Tjetjep Nurasa
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Nilai Tukar Petani Padi di Beberapa Sentra Produksi Padi di Indonesia Tjetjep Nurasa; Muchjidin Rachmat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n2.2013.161-179

Abstract

EnglishContinuity of farming and rice production is determined by rice farmers’ interest and welfare. One of the measurement instruments used are Rice Farmers Terms of Trade (FTT-Rice). Rice Farmers Terms of Trade will encourage farmers to produce rice. In the period of 2006-2008 FTT-Rice in West Java and North Sumatra decreased while that in South Sulawesi increased. Further investigation showed a decrease in FTT - Rice in West Java was caused by a decrease in the FTT-Consumption. On the other hand, rice production cost increased. In North Sumatra, the FTT-Rice decline occurred not only on consumer goods but also on production cost. While in Sulawesi an increase in FTT-Rice was due to the increase in FTT-Rice to all components in the group either consumption or production cost. From the analysis of Subsistence Rice Terms of Trade (FTTS-Rice) showed that the average rice production accounted for 56.42 percent of the farm household expenditures. Food expense was the households’ largest expenditure, while the lowest spending is that for communication. Labor cost was the largest proportion of the production cost, while the cost of other production inputs was relatively small. The FTT-Rice fluctuates monthly, i.e., the lowest was found on April and May along with the period of paddy harvest and lowest price of rice. The highest FTT-Rice took place from December to January during off season. This study implies :(a) increased production of rice was not always followed by an increase in FTT-Rice and it even resulted in a decreased FTT because the measurement was only based on FTT-Rice to price ratio; (b) it is important to maintain effectiveness of the floor price policy for price in order to stabilize the selling price of rice at farm level; and (c) it is necessary to offer credit to farmers, such as warehouse receipt, to encourage farmers to delay rice selling after harvest. Improving the FTT does not depend on the agricultural policy only, but also related with policies of non-agricultural sectors. Floor price policy for rice should be adjusted in accordance with dynamics of consumer product prices.IndonesianKelangsungan usatahani dan produksi padi sangat ditentukan oleh kegairahan dan kesejahteraan petani padi dalam berusahatani padi. Salah satu alat ukur yang dapat dipakai adalah Nilai Tukar Petani Padi (NTP-Padi). Nilai tukar petani padi yang meningkat akan mendorong kegairahan petani dalam berusahatani memproduksi padi. Dalam tahun 2006-2008, NTP-Padi di Jawa Barat dan di Sumatera Utara menurun sedangkan di Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan. Penelusuran lebih lanjut menunjukkan penurunan  NTP-Padi di Jawa Barat terutama disebabkan oleh penurunan NTP-Padi terhadap konsumsi sementara NTPpadi terhadap biaya produksi dan modal cenderung meningkat. Di Sumatera Utara, penurunan NTP-Padi terjadi tidak hanya terhadap barang konsumsi tetapi juga terhadap komponen biaya produksi. Sementara di Sulawesi peningkatan NTP-Padi terjadi karena adanya peningkatan NTP-Padi terhadap semua komponennya baik pada kelompok konsumsi maupun kelompok biaya produksi. Dari analisis Nilai Tukar Subsisten Padi (NTS-Padi) menunjukkan bahwa secara rata-rata usahatani padi memberikan kontribusi sebesar 56,42 persen dalam pemenuhan pengeluaran rumah tangga petani. Pengeluaran untuk makanan merupakan pengeluaran terbesar rumah tangga sedangkan komunikasi merupakan pengeluaran yang terendah. Sementara itu dalam biaya produksi, biaya tenaga kerja merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi usahatani padi, sementara biaya  input produksi lainnya (pajak) relatif kecil. Nilai tukar petani padi  cenderung fluktuatif antar bulan berada paling rendah pada bulan April–Mei sejalan dengan masa panen padi dan harga padi pada nilai yang rendah, sedangkan NTP-Padi tertinggi terjadi pada masa maceklik yaitu bulan Desember-Januari. Kondisi ini memberikan implikasi bahwa: (a) peningkatan produksi petani tidak selalu diikuti oleh peningkatan NTP dan bahkan cenderung berakibat penurunan NTP karena pengukuran NTP hanya didasarkan kepada rasio harga harga, (b) pentingnya menjaga efektivitas kebijakan harga dasar  gabah dalam rangka menjaga stabilitas harga jual padi petani, dan (c) perlunya pengembangan sistem pendanaan untuk penundaan masa penjualan gabah petani. Peningkatan kesejahteraan petani padi  tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dibidang pertanian juga nonpertanian. Untuk itu kebijakan penetapan harga dasar gabah harus selalu disesuaikan sejalan dengan  pergerakan  harga produk konsumsi.
Daya Saing Komoditas Promosi Ekspor Manggis, Sistem Pemasaran dan Kemantapannya di Dalam Negeri (Studi Kasus di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat) Chairul Muslim; Tjetjep Nurasa
Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v29n1.2011.87-111

