Dara Windiyarti
Balai Bahasa Jawa Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DISKRIMINASI KELAS DAN GENDER DALAM NOVEL KASTA KARYA WITRI PRASETYO AJI Dara Windiyarti
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.202

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan diskriminasi kelas dan gender dalam novel Kastakarya Witri Prasetyo Aji yang diterbitkan pada tahun 2017 oleh Bhuana Sastra, Jakarta. Tokoh perempuan bernama Ida Ayu Made Maharani (Rani) merupakan subjek yang digunakan pengarang untuk menggugat ketidakadilan atau diskriminasi kelas dan gender yang hidup dalam masyarakat Bali. Diskriminasi kelas dan gender yang dialami tokoh Rani adalah bahwa ia harus meninggalkan kekasihnya yang berbeda kelas (kasta) dan menikah dengan laki-laki yang sederajat demi mempertahankan kadar kebangsawanannya. Namun faktanya, ia harus menderita karena ia adalah perempuan (istri) yang dianggap tidak memiliki hak yang sama dengan laki-laki (suami). Sementara, kadar kebangsawanan juga tidak menjamin kemuliaan moral seseorang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori feminisme. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif analisis dengan pendekatan feminis. Berdasarkan hasil pembacaan kritis dengan pendekatan feminisme kultural diperoleh kesimpulan bahwa perempuan Bali melalui tokoh utama perempuan dalam novel tersebut berupaya melakukan resistensi terhadap dominasi patriarki yang berlaku terhadap diri mereka.  The purpose of this study is to reveal class and gender discrimination in the Kasta novel by Witri Prasetyo Aji published in 2017 by Bhuana Sastra, Jakarta. A female figure named Ida Ayu Made Maharani (Rani) is a subject used by the author to challenge injustice or class and gender discrimination living in Balinese society. Class and gender discrimination experienced by the character Rani is that he must leave his beloved of a different class (caste) and marry a man who is equal in order to maintain his level of nobility. But the fact is, she must suffer because she is a woman (wife) who is deemed not to have the same rights as a man (husband). Meanwhile, nobility also does not guarantee one's moral dignity. The theory used in this research is the theory of feminism. Data collection is done using library techniques. The method used in this study is descriptive analysis with feminist approach. Based on the results of the critical reading using the cultural feminism approach, it was concluded that Balinese women through the main female characters in the novel sought to resist the patriarchal domination that prevailed against them.
Novel Di Bawah Bayang-Bayang Ode karya Sumiman Udu: Makna Simbolik Penolakan Gelar “Ode” Sebagai Status Sosial Tertinggi Orang Buton: Novel Di Bawah Bayang-Bayang Ode Written by Sumiman Udu: The Meaning of Symbolic Rejection of “Ode” Degree As The Highest Social Status of Buton People Dara Windiyarti
Kibas Cenderawasih : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 17 No. 1 (2020): Kibas Cenderawasih, April 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.092 KB) | DOI: 10.26499/kc.v17i1.246

Abstract

The purpose of this study is to describe the symbolic meaning in the novel Di Bawah Bayang-bayang Ode by Sumiman Udu published in 2015. The theory used in this study is symbolic interactional theory. Data collection is done by library techniques. The method used for data analysis is descriptive analysis. This discussion produces the following things. First, the imposition of customs and cultures that are already irrelevant, leading individuals to reject and oppose cultural customs. Second, customary rejection is done by violating norms. Third, customary rejection is done by not doing customary rituals. Fourth, customary rejection is done by removing the title in the name. Fifth, customary rejection is done by pursuing knowledge.