ekonomi Jl. Jend Ahmad Yani No.70 Bogor

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan Sawah Agus Pakpahan; Affendi Anwar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v8n1.1989.62-74

Abstract

EnglishThe main objective of this research is to seek knowledge about factors effecting the conversion of sawah (rice field) to non sawah uses. A framework of allocation models has been utilized using South Sulawesi and West Sumatera data. The results show that the conversion was determined by monetary value of sawah products which was approximated by value of food crops. It should be realized, however, that values of sawah must be larger than that of monetary values because other values such as conservation of soil and water services was not included in the gross domestic regional bruto.IndonesianSetiap aktivitas ekonomi hampir selalu membutuhkan sumberdaya lahan. Tulisan ini ditujukan untuk menelaah lebih dalam mengenai permasalahan yang berkaitan dengan konversi lahan sawah di propinsi Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat dimana kedua propinsi ini merupakan lumbung beras yang berada di luar pulau Jawa. Dengan menggunakan kerangka analisis model alokasi hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan sawah sangat ditentukan oleh nilai produksi yang diperoleh dari sawah. Akan tetapi perlu disadari bahwa nilai sawah sebenarnya tidak terbatas pada hasil pertanian yang dihasilkan dari sawah tetapi meliputi juga fungsinya sebagai media konservasi tanah dan air dan fungsi sosial lainnya. Manfaat yang disebut terakhir tidak dicerminkan. oleh nilai pasar dari produk pertanian yang dihasilkan dari sawah.
Analisis Fungsi Produksi Usahatani untuk Menunjang Pengembangan Daerah Aliran Sungai Cimanuk Agus Pakpahan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v1n2.1982.50-74

Abstract

IndonesianSekitar 43 persen dari total luas DAS Cimanuk telah dijadikan lahan sawah. Hampir 50 persen sawah tersebut berada pada selang ketinggian 0-50 meter dari muka laut, atau dapat juga dikatakan berada di DAS Cimanuk bagian hilir. Dari sawah seluas itu, 48.8 persen dapat diairi dua kali setahun, 41.6 persen satu kali setahun dan 9.6 persen tadah hujan (Dent et al, 1977). Dalam pada itu, jumlah dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan keterbatasan lahan pertanian telah menyebabkan nisbah lahan pertanian-orang sangat rendah. Selain langka dalam arti kuantitas, kelangkaan lahan di DAS Cimanuk terjadi pula dalam segi kualitas, yang tergambar dalam kemampuan lahan. Di DAS ini, lahan yang terluas adalah Kelas Kemampuan Lahan (KKL) III, IV, dan V, masing-masing seluas 25 persen, 30 persen dan 13 persen dari total area. KKL I tidak dijumpai dan KKL II hanya 0.04 persen dari total area. Total luas DAS Cimanuk adalah 400 705 ha. Dilatarbelakangi oleh keadaan itu, maka pertanyaan yang timbul adalah faktor-faktor apa saja yang strategis untuk ditangani agar dalam keterbatasan tersebut produksi pangan masih tetap dapat ditingkatkan guna mencukupi kebutuhan pangan penduduk. Dalam menganalisa pertanyaan di atas digunakan tiga bentuk hubungan fungsi: (1) fungsi pangkat, (2) fungsi transcendental dan (3) fungsi inversi log-log. Data yang dianalisa terbagi dalam empat golongan: (1) DAS Cimanuk Agregat, (2) KKL III, (3) KKL IV dan (4) KKL V. Pembandingan Nilai Produk Marginal dengan Nilai Korbanan Marginal digunakan untuk menguji tingkat alokasi masukan. Dari hasil penelitian ini diperoleh informasi bahwa model yang sesuai adalah model transcendental, dan masukan usahatani yang memberikan respon terpenting adalah: luas lahan garapan dan setelah itu pupuk anorganik. Jumlah penggunaan tenaga kerja sudah harus dikurangi. Pada KKL yang berbeda respon luas maupun pupuk berbeda pula. Pada KKL III, KKL IV, dan KKL V besaran respon luas garap pada masing-masing KKL tersebut adalah: 0.75, 0.53 dan 0.24; sedangkan respon pupuk anorganik pada masing-masing KKL tersebut adalah: 0.20, 0.16 dan 0.04. Selanjutnya, hasil pembandingan Nilai Produk Marginal dengan Biaya Korbanan Marginal menunjukkan bahwa usahatani sawah pada KKL V adalah tidak efisien, sedangkan pada KKL III dan IV penggunaan masukan masih perlu dikembangkan agar mencapai tingkat  optimal, kecuali untuk masukan tenaga kerja. Untuk dapat menangkap respon dari luas garapan yang cukup tinggi mungkin dapat dilakukan melalui peningkatan intensitas tanam. Hal tersebut dapat dilakukan apabila sistim irigasi yang tersedia memadai. Sedangkan untuk mengamankan irigasi dan melestarikan sumberdaya lahan dan air maka investasi dalam bidang konservasi sumberdaya lahan/tanah dan air di DAS Cimanuk bagian hulu sangat diperlukan.
Analisis Fungsi Produksi Usahatani untuk Menunjang Pengembangan Daerah Aliran Sungai Cimanuk Agus Pakpahan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.779 KB) | DOI: 10.21082/jae.v1n2.1982.50-74

