Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS ELABORATION LIKELIHOOD MODEL DALAM KALIMAT PERSUASI KAMPANYE PRESIDEN 2019 DI FACEBOOK NFN Indrawati
UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2019): UNDAS
Publisher : Balai Bahasa Kalimatan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.019 KB) | DOI: 10.26499/und.v15i2.1741

Abstract

Facebook is a tool for effective and efficient persuasion with fast time and relatively inexpensive cost for campaigns. This research aims to reveal some types of sentence persuasion, through the elaboration analysis of likelihood model on Facebook This research uses qualitative content analysis methods. Qualitative content analysis is a systematic analysis to analyze the content of messages and to process messages that can not be separated from the interests of the message maker. The data the authors take in this study is data contained on Facebook from February to April 2019. The Data in this study is a sentence that has a persuasion message on Facebook. The data sources used in this research are sourced from direct observation on social media Facebook which is then researcher Screenshoot. Data analysis is conducted through observation, grouping, identifying, analyzing data, and concluding research analysis results.  Based on the results of the study, there are several types of persuasion sentences, namely: (1) A strong persuasion sentence, which is a strong persuasion sentence has an explicit call to action, usually accompanied by data and facts; (2) A neutral persuasion sentence, which is a persuasion sentence whose contents do not change our attitude or behavior to a friend who has a different choice than ours;  (3) A weak persuasion sentence, i.e. a persuasion sentence done implicitly (expressed) or indirectly; and (4) A side persuasion sentence, which is a sentence influenced by things like the repetition of a highly credible spokesman to convince others.
Refleksi Budaya Banjar dan Dayak dalam Novel Jendela Seribu Sungai Karya Miranda Seftiana dan Avesina Soebli (Kajian Etnolinguistik) NFN Indrawati
UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Vol 16, No 2 (2020): UNDAS
Publisher : Balai Bahasa Kalimatan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/und.v16i2.2839

Abstract

Masyarakat Banjar dan Dayak masih memegang teguh budaya mereka masing-masing dan diikuti sampai sekarang. Bagaimana budaya itu direfleksikan oleh para tokoh dalam novel Jendela Seribu Sungai menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan budaya Banjar dan Dayak yang direfleksikan dalam novel Jendela Seribu Sungai karya Miranda Seftiana dan Avesina Soebli dikaji dari pendekatan etnolinguistik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan tahapan membaca, menginventarisasi, mereduksi, menganalisis, dan terakhir memberi simpulan. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa refleksi budaya Banjar dan Dayak dalam novel Jendela Seribu Sungai dapat dilihat dari tradisi dan adat kebiasaan masyarakat Banjar dan Dayak yang masih dilaksanakan;, ungkapan dan peribahasa yang menjadi pedoman hidup masyarakat Banjar dan Dayak; ritual dan kepercayaan yang masih diyakini; permainan tradisional yang masih dimainkan oleh masyarakat Banjar dan Daya;, makanan  tradisisonal yang menjadi ciri khas masyarakat Banjar dan Dayak; serta mantra atau doa yang masih dibaca dalam setiap prosesi upacara. Banjar and Dayak communities uphold their cultures and they still follow them until now. How that culture is reflected by the characters in the novel Jendela Seribu Sungai becomes an issue in this study. This research aims to describe Banjar and Dayak culture reflected in the novel Jendela Seribu Sungai by Miranda Seftiana and Avesina Soebli and it is reviewed from ethnolinguistics approach. The methods used in this study are qualitative descriptive methods by reading the novel Jendela Seribu Sungai, inventorying data, reducing data, analyzing data, and giving conclusion. From the results of this study it can be concluded that the reflections of Banjar and Dayak culture in the novel Jendela Seribu Sungai displays various traditions and customs of Banjar and Dayak communities and it still implemented; phrases and proverbs that become the guidelines of Banjar and Dayak people; rituals and beliefs that are still believed; traditional games that are often played by Banjar and Dayak people; food that becomes the characteristic of Banjar and Dayak people; and also spells or prayers that are still read in each ceremonial procession.   
Leksikon Nama Hewan dan Tumbuhan pada Peribahasa Bakumpai: Kajian Semantik Kognitif NFN Indrawati
UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2021): UNDAS
Publisher : Balai Bahasa Kalimatan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/und.v17i2.3895

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian tentang peribahasa Bakumpai yang berupa pepatah dan perumpamaan berkaitan dengan penggunaan leksikon nama hewan dan tumbuhan. Tujuan dari penelitian ini, yaitu:  1) menemukan penggunaan leksikon nama hewan dan tumbuhan dalam peribahasa berupa pepatah dan perumpamaan Bakumpai, 2) menemukan intepretasi leksikon nama hewan dan tumbuhan dalam peribahasa berupa pepatah dan perumpamaan Bakumpai. Data tertulis diambil dari buku Bahasa Bakumpai Struktur dan Identitasnya karya M. Hatta Baduani. Selanjutnya data diklasifikasikan berdasarkan leksikon nama hewan dan tumbuhan. Analisis data menggunakan metode intepretatif dengan teori semantik kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penggunaan leksikon nama hewan dalam peribahasa berupa pepatah dan perumpamaan Bakumpai, yaitu:  manuk‘ayam’, asu‘anjing’, baui‘babi’, buayi‘buaya’, burung, ikan, pilanduk‘kancil, barangkatak‘katak’, kambing, bekel‘kera’, kukang, kerbau, musang, cacing, tasak‘cecak’, bajang‘rusa’, dan handipe‘ular’. Sementara itu, leksikon nama tumbuhan yang digunakan dalam peribahasa berupa pepatah dan perumpamaan Bakumpai, yaitu: enyuh’nyiur’, alang-alang, dan  tamparanjang. Intepretasi makna leksikon peribahasa Bakumpai berupa pepatah dan perumpamaan yang menggunakan nama hewan dan tumbuhan yaitu, pepatah dan perumpamaan yang menggambarkan sifat, perilaku, dam fisik manusia, baik sifat , perilaku, fisik yang baik maupun sifat, perillaku, fisik yang tidak baik.