Moulidvi Rizki Permita
Gadjah Mada University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENAMAAN PASAR TRADISIONAL SEBAGAI IDENTITAS SURABAYA Moulidvi Rizki Permita
Multilingual Vol 20, No 1 (2021): Multilingual
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/multilingual.v20i1.192

Abstract

Surabaya merupakan kota dengan mobilitas yang tinggi. Hal tersebut menyebabkan Surabaya lekat dengan kehadiran pasar, baik modern maupun tradisional. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan identitas Surabaya melalui penamaan pasar tradisional, karena nama-nama tersebut tampak sebagai pemandangan kota. Pemerolehan data pada penenelitian ini dilakukan dengan mengkases situs resmi PD Pasar Surya Surabaya. Data diolah dengan menjabarkan masing-masing unsur penyusunnya. Selanjutnya, data dianalisis berdasarkan pemilihan kosakata. Hasil penelitian menunjukan bahwa penamaan pasar tradisional tersusun dari Unsur Generik dan Unsur Spesifik. Kuantitas kehadiran Unsur Generik dan Unsur Spesifik bervariasi. Beberapa pasar tradisional memiliki satu Unsur Spesifik. Namun, ditemukan juga pasar tradisonal yang menyematkan dua Unsur Spesifik. Hal ini dilakukan untuk memberikan pembeda dengan tempat yang telah ada sebelumnya. Sementera itu, penamaan pasar tradisional kerap menggunakan kosakata yang merefleksikan nama daerah letak pasar tersebut. Selain itu, kosakata pada Unsur Spesifik ditemukan juga sebagai penjelasan spesifikasi sifat dan arah pasar tersebut.
EUFEMISME PADA MAKIAN SURABAYAAN Moulidvi Rizki Permita
Widyaparwa Vol 48, No 1 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.561 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i1.296

Abstract

People of Surabaya experience stereotype towards their utterances, especially they are in Yogyakarta-Surakarta areas. Even more, there is an article assumed that Javanese language with Surabaya dialect is not appropriate to be spoken in Surakarta. This research aims to change the stereotype by exposing swear words in Javanese language that went through euphemism. Collecting data process has done by two methods, directly involved in the utterances and observed to instans message of Surabayanese. Data collection were about swear words that keeps spoken by Surabayanese with the range age of 20-30 years old and minimum of the bachelor degree holder. The data obtained were then analyzed using phonetic theory and code switching. The result of this research shows that Surabayanese have done euphemism in swear words by: 1) disguising the sound, such as changing and replacing few sounds like vocals or consonants, 2) switching to bahasa Indonesia and English is presumed to be prestige and superior. Euphemism is used because Surabayanese want to show identity and solidarity, but still want to appreciate the interlocutor.Masyarakat Surabaya terkenal dengan ujaran yang kasar, bahkan terdapat penelitian yang mengungkapkan bahwa bahasa Jawa dialek Surabaya merupakan bahasa yang tidak layak dan kurang baik dituturkan di Surakarta (Solo). Penelitian ini hadir sebagai usaha menolak pandangan tersebut dengan memaparkan beberapa kosa-kata makian dalam bahasa Jawa dialek Surabaya yang mengalami proses kebahasaan eufemisme. Data diperoleh dengan metode simak libat cakap dan wawancara terhadap penutur asli. Dari hasil analisis ditemukan bahwa beberapa makian mengalami perubahan bunyi ke arah bunyi-bunyi bahasa Jawa dialek Solo-Yogyakarta dan campur kode ke bahasa yang lebih superior, yakni bahasa Indonesia. Eufemisme yang terjadi pada makian bahasa Jawa dialek Surabaya lebih banyak diujarkan dalam bentuk sapaan. Hal ini dilakukan karena masyakarat Surabaya ingin menjunjung tinggi karakteristik kesolidaritasan dalam bahasanya namun tetap menghargai mitra tutur.