Masdjidin Siregar
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jalan A. Yani No. 70 Bogor 16161

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Determinan Efisiensi Teknis Usahatani Padi di Lahan Sawah Irigasi nFN Sumaryanto; nFN Wahida; Masdjidin Siregar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v21n1.2003.72-96

Abstract

EnglishIn line with limitation of government spending to develop both new construction and rehabilitation of rice field, the growth of rice production highly depend on the success of increasing productivity of the existing rice field. It requires improvement of technical efficiency of rice farming. To meet the need, managerial capability of rice farmer must be enhanced. This research aims to identify productivity level, efficiency rating among farmers and its determinant. Results of the study show that the average of technical efficiency achieved by farmers was 0.713 with coefficient of variation 0.184. Using TE effect model, the study found that the main factors determined the rate of efficiency were the role of rice farming on households income, diversity index of cropping pattern of the farmers within the tertiary block, and status of land cultivated. IndonesianMengingat bahwa dalam beberapa tahun mendatang ini harapan untuk melakukan perluasan lahan sawah dalam besaran yang memadai sangat pesimistis, maka dalam jangka pendek pertumbuhan produksi padi akan sangat tergantung pada peningkatan produktivitas. Pertanyaannya adalah apakah kesempatan untuk meningkatkan produktivitas usahatani padi masih cukup terbuka? Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi tingkat pencapaian produktivitas usahatani padi yang telah dicapai oleh para petani beserta sebarannya, serta faktor-faktor utama yang mempengaruhi produktivitas usahatani padi yang dicapai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat efisiensi yang dicapai petani adalah 0,713 dengan koefisien variasi 0,184. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi tingkat pencapaian efisiensi teknis tersebut adalah peranan usahatani sebagai sumber pendapatan rumah tangga petani, indek diversifikasi pola tanam di hamparan blok tersier dimana lahan petani berada, dan status garapan usahatani.
Analisis Daya Saing Usahatani Kedelai di DAS Brantas Masdjidin Siregar; nFN Sumaryanto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.187 KB) | DOI: 10.21082/jae.v21n1.2003.50-71

Abstract

EnglishThe major objective of this paper is to analyze the competitiveness of soybean production in Brantas River Basin, the major soybean producing region in Indonesia. The results indicate that the returns to management is negative. This implies that soybean has no competitive advantage, which is also shown by the values of PCR of about unity. The value of DRC, which is approximately equal to unity, also indicates that soybean has a weak comparative advantage. The results of the break even analysis indicate that soybean would be financially competitive if the world price of soybean at least increases by 8.5%, or the exchange rate of dollar to the local currency at least declines by 9.2%, or soybean productivity at least increases by 27.4% from the base period, ceteris paribus. In other words, there should be a serious attempt to increase the efficiency of soybean crop by increasing productivity through the use of quality seeds and balanced amounts of fertilizers. Besides, research in soybean variety improvement should be intentionally encouraged from now on. Not much can be done from fiscal and monetary policy sides in a gradually more liberalized international trade in the future. IndonesianTujuan utama makalah ini adalah untuk menganalisis daya saing komoditas kedelai di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, yang merupakan daerah utama penghasil kedelai di Indonesia. Hasil analisis memperlihatkan bahwa penerimaan bersih untuk pengelola (returns to management) adalah negatif. Ini berarti bahwa komoditas kedelai tidak memiliki keunggulan kompetitf yang dipertegas lagi oleh nilai PCR sekitar satu. Nilai DRC yang berada disekitar satu juga menunjukkan bahwa komoditas kedelai memiliki keunggulan komparatif yang lemah. Dari analisis titik impas diperoleh kesimpulan bahwa komoditas kedelai akan mempunyai daya saing finansial jika harga kedelai dunia naik paling sedikit 8,5 persen, atau nilai tukar dolar terhadap rupiah paling sedikit turun 9,2 persen atau produktivitas kedelai naik paling sedikit 27,4 persen, ceteris paribus. Dengan perkataan lain harus ada upaya peningkatan efisiensi tanaman kedelai melalui peningkatan produktivitas dengan penggunaan benih bermutu serta pupuk berimbang. Disamping itu, dukungan terhadap penelitian pengembangan varietas kedelai juga harus diutamakan mulai sekarang. Kebijakan fiskal dan moneter tidak banyak yang dapat dilakukan dalam era perdagangan internasional yang semakin liberal ke depan.