Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

FUNGSI DINDANG DALAM MASYARAKAT BANJAR NFN Hestiyana
Multilingual Vol 13, No 02 (2014): Multilingual, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.179 KB) | DOI: 10.26499/multilingual.v13i02.3

Abstract

AbstractThe aim of the study is to describe the function of Dindang on the society. The method used inthis research is descriptive qualitative method by classified the Dindang based on the functions.Sources of data in this study are Dindang text and also the interview result. Technique of datacollection in this study is using text observation. The data collecting is obtained by collecting,reading, and classifying the function of Banjar oral literature, Dindang. In the data analysistechniques used descriptive analysis, by analyzing one by one according to its text dindang. In thisstudy, there are two functions of Banjar oral literature, Dindang : entertaining and educating thechildren. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan fungsi Dindang dalam masyarakat Banjar.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu denganmenganalisis satu per satu teks Dindang sesuai dengan fungsinya. Sumber data dalam penelitian iniberupa teks-teks kalimat dalam sastra lisan Dindang. Teknik pengumpulan data yang digunakanadalah teknik observasi teks. Pengolahan data dilakukan dengan cara mengumpulkan teks, membacateks, dan mengklasifikasikan fungsi Dindang dalam masyarakat Banjar. Hasil pembahasanmenunjukkan bahwa terdapat dua fungsi Dindang dalam masyarakat Banjar, yaitu untuk hiburan dansebagai alat pendidikan anak.
PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM WACANA HUMOR KISAH-KISAH SARAWIN NFN Hestiyana
UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1, (2016)
Publisher : Balai Bahasa Kalimatan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.808 KB) | DOI: 10.26499/und.v12i1.544

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kerja sama dalam wacana humor kisah-kisah Sarawin. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini dilakukan tiga langkah kerja, yaitu tahap penyediaan data; tahap analisis data; dan tahap penyajian hasil analisis data. Dalam penyediaan data dilakukan pemilihan objek penelitian, yaitu Kisah-Kisah Sarawin Cerita-Cerita Humor Tokoh Legendaris Dalam Bahasa Banjar oleh Syamsiar Seman. Dalam penyediaan data juga digunakan teknik catat, yaitu memilih teks dan mencatat data-data yang mengandung unsur pelanggaran prinsip kerja sama. Pada tahap analisis data, tuturan-tuturan yang mengandung unsur pelanggaran prinsip kerja sama diklasifikasikan berdasarkan bentuk-bentuk pelanggaran prinsip kerja sama. Hasil analisis data yang digunakan untuk memaparkan pelanggaran prinsip kerja sama ialah dengan metode informal, dengan penyajian berbentuk uraian kalimat. Dari hasil pembahasan ditemukan pelanggaran prinsip kerja sama, berupa pelanggaran maksim kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Pelanggaran terhadap maksim kuantitas berupa pemberian kontribusi yang berlebih dari Sarawin serta tidak sesuai dengan yang diharapkan Kuntulir Belanda dan orang-orang yang menghadiri acara Maulid. Pelanggaran terhadap maksim kualitas berupa tuturan yang tidak sebenarnya diujarkan oleh Sarawin kepada istrinya dan teman-teman Sarawin. Kemudian, pelanggaran terhadap maksim relevansi berupa  tuturan yang diujarkan oleh Sarawin tidak relevan seperti yang diharapkan orang tua Sarawin. Pelanggaran maksim relevansi yang tidak ada hubungannya dengan konteks juga terdapat dalam tuturan Tuganal kepada Sarawin. Selanjutnya, pelanggaran terhadap maksim cara berupa tuturan yang tidak jelas dan mengalami kekaburan makna yang dituturkan oleh istri Sarawin kepada Sarawin serta tuturan Sarawin kepada anak Patuha. Semua bentuk pelanggaran prinsip kerja sama dalam wacana humor tersebut menyebabkan munculnya kelucuan atau kejenakaan.Kata kunci:  Wacana humor, tuturan, pelanggaran, prinsip kerja sama Abstract: This study aimed to describe the form of violation of the principle of cooperation in discourse Sarawin humor stories. This research uses descriptive method with qualitative approach. In this study three working steps, namely the step of providing data; data analysis stage; and the stage presentation of the results of data analysis. In the provision of election data was the object of study, namely Stories Stories Sarawin Humor Legendary Figures in Banjar language by Syamsiar Seman. In the provision of engineering log data is also used, namely selecting the text and record data that contain elements of violation of the principle of cooperation. At this stage of data analysis, speech-speech that contains elements of violation of the principle of cooperation is classified based on the violation of the principle forms of cooperation. The results of the analysis of the data used to expose violations of the principle of cooperation is the informal method, with the presentation of the form of the sentence description. From the discussion found violations of the principles of cooperation, such as violation of the maxim of quantity, quality, relevance, and how. Violation of the maxim of quantity the form of contributions in excess of Sarawin and not as expected Kuntulir Dutch and the people who attended the event Mawlid. Violation of the maxim of quality in the form of speech that is not actually uttered by Sarawin to his wife and friends Sarawin. Then, a violation of the maxim of relevance in the form of speech uttered by Sarawin irrelevant as expected parents Sarawin. Violations relevance maxim that has nothing to do with the context of the speech is also available in Tuganal to Sarawin. Furthermore, a violation of the maxims of the way in the form of speech that are not clear and experiencing meaning vagueness manifested by Sarawin to Sarawin wife and child utterances Sarawin Patuha. All forms of violation of the principle of cooperation in the discourse of humor that led to the emergence humor or wit.Key words: Discourse humor, speech, violation of the principle of cooperation
IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM TRANSAKSI JUAL BELI DI PASAR HEWAN WAGE TULAKAN NFN Hestiyana
UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2, (2016)
Publisher : Balai Bahasa Kalimatan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.646 KB) | DOI: 10.26499/und.v12i2.555

