Tasliati Tasliati
Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SEMANTIK PROTOTIPE KATA MENCURI DALAM BAHASA INDONESIA: ANALISIS LINGUISTIK KOGNITIF Tasliati Tasliati
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 6, No 2 (2020): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v6i2.109

Abstract

Abstrak: Kata mencuri perlu diteliti mengingat kata ini berkaitan dengan tindakan hukum yang dapat dikenakan kepada orang yang didakwa melakukannya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kata mencuri dengan memanfaatkan teori semantik prototipe model Linda Coleman dan Paul Kay (1981). Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diisi oleh 40 responden. Analisis data menggunakan metode campuran (mixedmethod), yaitu analisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) prototipe kata mencuri didukung oleh tiga elemen, yaitu (a) me-ngambil barang orang lain tanpa izin; (b) mengetahui bahwa barang itu milik orang lain; dan (c) memanfaatkan barang itu untuk kepentingan pribadi; (2) elemen-elemen yang mendukung makna kata mencuri memiliki kadar yang berbeda: tertinggi b, kemudian c, dan terendah a. Hal itu menunjukkan bahwa faktor kesengajaan adalah elemen yang paling menentukan suatu tindakan dikategorikan benar-benar mencuri. KataKunci: semantik prototipe, kata mencuri, linguistik kognitifAbstract: The word mencuri (steal) needs to be studied because it is related to legal action that can be imposed on people who are charged doing it. This study aims to describe the word mencuri (steal) using the prototype model of Linda Coleman and Paul Kay (1981). Data collection used a questionnaire which was filled out by 40 respondents. Data analysis used mixed method, namely quantitative and qualitative analysis. The results showed that (1) the prototype of the word mencuri (steal) is supported by three elements; (a) taking other people’s belongings without permission; (b) knowing that the item belongs to some-one else; and (c) using the goods for personal gain; and (2) the elements that support the meaning of the word have different levels: the highest is a, then b, and the lowest is c. The results showed that the intentional factor is the most determining element of an action categorized as actually stealing.Keywords: prototype semantic, the word steal, cognitive linguistic
ANALISIS KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA PADA UNGGAHAN DALAM GRUP DARING JUAL-BELI DI KOTA TANJUNGPINANG Tasliati Tasliati
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 2 (2018): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.953 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i2.66

Abstract

This study expects impoliteness on uploads in a group of selling and buying in Tanjungpinang City. The study is conducted to see the impoliteness on uploads using impoliteness theory of Jonathan Culpeper. This study aims to describe impoliteness strategies and factors that influence the impoliteness. Observation by recording and tapping collects the data. The determinant is the intuition of researchers as Indonesian speakers. Data analysis uses a pragmatic equivalent by pragmatic sorting technique and distributional method by direct elements deviding techniques. The results shows that there are three impoliteness strategies found, namely positive impoliteness, negative impoliteness, and pseudo politeness. Impoliteness occurs because of the following factors: expressing anger, fury, or resentment; provoking speech partner reactions; and humiliating or demeaning. AbstrakPenelitian ini menduga adanya ketidaksantunan pada unggahan dalam grup daring jual-beli di Kota Tanjungpinang. Penelitian dilakukan untuk melihat ketidaksantunan dalam unggahan dengan menggunakan teori ketidaksantunan Jonathan Culpeper. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi-strategi ketidaksantunan dan faktor yang memengaruhi ketidaksantunan tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik catat dan sadap. Alat penentunya adalah intuisi peneliti sebagai penutur jati bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan metode padan pragmatis dengan teknik daya pilah pragmatis dan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga strategi ketidaksantunan yang ditemukan, yaitu ketidaksantunan positif, ketidaksantunan negatif, dan kesantunan semu. Ketidaksantunan terjadi karena didorong oleh faktor-faktor berikut: mengungkapkan kemarahan, kegeraman, atau kekesalan; memancing reaksi mitra tutur; dan mempermalukan atau merendahkan.Kata Kunci: ketidaksantunan berbahasa, strategi ketidaksantunan, unggahan, grup daring jual-beli
PERBEDAAN FONOLOGIS BAHASA MELAYU DI DESA CERUK DAN DI PULAU LAUT KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU Tasliati Tasliati
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1650.344 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.39

Abstract

This study aims to describe phonological differences of Malay language in Ceruk village and Pulau Laut, Natuna regency, Riau Islands Province. The data in the form of 200 Swadesh vocabulary was collected by using referring and interview method with the technique of SBLC and recording. Then, the data were analyzed by intralingual matching method with the connecting and comparing technique. The results show that (1) the differences in the form of correspondence are found in two forms, namely perfect correspondence and unperfect correspondence. The perfect correspondences is found in six forms of change: ɛ≈I, o≈U, ɛ≈ə, R≈X, K≈Ɂ, and ə≈a. The unperfect correspondence is found in three forms of change: I≈i, Ø≈X, and t≈d. (2) The differences in the form of variation are found in four forms: (a) the middle rear vowel phoneme becomes the low center vowel (ɔ~a), (b) the addition of one phoneme at the end of a word or protesis (Ø~ə dan Ø~a). (c) the mute phoneme becomes the voiced phoneme (k~g dan p~b), and (d) the addition of one phoneme at the end of a word or paragog (Ø~h dan Ø?). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan fonologis bahasa Melayu di Desa Ceruk dan di Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Data berupa 200 kosakata Swadesh dikumpulkan dengan metode simak dan wawancara dengan teknik simak bebas libat cakap (SBLC), teknik rekam, dan teknik catat. Data selanjutnya dianalisis dengan metode padan intralingual dengan teknik hubung-banding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perbedaan berupa korespondensi ditemukan dalam dua bentuk, yaitu korespondensi sangat sempurna dan korespondensi kurang sempurna. Korespondensi sangat sempurna ditemukan dalam enam bentuk perubahan ɛ≈I, o≈U, ɛ≈ə, R≈X, K≈Ɂ, dan ə≈a. Korespondensi kurang sempurna ditemukan dalam tiga bentuk perubahan: I≈i, Ø≈X, dan t≈d. (2) Perbedaan berupa variasi ditemukan dalam empat bentuk: (a) fonem vokal belakang tengah menjadi vokal pusat rendah (ɔ~a), (b) penambahan satu fonem di akhir kata atau protesis (Ø~ə dan Ø~a), (c) fonem tak bersuara menjadi bersuara (k~g dan p~b), dan (d) penambahan satu fonem di akhir kata atau paragog (Ø~h dan Ø?).