Abstract

IndonesianSekitar 43 persen dari total luas DAS Cimanuk telah dijadikan lahan sawah. Hampir 50 persen sawah tersebut berada pada selang ketinggian 0-50 meter dari muka laut, atau dapat juga dikatakan berada di DAS Cimanuk bagian hilir. Dari sawah seluas itu, 48.8 persen dapat diairi dua kali setahun, 41.6 persen satu kali setahun dan 9.6 persen tadah hujan (Dent et al, 1977). Dalam pada itu, jumlah dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan keterbatasan lahan pertanian telah menyebabkan nisbah lahan pertanian-orang sangat rendah. Selain langka dalam arti kuantitas, kelangkaan lahan di DAS Cimanuk terjadi pula dalam segi kualitas, yang tergambar dalam kemampuan lahan. Di DAS ini, lahan yang terluas adalah Kelas Kemampuan Lahan (KKL) III, IV, dan V, masing-masing seluas 25 persen, 30 persen dan 13 persen dari total area. KKL I tidak dijumpai dan KKL II hanya 0.04 persen dari total area. Total luas DAS Cimanuk adalah 400 705 ha. Dilatarbelakangi oleh keadaan itu, maka pertanyaan yang timbul adalah faktor-faktor apa saja yang strategis untuk ditangani agar dalam keterbatasan tersebut produksi pangan masih tetap dapat ditingkatkan guna mencukupi kebutuhan pangan penduduk. Dalam menganalisa pertanyaan di atas digunakan tiga bentuk hubungan fungsi: (1) fungsi pangkat, (2) fungsi transcendental dan (3) fungsi inversi log-log. Data yang dianalisa terbagi dalam empat golongan: (1) DAS Cimanuk Agregat, (2) KKL III, (3) KKL IV dan (4) KKL V. Pembandingan Nilai Produk Marginal dengan Nilai Korbanan Marginal digunakan untuk menguji tingkat alokasi masukan. Dari hasil penelitian ini diperoleh informasi bahwa model yang sesuai adalah model transcendental, dan masukan usahatani yang memberikan respon terpenting adalah: luas lahan garapan dan setelah itu pupuk anorganik. Jumlah penggunaan tenaga kerja sudah harus dikurangi. Pada KKL yang berbeda respon luas maupun pupuk berbeda pula. Pada KKL III, KKL IV, dan KKL V besaran respon luas garap pada masing-masing KKL tersebut adalah: 0.75, 0.53 dan 0.24; sedangkan respon pupuk anorganik pada masing-masing KKL tersebut adalah: 0.20, 0.16 dan 0.04. Selanjutnya, hasil pembandingan Nilai Produk Marginal dengan Biaya Korbanan Marginal menunjukkan bahwa usahatani sawah pada KKL V adalah tidak efisien, sedangkan pada KKL III dan IV penggunaan masukan masih perlu dikembangkan agar mencapai tingkat  optimal, kecuali untuk masukan tenaga kerja. Untuk dapat menangkap respon dari luas garapan yang cukup tinggi mungkin dapat dilakukan melalui peningkatan intensitas tanam. Hal tersebut dapat dilakukan apabila sistim irigasi yang tersedia memadai. Sedangkan untuk mengamankan irigasi dan melestarikan sumberdaya lahan dan air maka investasi dalam bidang konservasi sumberdaya lahan/tanah dan air di DAS Cimanuk bagian hulu sangat diperlukan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan Sawah Agus Pakpahan; Affendi Anwar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v8n1.1989.62-74

Abstract

EnglishThe main objective of this research is to seek knowledge about factors effecting the conversion of sawah (rice field) to non sawah uses. A framework of allocation models has been utilized using South Sulawesi and West Sumatera data. The results show that the conversion was determined by monetary value of sawah products which was approximated by value of food crops. It should be realized, however, that values of sawah must be larger than that of monetary values because other values such as conservation of soil and water services was not included in the gross domestic regional bruto.IndonesianSetiap aktivitas ekonomi hampir selalu membutuhkan sumberdaya lahan. Tulisan ini ditujukan untuk menelaah lebih dalam mengenai permasalahan yang berkaitan dengan konversi lahan sawah di propinsi Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat dimana kedua propinsi ini merupakan lumbung beras yang berada di luar pulau Jawa. Dengan menggunakan kerangka analisis model alokasi hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan sawah sangat ditentukan oleh nilai produksi yang diperoleh dari sawah. Akan tetapi perlu disadari bahwa nilai sawah sebenarnya tidak terbatas pada hasil pertanian yang dihasilkan dari sawah tetapi meliputi juga fungsinya sebagai media konservasi tanah dan air dan fungsi sosial lainnya. Manfaat yang disebut terakhir tidak dicerminkan. oleh nilai pasar dari produk pertanian yang dihasilkan dari sawah.