Abstract

EnglishMangosteen export ranks first in that of fresh fruits. This fruit has comparative and comparative advantages for export markets. The research was conducted in September 2009 in Purwakarta Regency, West Java Province. Objectives this study were: (i) to analyze financial feasibility of mangostene farming, (ii) to analyze comparative and competitive advantages of mangosteen, and (iii) to assess the impacts of government policies and the influence of input and output price changes on the competitiveness of mangosteen in Indonesia. It applied a survey method using structured questionnaires. Primary data were collected from 20 mangosteen farmers, 5 merchants, and 2 exporters. Secondary data were collected from relevant agencies. Comparative and competitive advantages were estimated using a Policy Analysis Matrix (PAM). The results showed that profit of mangosteen farming could be determined after the sixth year after planting with production of 1.2 tons and profit of Rp 1.5 million per hectare. The highest production occurred in the 18th year with average production of 12.6 tons and benefit of Rp 68.5 million per hectare. Fruit production started decreasing in the 24th or 25th year. Results of PCR and DRC analyses showed values each of 0.40 and 0.19 implying that the mangostene farming having competitive and comparative advantages. Government policy on tradable inputs offered incentives to the farmers indicated by NPCI value of 0.76, but it had negative impact on mangostene price with NPCO value of 0.49. The government needs to pay attention to some indicators, such as those of trade and comparative and competitive advantages so that the mangostene farmers may benefit from them and get higher incomes.IndonesianSumbangan ekspor buah manggis beberapa tahun terakhir ini sangat besar dalam rangka meningkatkan devisa negara dan pendapatan petani. Ekspor manggis menempati urutan pertama ekspor buah segar ke mancanegara. Manggis Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang nyata untuk pasar ekspor. Penelitian dilaksanakan pada Tahun 2009 pada bulan Septembar di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah : (i) menganalisis kelayakan finansial usahatani manggis, (ii) menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif manggis, dan (iii) mengkaji dampak kebijakan pemerintah serta pengaruh perubahan harga masukan dan keluaran terhadap daya saing manggis di Indonesia.  Penelitian menggunakan metode survei  terstruktur, wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner.  Data primer dikumpulkan dari 20 petani manggis, 5 pedagang, dan 2 eksportir. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait. Kelayakan finansial usahatani manggis dihitung secara sederhana. Sedangkan keunggulan komparatif dan kompetitif diestimasi dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal tahun memperoleh keuntungan yaitu pada tahun ke 6 dimana produksi mencapai 1,2 ton dengan keuntungan yang dicapai Rp. 1,5 juta per ha. Produksi tertinggi terjadi pada tahun ke 18 yaitu 12,6 ton per ha, dengan keuntungan yang dapat dicapai Rp. 68,5 juta dan mengalami penurunan pada tahun ke 24 hingga 25. Hasil analisis nilai PCR sebesar 0.40 dan DRC 0.19 menyiratkan bahwa sistem komoditi ini juga memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif.  Kebijakan pemrintah pada faktor produksi yang dapat diperdagangkan terbukti memberikan insentif kepada petani manggis seperti diukur dari nilai NPCI  (0,76) kurang 1, dan kebijakan terhadap harga manggis berdampak negatif  dengan nilai NPCO (0,49) lebih kecil dari 1. Untuk kedepannya pemerintah perlu meluangkan perhatiannya sebagai pengambil kebijakan untuk mencermati beberapa indikator antara lain indikator perdagangan, serta indikator keunggulan kompetitif dan komparatif sehingga peluang untuk memanfaatkan perubahan tersebut dapat direalisasikan agar kesejahteraan petani manggis khususnya lebih terjamin.
Daya Saing Komoditas Promosi Ekspor Manggis, Sistem Pemasaran dan Kemantapannya di Dalam Negeri (Studi Kasus di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat) Chairul Muslim; Tjetjep Nurasa
Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v29n1.2011.87-111

