AbstractIn the process of communication, politenes is the important aspect in life to create the goodcommunication among the speaker and listener. Politeness Strategy is applied to respect the others.In other way, the politeness concept sometimes does not applied proportionally in communication.Observing the case of politeness in using Bugis language in the society of the Regency of Sinjai, thispaper has aim to (1) describe the politeness language type in Bugis Society of the Regent of Sinjaiand (2) describe the realization of politeness linguistic strategy in Bugis Society of the Regency ofSinjai. The applied method is pragmatics based on situation and context which is observed by socialsemiotics aspect. The result of analysis shows that the type of linguistic politeness in Bugis society inthe Regency of Sinjai are using affixation proclitic morphem ta, pronominal enclitique ta, ki’, ni’,honorific vocabulary iye, tabe, taddampenga. The realization of politeness linguistic strategy Bugissociety in the Regent of Sinjai found in the pragmatics types in some maxims that are wisdom,humble, the acceptance of humble/sympathy and the realization and implication of siri’ culture whichis realized on the standard ethic concept and linguistic politeness, self-actualization, personal image,courage, solidarity, and cooperation. AbstrakDalam suatu proses komunikasi, kesantunan merupakan aspek penting dalam kehidupan untukmenciptakan komunikasi yang baik antarpeserta tutur. Strategi kesantunan digunakan untuk lebihmenghargai orang lain. Meskipun demikian, konsep kesantunan tidak teraplikasi secara proporsionaldalam suatu komunikasi. Dengan mengangkat kasus kesantunan berbahasa Bugis masyarakatKabupaten Sinjai, penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk kesantunan dalamberbahasa masyarakat Bugis di Kabupaten Sinjai dan (2) mendeskripsikan wujud strategi kesantunanberbahasa masyarakat Bugis di Kabupaten Sinjai. Metode yang digunakan adalah pendekatanpragmatik berdasarkan konteks dan situasi yang ditinjau dari aspek semiotik sosial. Hasil analisismenunjukkan bahwa bentuk kesantunan berbahasa masyarakat Bugis di Kabupaten Sinjai, yaitupenggunaan afikasasi morfem proklitik ta, enklitik pronomina ta, ki’, ni’, kosakata honorifik iye,tabe, taddampengaka. Wujud strategi kesantunan berbahasa masyarakat Bugis di Kabupaten Sinjaiditemukan ragam pragmatik dalam beberapa maksim, yaitu maksim kebijakan, kemurahan,penerimaan kerendahan hati/simpati dan realisasi, dan implikasi budaya siri’ yang terwujud dalamkonsepsi nilai dasar etika dan kesopanan berbahasa, aktualisasi diri, citra diri, keberanian, solidaritas,dan kerja sama.