Bonar M. Sinaga
Institut Pertanian Bogor, Jl. Raya Darmaga Bogor

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pasar Jagung di Indonesia I. Ketut Kariyasa; Bonar M. Sinaga
Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v22n2.2004.167-194

Abstract

EnglishThe study focused on factors affecting market behavior of corn in Indonesia, and market responses. Data of the study are time series for the period of 1980-2001. Model used in the study was Two-Stage Least Squares  (2SLS). The results revealed that production technology improvement should get priority as the means of increasing corn production. Rupiah exchange rate was the main variable affecting Indonesia’s import volume of corn. Demand for corn for feed production was determined by own price of corn rather than feed price. Corn is inferiod food to most Indonesians. In the long term, world prices of corn will be determined mainly by its supply and demand. On the other hand, domestic price of corn in long term will be determined mainly by world price of corn rather than domestic corn market power.IndonesianPenelitian ini difokuskan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pasar jagung Indonesia, serta tingkat responsif pasar tersebut terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan data time series periode 1980-2001. Pendekatan model ekonometrika persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stage Least Squares (2SLS) telah digunakan untuk menjawab tujuan penelitian ini. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa peningkatan produksi jagung sebaiknya diprioritaskan pada perbaikan teknologi produksi dibanding instrumen lainnya. Nilai tukar rupiah merupakan peubah utama yang berpengaruh terhadap volume impor jagung Indonesia. Permintaan jagung untuk pakan lebih banyak ditentukan oleh harga jagung itu sendiri dibanding harga pakan. Terutama dalam jangka panjang, harga jagung dunia secara kuat akan ditentukan oleh sisi penawaran dan permintaan. Sementara itu, harga jagung domestik dalam jangka panjang lebih banyak akan ditentukan oleh harga jagung dunia dibanding kekuatan pasar jagung domestik.
Analisis Kebijakan Industri Gula Indonesia Wayan R. Susila; Bonar M. Sinaga
Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v23n1.2005.30-53

Abstract

EnglishIn the last decade, Indonesian sugar industry has faced some inter-related problems that have caused a setback of the industries.  Besides inefficiency in farm and plant levels, the declining performance of the industry has been attributed to the inappropriate government policies related to international trade and domestic support. In response to these problems, this study is aimed at evaluating and formulating alternative government policies related to international and domestic market policies. The method used is policy simulation analysis based on econometric model of Indonesian sugar market. The results of this study show that under heavily distorted international market of sugar, policies directly related to farm gate price are more effective in affecting some aspects of Indonesian sugar industry. In this respect, provenue price policy is more effective than tariff-rate quota, import tariff, and input subsidy. Sugar cane smallholders in general are more responsive toward government policies, compared to government-owned estates, and private estates. Policy implication of this study is that to create a fairer playing ground, Indonesian sugar industry still needs some government supporting policies. Provenue price, tariff-rate quota, import tariff, input subsidy, are policies that can be used to achieve the goal. IndonesianPada dekade terakhir, industri gula Indonesia sedang mengalami berbagai masalah yang saling terkait yang mengakibatkan kemunduran industri tersebut. Di samping masalah inefisiensi di tingkat usahatani dan pabrik, penurunan kinerja itu juga disebabkan oleh kebijakan yang kurang memadai, baik kebijakan domestik maupun kebijakan perdagangan internasional. Dalam upaya mengatasi masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk  mengevaluasi kebijakan pemerintah serta merumuskan alternatif kebijakan yang terkait. Metode yang digunakan adalah simulasi kebijakan dalam suatu model ekonometrik industri gula domestik. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam situasi perdagangan yang distortif, kebijakan yang berkaitan langsung dengan harga output lebih efektif dibandingkan kebijakan yang berkaitan dengan input, guna mendukung pengembangan industri gula Indonesia. Kebijakan harga provenue lebih efektif bila dibandingkan dengan tariff-rate quota, tarif impor, dan subsidi input.  Terhadap kebijakan pemerintah, perkebunan tebu rakyat lebih responsif dibandingkan dengan perkebunan milik negara dan perkebunan swasta.  Implikasi kebijakan dari penelitian ini adalah dalam menciptakan medan persaingan yang lebih adil, industri gula Indonesia masih memerlukan dukungan kebijakan pemerintah. Kebijakan harga provenue, impor tarif, tariff-rate quota, dan subsidi input merupakan beberapa pilihan kebijakan guna pengembangan industri gula Indonesia.
Analisis Kebijakan Industri Gula Indonesia Wayan R. Susila; Bonar M. Sinaga
Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.707 KB) | DOI: 10.21082/jae.v23n1.2005.30-53