Abstract

EnglishMangosteen export ranks first in that of fresh fruits. This fruit has comparative and comparative advantages for export markets. The research was conducted in September 2009 in Purwakarta Regency, West Java Province. Objectives this study were: (i) to analyze financial feasibility of mangostene farming, (ii) to analyze comparative and competitive advantages of mangosteen, and (iii) to assess the impacts of government policies and the influence of input and output price changes on the competitiveness of mangosteen in Indonesia. It applied a survey method using structured questionnaires. Primary data were collected from 20 mangosteen farmers, 5 merchants, and 2 exporters. Secondary data were collected from relevant agencies. Comparative and competitive advantages were estimated using a Policy Analysis Matrix (PAM). The results showed that profit of mangosteen farming could be determined after the sixth year after planting with production of 1.2 tons and profit of Rp 1.5 million per hectare. The highest production occurred in the 18th year with average production of 12.6 tons and benefit of Rp 68.5 million per hectare. Fruit production started decreasing in the 24th or 25th year. Results of PCR and DRC analyses showed values each of 0.40 and 0.19 implying that the mangostene farming having competitive and comparative advantages. Government policy on tradable inputs offered incentives to the farmers indicated by NPCI value of 0.76, but it had negative impact on mangostene price with NPCO value of 0.49. The government needs to pay attention to some indicators, such as those of trade and comparative and competitive advantages so that the mangostene farmers may benefit from them and get higher incomes.IndonesianSumbangan ekspor buah manggis beberapa tahun terakhir ini sangat besar dalam rangka meningkatkan devisa negara dan pendapatan petani. Ekspor manggis menempati urutan pertama ekspor buah segar ke mancanegara. Manggis Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang nyata untuk pasar ekspor. Penelitian dilaksanakan pada Tahun 2009 pada bulan Septembar di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah : (i) menganalisis kelayakan finansial usahatani manggis, (ii) menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif manggis, dan (iii) mengkaji dampak kebijakan pemerintah serta pengaruh perubahan harga masukan dan keluaran terhadap daya saing manggis di Indonesia.  Penelitian menggunakan metode survei  terstruktur, wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner.  Data primer dikumpulkan dari 20 petani manggis, 5 pedagang, dan 2 eksportir. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait. Kelayakan finansial usahatani manggis dihitung secara sederhana. Sedangkan keunggulan komparatif dan kompetitif diestimasi dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal tahun memperoleh keuntungan yaitu pada tahun ke 6 dimana produksi mencapai 1,2 ton dengan keuntungan yang dicapai Rp. 1,5 juta per ha. Produksi tertinggi terjadi pada tahun ke 18 yaitu 12,6 ton per ha, dengan keuntungan yang dapat dicapai Rp. 68,5 juta dan mengalami penurunan pada tahun ke 24 hingga 25. Hasil analisis nilai PCR sebesar 0.40 dan DRC 0.19 menyiratkan bahwa sistem komoditi ini juga memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif.  Kebijakan pemrintah pada faktor produksi yang dapat diperdagangkan terbukti memberikan insentif kepada petani manggis seperti diukur dari nilai NPCI  (0,76) kurang 1, dan kebijakan terhadap harga manggis berdampak negatif  dengan nilai NPCO (0,49) lebih kecil dari 1. Untuk kedepannya pemerintah perlu meluangkan perhatiannya sebagai pengambil kebijakan untuk mencermati beberapa indikator antara lain indikator perdagangan, serta indikator keunggulan kompetitif dan komparatif sehingga peluang untuk memanfaatkan perubahan tersebut dapat direalisasikan agar kesejahteraan petani manggis khususnya lebih terjamin.
Nilai Tukar Petani Padi di Beberapa Sentra Produksi Padi di Indonesia Tjetjep Nurasa; Muchjidin Rachmat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n2.2013.161-179

