Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

DEIKSIS DALAM NOVEL ELENA KARYA ELLYA NINGSIH Marnetti Marnetti
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 2 (2018): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.984 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i2.63

Abstract

This research focuses on the deixis of persona, place, and time contained in Elena by Ellya Ningsih’s novel published in July 2018. This paper aims to describe the forms and intentions of the use of the persona, place, and time existed in the novel. This research type is qualitative using descriptive methods. Data were analyzed by applying some steps; reducing, classifying, and interpreting. The results of this study indicate that the form and meaning of deixis used is the form of the first single person deixis in the form of the words aku and saya, the first plural persona deviation in the form of our word, kami and kita and the meaning of the role as speaker. The second single person deixis is the word kau, kamu, and anda, the second person person is the deixis, the meaning of the role as the other person. Deixis of the third singular person are ia and dia, the third plural person is mereka, the meaning of the role is what is discussed. Deixis of a place in the form of phrases here and there and their meaning to find out where the speaker is. Time deviation is in the form of phrases this weekend and two more years and their meaning is to show the distance of time when a speaker says. AbstrakPenelitian ini difokuskan pada deiksis persona, tempat, dan waktu yang terdapat pada Novel Elena karya Ellya Ningsih yang diterbitkan pada Juli 2018. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dan maksud pemakaian deiksis persona, tempat, dan waktu yang terdapat dalam novel tersebut. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data dianalisis dengan langkah-langkah; mereduksi, mengklasifikasi, dan menginterpretasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk dan makna deiksis yang digunakan berupa bentuk deiksis persona pertama tunggal berupa kata aku dan saya, deiksis persona pertama jamak berupa kata kami, kita, dan makna perannya sebagai pembicara. Deiksis persona kedua tunggal berupa kata kau, kamu, dan anda, deiksis persona kedua jamak adalah kalian, makna perannya sebagai lawan bicara. Deiksis persona ketiga tunggal adalah ia dan dia, deiksis persona ketiga jamak adalah mereka, makna perannya adalah yang dibicarakan. Deiksis tempat berupa frasa di sini dan di sana, dan maknanya untuk mengetahui tempat pembicara. Deiksis waktu berupa frasa akhir pekan ini dan dua tahun lagi, dan maknanya untuk menunjukkan jarak waktu pandang saat seorang penutur berujar.Kata Kunci: deiksis, bentuk deiksis, makna deiksis, novel Elena
Majas Pada Komentar Warganet dalam Berita “Respons Ahok Disinggung Fadli Zon: Apa Hebatnya Dia?” Marnetti Marnetti
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 6, No 2 (2020): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v6i2.116

Abstract

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk majas yang terdapat pada komentar warganet dalam berita “Repons Ahok Disinggung Fadli Zon: Apa Hebatnya Dia?” (https://news.detik.com). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dianalisis dengan langkah-langkah, yaitu 1) mereduksi komentar-komentar yang tidak termasuk dalam majas apa pun; 2) mengklasifikasikan setiap komentar warganet berdasarkan jenis-jenis majas; dan 3) menginterpretasikan setiap komentar warganet berdasarkan majasnya. Berdasarkan analisis data, ditemukan 4 majas ironi, 26 majas sinisme, dan 20 majas sarkasme. Komentar-komentar tersebut ditujukan kepada Fadli Zon dan Ahok. Penggunaan majas sarkasme yang ditemukan dalam analisis ini berupa perendahan martabat, sumpah serapah, dan caci maki.Kata kunci: majas, komentar, warganet, berita Abstract: This article aims to describe the use of figure of speech contained in netizen’s comment on the news “Respons Ahok Disinggung Fadli Zon: Apa Hebatnya Dia?” (https://news.detik.com) using descriptive qualitative method. The data were analyzed in several steps, namely: 1) reducing the comments that do not belong to any kind of figure of speech; 2) classifying each of the netizen’s comment based on the figure of speech; 3) interpreting each comment based on the figure of speech. Based on the analysis, 4 ironi figure of speech; 26 figure of speech of cynicism, and 20 figure of speech of sarcasm, were found. The comments were addressed to Fadli Zon and Ahok. The purpose of using sarcasm in the comments was for 1) humiliation, 2) profanity, and 3) insult.Keywords: figure of speech, comments, netizen, news
SINDIRAN DAN MAKIAN DALAM UNGGAHAN DI FACEBOOK PASCADEBAT I PILPRES 2019 (Insinuation and Cursing Uploaded on Facebook during the First Post-Debate at Presidential Election 2019) R Saleh; Marnetti Marnetti
SAWERIGADING Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v26i1.721

Abstract

The first debate of the presidential election attracted a lot of attention to internet users and uploaded their comments on social media, one of which is on Facebook. The status and comments uploaded on Facebook are in the form of insinuation, ridicule, and swearing that may violate the law, in particular, defamation. Based on the phenomenon, the study aims 1) to describe the lexical meanings of words used by Facebook users, 2) to describe the grammatical meanings (phrases, sentences, and discourses), which are part of the forensic linguistic study. The research data has collected by using the note-taking method. Data analysis techniques refer to lexical and grammatical semantic theories to obtain the actual meaning of words, phrases, sentences, and discourses from the owners of Facebook. The results of the research indicate that 1) there are 12 accounts of 7 data (screenshot) at Facebook containing insinuation, cursing, and swearing to candidates of the president and vice president 2019 as well as among Facebook users, and 2) words, phrases, sentences, and discourses used by Facebook users, are categorized as defamation and can be used by the authority as the basis for making decisions and giving legal sanctions to perpetrators. Through this research found that there are considerably uploading on Facebook in the form of insinuation, cursing, and swearing conducted by netizens.AbstrakDebat Pilpres tahap I banyak menyisakan perhatian warganet dan mengunggah komentarnya di media sosial, salah satunya facebook. Status dan komentar yang diunggah di facebook banyak berupa sindiran, cemoohan, dan umpatan yang mungkin berpeluang melanggar hukum, terutama defamasi. Berdasarkan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan makna leksikal kata yang digunakan oleh pengguna facebook, 2) mendeskripsikan makna gramatikal (frasa, kalimat, dan wacana) yang merupakan bagian dari kajian linguistik forensik. Data penelitian ini dikumpulkan dengan metode simak catat. Teknik analisis data mengacu pada teori semantik leksikal dan gramatikal untuk memeroleh makna sebenarnya dari kata, frasa, kalimat, dan wacana pemilik akun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) sebanyak 12 akun dari 7 data (hasil tangkap layar) di facebook, berdasarkan makna katanya mengandung sindiran, makian, dan umpatan terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden 2019 serta antarsesama pengguna Facebook, dan 2) kata, frasa, kalimat, dan wacana yang digunakan oleh pemilik akun di facebook dikategorikan sebagai defamasi sehingga dapat dimanfaatkan oleh pihak berwenang sebagai salah satu dasar pengambilan putusan dan pemberian sanksi hukum bagi pelakunya. Melalui penelitian ini ditemukan banyak unggahan di facebook yang berupa sidiran, makian, dan umpatan yang dilakukan oleh warganet.