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implikatur percakapan yang digunakan oleh penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli di Pasar Hewan Wage Tulakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data  dalam penelitian ini adalah  bahasa  lisan yang  dituturkan oleh penjual dan pembeli yang sedang melakukan transaksi jual beli di Pasar Hewan Wage Tulakan. Dalam penyediaan data digunakan metode simak, baik simak libat cakap atau simak bebas libat cakap dan  teknik catat. Pada tahap analisis data, tuturan antara penjual dan pembeli diklasifikasikan berdasarkan penggunaan implikatur percakapan. Setelah dilakukan penelitian secara mendalam, pada saat transaksi jual beli berlangsung antara penjual dan pembeli sering menggunakan implikatur percakapan. Bentuk implikatur percakapan yang digunakan, yaitu: implikatur percakapan dalam kalimat perintah, implikatur percakapan dalam kalimat berita, dan implikatur percakapan dalam kalimat tanya.Kata kunci: Pragmatik, implikatur percakapan, kalimat perintah, kalimat berita, kalimat tanya Abstract: This study aimed to describe conversational implicatures used by the seller and the buyer in the sale and purchase transactions in the Market Wage Animal Tulakan. This research uses descriptive method with qualitative approach. Sources of data in this study is the spoken language spoken by sellers and buyers who are buying or selling in the Market Wage Animal Tulakan. In the method of providing data used refer to, either proficient or refer see involved capably and techniques involved free record. At this stage of data analysis, speech between the seller and the buyer are classified based on the use of conversational implicature. After in-depth research, at the time of sale and purchase transactions take place between sellers and buyers often use conversational implicature. Forms of conversational implicatures used: conversational implicatures order to form a sentence, the sentence shaped conversational implicature news, and conversational implicatures shaped interrogative sentence.Key words: Pragmatics, conversational implicature, imperative sentences, sentence news, interrogative sentence
RITUAL ADAT NGUNDANG DAYAK HALONG : MENANAMKAN KARAKTER BANGSA DAN MELESTARIKAN BUDAYA DAERAH NFN Hestiyana
TELAGA BAHASA Vol 7, No 1 (2019): TELAGA BAHASA VOL.7 NO.1 TAHUN 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36843/tb.v7i1.36

Abstract

Ngundang traditional rituals are one cultural heritage of the Dayak Halong people which continues to be maintained and carried out in traditional rituals. In the Dayak Halong indigenous people, there are several traditional rituals: inviting, namely ngundang baharin malem manta, ngundang baharin malem mandruu, ngundang wadian malem manta, ngundang wadian malem mandruu, ngundang palas kapateian, and ngundang palas nimbuk. This study aims to describe the preservation of regional culture in traditional rituals ngundang Dayak Halong as a means of instilling national character. The method used in this study is a qualitative descriptive method. This research data in the form of oral speeches in traditional rituals ngundang. In collecting data techniques used observing, recording, and interviewing. Analyzing is done with understanding, interpretation, and meaning, then they are presented in the form of description. From the results of the study, it is found that the preservation of regional culture in traditional rituals ngundang Dayak Halong as a means of instilling national character through values as follows: (1) religious, (2) honest, (3) tolerance, (4) discipline, (5) love for the homeland, (6) care for the environment, (7) social care, and (8) responsibility. Keywords: ngundang rituals, Dayak Halong, national character, preservingRitual adat ngundang merupakan warisan budaya leluhur masyarakat Dayak Halong yang terus dipelihara dan dilaksanakan dalam setiap ritual. Pada masyarakat adat DayakHalong, terdapat beberapa ritual adat ngundang, yakni ngundang baharin malem manta, ngundang baharin malem mandruu, ngundang wadian malem manta, ngundang wadian malem mandruu, ngundang palas kapateian, dan ngundang palas nimbuk. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelestarian budaya daerah dalam ritual adat ngundang Dayak Halong sebagai sarana menanamkan karakter bangsa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif  kualitatif. Data penelitian ini berupa tuturan-tuturan lisan dalam tata ritual adat ngundang. Dalam pengumpulan data, digunakan teknik simak, catat, dan cakap. Penganalisisan dilakukan dengan pemahaman, interpretasi, dan pemaknaan, kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi. Dari hasil penelitian ditemukan pelestarian budaya daerah dalam ritual adat ngundang Dayak Halong sebagai sarana menanamkan karakter bangsa dilakukan melalui nilai-nilai sebagai berikut: (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) cinta tanah air, (6) peduli lingkungan, (7) peduli sosial, dan (8) tanggung jawab. Kata kunci: ritual, ngundang, Dayak Halong, karakter bangsa, pelestarian
TINDAK TUTUR PENYIDIK DALAM INTEROGASI KASUS KDRT (KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA) DI POLRESTA BANJARMASIN NFN Hestiyana
Kadera Bahasa Vol 9, No 1 (2017): Kadera Bahasa
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.684 KB) | DOI: 10.47541/kaba.v9i1.2