Abstract

EnglishContinuity of farming and rice production is determined by rice farmers’ interest and welfare. One of the measurement instruments used are Rice Farmers Terms of Trade (FTT-Rice). Rice Farmers Terms of Trade will encourage farmers to produce rice. In the period of 2006-2008 FTT-Rice in West Java and North Sumatra decreased while that in South Sulawesi increased. Further investigation showed a decrease in FTT - Rice in West Java was caused by a decrease in the FTT-Consumption. On the other hand, rice production cost increased. In North Sumatra, the FTT-Rice decline occurred not only on consumer goods but also on production cost. While in Sulawesi an increase in FTT-Rice was due to the increase in FTT-Rice to all components in the group either consumption or production cost. From the analysis of Subsistence Rice Terms of Trade (FTTS-Rice) showed that the average rice production accounted for 56.42 percent of the farm household expenditures. Food expense was the households’ largest expenditure, while the lowest spending is that for communication. Labor cost was the largest proportion of the production cost, while the cost of other production inputs was relatively small. The FTT-Rice fluctuates monthly, i.e., the lowest was found on April and May along with the period of paddy harvest and lowest price of rice. The highest FTT-Rice took place from December to January during off season. This study implies :(a) increased production of rice was not always followed by an increase in FTT-Rice and it even resulted in a decreased FTT because the measurement was only based on FTT-Rice to price ratio; (b) it is important to maintain effectiveness of the floor price policy for price in order to stabilize the selling price of rice at farm level; and (c) it is necessary to offer credit to farmers, such as warehouse receipt, to encourage farmers to delay rice selling after harvest. Improving the FTT does not depend on the agricultural policy only, but also related with policies of non-agricultural sectors. Floor price policy for rice should be adjusted in accordance with dynamics of consumer product prices.IndonesianKelangsungan usatahani dan produksi padi sangat ditentukan oleh kegairahan dan kesejahteraan petani padi dalam berusahatani padi. Salah satu alat ukur yang dapat dipakai adalah Nilai Tukar Petani Padi (NTP-Padi). Nilai tukar petani padi yang meningkat akan mendorong kegairahan petani dalam berusahatani memproduksi padi. Dalam tahun 2006-2008, NTP-Padi di Jawa Barat dan di Sumatera Utara menurun sedangkan di Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan. Penelusuran lebih lanjut menunjukkan penurunan  NTP-Padi di Jawa Barat terutama disebabkan oleh penurunan NTP-Padi terhadap konsumsi sementara NTPpadi terhadap biaya produksi dan modal cenderung meningkat. Di Sumatera Utara, penurunan NTP-Padi terjadi tidak hanya terhadap barang konsumsi tetapi juga terhadap komponen biaya produksi. Sementara di Sulawesi peningkatan NTP-Padi terjadi karena adanya peningkatan NTP-Padi terhadap semua komponennya baik pada kelompok konsumsi maupun kelompok biaya produksi. Dari analisis Nilai Tukar Subsisten Padi (NTS-Padi) menunjukkan bahwa secara rata-rata usahatani padi memberikan kontribusi sebesar 56,42 persen dalam pemenuhan pengeluaran rumah tangga petani. Pengeluaran untuk makanan merupakan pengeluaran terbesar rumah tangga sedangkan komunikasi merupakan pengeluaran yang terendah. Sementara itu dalam biaya produksi, biaya tenaga kerja merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi usahatani padi, sementara biaya  input produksi lainnya (pajak) relatif kecil. Nilai tukar petani padi  cenderung fluktuatif antar bulan berada paling rendah pada bulan April–Mei sejalan dengan masa panen padi dan harga padi pada nilai yang rendah, sedangkan NTP-Padi tertinggi terjadi pada masa maceklik yaitu bulan Desember-Januari. Kondisi ini memberikan implikasi bahwa: (a) peningkatan produksi petani tidak selalu diikuti oleh peningkatan NTP dan bahkan cenderung berakibat penurunan NTP karena pengukuran NTP hanya didasarkan kepada rasio harga harga, (b) pentingnya menjaga efektivitas kebijakan harga dasar  gabah dalam rangka menjaga stabilitas harga jual padi petani, dan (c) perlunya pengembangan sistem pendanaan untuk penundaan masa penjualan gabah petani. Peningkatan kesejahteraan petani padi  tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dibidang pertanian juga nonpertanian. Untuk itu kebijakan penetapan harga dasar gabah harus selalu disesuaikan sejalan dengan  pergerakan  harga produk konsumsi.