Sri Wahyu Nengsih
Balai Bahasa Kalimantan Selatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TATANGAR SEBAGAI WARISAN NILAI-NILAI BUDAYA BANJAR Sri Wahyu Nengsih
UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Vol 14, No 2, (2018)
Publisher : Balai Bahasa Kalimatan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.389 KB) | DOI: 10.26499/und.v14i2.1151

Abstract

Abstrak: Tatangar Banjar sebagai salah satu folklor sebagian lisan di Kalimantan Selatan. Tatangar berupa pengetahuan mengenai mimpi, alam, tata tingkah laku, ciri fisik yang dianggap memiliki pertanda oleh masyarakatnya. Tatangar memiliki beragam nilai kearifan lokal mayarakat pemiliknya. Tatangar sebagai warisan nilai-nilai budaya Banjar. Namun sayang, seiring waktu tatangar yang sarat pengetahuan, sebagian mulai ditinggalkan masyarakat pemilikinya. Penelitian ini membahas tentang gambaran tatangar Banjar sebagai warisan nilai-nilai budaya Banjar. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan tatangar Banjar sebagai warisan nilai-nilai budaya Banjar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka. Data bersumber pada buku Tatangar atau Wahana Banjar tahun 2009 yang ditulis oleh Yayuk, at al., dan diterbitkan oleh Balai Bahasa Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tatangar sebagai warisan nilai-nilai budaya Banjar meliputi: nilai budaya dalam hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan masyarakat, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan sesama manusia.Kata Kunci: tatangar, masyarakat banjar, budayaAbstract: Tatangar Banjar is on of folklore in Sauth Kalimantan’s oral tradition. Tatangar is knawledge abaut dream, nature, attitude, physical characteristic that consider to have meaning by the society. Tatangar has several local wisdoms for it society. It’s Banjar heritage. Unfortunately, as the time goes by tatangar was left by its society. This study discuss abaut tatangar Banjar as the heritage of Banjar culture. The aim of this study is to describle tatangar Banjar as the haritage of Banjar culture. It is qualitative study using descriptive method. The data are gained through library research. The data source are taken from tatangar or wahana Banjar book year 2009 written by Yayuk with friends, and published by Balai Bahasa Banjarmasin. The result shows that tatangar as the heritage of Banjar culture values includes: cultural values in human relations with God, human relations with society, human relations with nature, human relations with themselves, human relations with fellow human beings.Key words: tatangar, banjar society, culture.
KEARIFAN LOKAL DALAM LEGENDA KEAGAMAAN MASYARAKAT BANJAR Sri Wahyu Nengsih
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 10, No 1 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.629 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v10i1.8395

Abstract

Local Wisdom In The Banjar Community Religious Legends. The purpose of this study is to reveal the local wisdom of the Banjar people in the religious legend of the Banjar community. This research was conducted using a semiotic approach with a descriptive type of research. This research data in the form of words, sentences, and expressions in the religious legend of the Banjar community. The data source of this research is the book "Datu-Datu Famous South Kalimantan" by Tim Sahabat. the results of this study indicate that local wisdom in the religious legend of the Banjar community is related to human relations with God, namely the declaration of a stable war against the Dutch, the construction of mosques and surau, resistance to the enemies of Allah Almighty; related to human relations with himself, namely studying in boarding schools to improve ability, policy as a Sultan, the passion for studying. related to human relations with the community, namely community loyalty, togetherness in the struggle, defeating the Netherlands, the upheaval of the situation in the Banjar kingdom; related to human relations as a family member with another family, namely the deciding lineage, the child's obedience to his mother; related to human relations with the environment or nature, namely the battle on Martapura, the destruction of nature as a Dutch war strategy. the Dutch tactics took control of the Coal mine. Key words: local wisdom, banjar, religious legend, semiotics Abstrak Kearifan Lokal dalam Legenda Keagamaan Masyarakat Banjar. Tujuan Penelitian ini ialah untuk mengungkapkan kearifan lokal masyarakat Banjar dalam legenda keagamaan masyarakat Banjar. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan semiotik dengan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian ini berupa kata, kalimat, dan ungkapan dalam legenda keagamaan masyarakat Banjar. Sumber data penelitian ini ialah buku “Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan” karya Tim Sahabat. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lokal dalam legenda keagamaan masyarakat Banjar terkait hubungan manusia dengan Tuhan, yaitu pernyataan perang sabil terhadap Belanda, Pembangunan masjid dan surau, perlawanan terhadap musuh Allah Swt.; terkait hubungan manusia dengan dirinya sendiri, yaitu belajar di pesantren untuk meningkatkan kemampuan, kebijakan sebagai Sultan, semangat untuk menuntut ilmu. terkait hubungan manusia dengan masyarakat, yaitu loyalitas masyarakat, kebersamaan dalam perjuangan, mengalahkan Belanda, pergolakan situasi di kerajaan Banjar; terkait hubungan manusia sebagai anggota keluarga dengan keluarga yang lain, yaitu garis keturunan yang menentukan, kepatuhan anak kepada ibunya; terkait hubungan manusia dengan lingkungan atau alam, yaitu pertempuran di bumi Martapura, pengrusakan alam sebagai strategi perang Belanda. siasat Belanda menguasai tambang Batu Bara. Kata-kata kunci: kearifan lokal, banjar, legenda keagamaan, semiotik