Abstract

This study discusses the form of investigative speech acts in interrogation cases of domestic violence in Polresta Banjarmasin.This research focusing on the pragmatic domain aims to describe the form of investigative speech acts in interrogatingcases of domestic violence in Polresta Banjarmasin. The method used is descriptive method with a qualitative approachbecause the data obtained in the form of text of the Minutes of Examination (BAP) sourced from the jurisdiction ofPolresta Banjarmasin. The source of this research data is the BAP in the case of domestic violence in the jurisdiction ofPolresta Banjarmasin in December 2016, while the data in this research is in the form of investigator’s speech ininterrogation in the case of domestic violence. The investigators’ texts in the interrogation are contained in the victimwitness BAP, suspect BAP, and witness BAP. Data were collected by using techniques, namely: (1) observation, (2)documentation study, and (3) interview. The result of the research shows that investigation act in interrogation in BAPcase of KDRT in jurisdiction of Polresta Banjarmasin found three forms of speech acts used by investigator, that is: (1)speech act representative, (2) speech act directive, and (3) acts expressive. The categories of functions that emerged in thisstudy were (1) speech act representative function states, reporting function, demanding function, function of giving testimony,recognizing function, and show function; (2) speech acts urgent function directive, suggesting function, and requestingfunction; and (3) expressive speech acts blame function. From the results it is known that the most widely used speechactors are assertive speech acts with six function categories, followed by the use of directive speech acts with three functioncategories, and the least found use of expressive speech acts with one function category. This research may serve as areference for further research on pragmatic and linguistic forensic studies with the aim of developing applied linguisticscience.Keywords: speech AbstrakPenelitian ini membahas bentuk tindak tutur penyidik dalam interogasi kasus Kekerasan Dalam RumahTangga (KDRT) di Polresta Banjarmasin. Penelitian yang memfokuskan pada ranah pragmatik inibertujuan mendeskripsikan bentuk tindak tutur penyidik dalam interogasi kasus KDRT di PolrestaBanjarmasin. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif karenadata yang diperoleh berupa teks Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang bersumber dari wilayah hukumPolresta Banjarmasin. Sumber data penelitian ini yaitu BAP pada kasus KDRT di wilayah hukumPolresta Banjarmasin bulan Desember tahun 2016, sedangkan data dalam penelitian ini berupa tuturantuturan penyidik dalam interogasi pada kasus KDRT. Tuturan-tuturan penyidik dalam interogasi tersebutterdapat dalam BAP saksi korban, BAP tersangka, dan BAP saksi. Data dikumpulkan denganmenggunakan teknik, yaitu: (1) observasi, (2) studi dokumentasi, dan (3) wawancara. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tindak tutur penyidik dalam interogasi yang terdapat dalam BAP kasus KDRTdi wilayah hukum Polresta Banjarmasin ditemukan tiga bentuk tindak tutur yang digunakan penyidik,yaitu: (1) tindak tutur representatif, (2) tindak tutur direktif, dan (3) tindak tutur ekspresif. Kategorifungsi yang muncul dalam penelitian ini ialah (1) tindak tutur representatif fungsi menyatakan, fungsimelaporkan, fungsi menuntut, fungsi memberikan kesaksian, fungsi mengakui, dan fungsi menunjukkan;(2) tindak tutur direktif fungsi mendesak, fungsi menyarankan, dan fungsi meminta; dan (3) tindaktutur ekspresif fungsi menyalahkan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa tindak tutur yangpaling banyak digunakan penyidik adalah tindak tutur asertif dengan enam kategori fungsi, diikutioleh penggunaan tindak tutur direktif dengan tiga kategori fungsi, dan yang paling sedikit ditemukanpenggunaan bentuk tindak tutur ekspresif dengan satu kategori fungsi. Penelitian ini dapat menjadiacuan bagi penelitian selanjutnya pada kajian pragmatik dan linguistik forensik dengan tujuanpengembangan keilmuan linguistik terapan.