Abstract

EnglishIn the last decade, Indonesian sugar industry has faced some inter-related problems that have caused a setback of the industries.  Besides inefficiency in farm and plant levels, the declining performance of the industry has been attributed to the inappropriate government policies related to international trade and domestic support. In response to these problems, this study is aimed at evaluating and formulating alternative government policies related to international and domestic market policies. The method used is policy simulation analysis based on econometric model of Indonesian sugar market. The results of this study show that under heavily distorted international market of sugar, policies directly related to farm gate price are more effective in affecting some aspects of Indonesian sugar industry. In this respect, provenue price policy is more effective than tariff-rate quota, import tariff, and input subsidy. Sugar cane smallholders in general are more responsive toward government policies, compared to government-owned estates, and private estates. Policy implication of this study is that to create a fairer playing ground, Indonesian sugar industry still needs some government supporting policies. Provenue price, tariff-rate quota, import tariff, input subsidy, are policies that can be used to achieve the goal. IndonesianPada dekade terakhir, industri gula Indonesia sedang mengalami berbagai masalah yang saling terkait yang mengakibatkan kemunduran industri tersebut. Di samping masalah inefisiensi di tingkat usahatani dan pabrik, penurunan kinerja itu juga disebabkan oleh kebijakan yang kurang memadai, baik kebijakan domestik maupun kebijakan perdagangan internasional. Dalam upaya mengatasi masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk  mengevaluasi kebijakan pemerintah serta merumuskan alternatif kebijakan yang terkait. Metode yang digunakan adalah simulasi kebijakan dalam suatu model ekonometrik industri gula domestik. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam situasi perdagangan yang distortif, kebijakan yang berkaitan langsung dengan harga output lebih efektif dibandingkan kebijakan yang berkaitan dengan input, guna mendukung pengembangan industri gula Indonesia. Kebijakan harga provenue lebih efektif bila dibandingkan dengan tariff-rate quota, tarif impor, dan subsidi input.  Terhadap kebijakan pemerintah, perkebunan tebu rakyat lebih responsif dibandingkan dengan perkebunan milik negara dan perkebunan swasta.  Implikasi kebijakan dari penelitian ini adalah dalam menciptakan medan persaingan yang lebih adil, industri gula Indonesia masih memerlukan dukungan kebijakan pemerintah. Kebijakan harga provenue, impor tarif, tariff-rate quota, dan subsidi input merupakan beberapa pilihan kebijakan guna pengembangan industri gula Indonesia.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pasar Jagung di Indonesia I. Ketut Kariyasa; Bonar M. Sinaga
Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v22n2.2004.167-194

Abstract

EnglishThe study focused on factors affecting market behavior of corn in Indonesia, and market responses. Data of the study are time series for the period of 1980-2001. Model used in the study was Two-Stage Least Squares  (2SLS). The results revealed that production technology improvement should get priority as the means of increasing corn production. Rupiah exchange rate was the main variable affecting Indonesia’s import volume of corn. Demand for corn for feed production was determined by own price of corn rather than feed price. Corn is inferiod food to most Indonesians. In the long term, world prices of corn will be determined mainly by its supply and demand. On the other hand, domestic price of corn in long term will be determined mainly by world price of corn rather than domestic corn market power.IndonesianPenelitian ini difokuskan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pasar jagung Indonesia, serta tingkat responsif pasar tersebut terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan data time series periode 1980-2001. Pendekatan model ekonometrika persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stage Least Squares (2SLS) telah digunakan untuk menjawab tujuan penelitian ini. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa peningkatan produksi jagung sebaiknya diprioritaskan pada perbaikan teknologi produksi dibanding instrumen lainnya. Nilai tukar rupiah merupakan peubah utama yang berpengaruh terhadap volume impor jagung Indonesia. Permintaan jagung untuk pakan lebih banyak ditentukan oleh harga jagung itu sendiri dibanding harga pakan. Terutama dalam jangka panjang, harga jagung dunia secara kuat akan ditentukan oleh sisi penawaran dan permintaan. Sementara itu, harga jagung domestik dalam jangka panjang lebih banyak akan ditentukan oleh harga jagung dunia dibanding kekuatan pasar jagung domestik.