Ismon L
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat Jalan Raya Padang - Solok KM 40, Sukarami GN Talang Solok. Kotak Pos 34 Padang-25001

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBAIKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI PADA LAHAN SAWAH BERKADAR BESI TINGGI Ismon L; Azwir ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 3 (2010): November 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n3.2010.p%p

Abstract

Improvement of Paddy Cultural Practices in High Iron Soil. Productivity of rice on the high iron soilremain low at about 2,5 t GKP/ha. It is caused by inapproriate management, limited tolerant varieties, and lessoptimal planting system and fertilizing. The objective of the experiment were to observe the performances of somevarieties by using technology of Lado-21 pakage and to analyze financial feasibility on irigated rice field withhigh iron content, and to determine of planting system for each varieties that more applicable for high iron soilwith LADO-21 technology. The experiment was conducted in the farmer field at Sitiung II block D Koto SalakVillage, Koto Baru Sub-District, Dharmasraya Regency, West Sumatera on irigated land with high iron contentfrom Januari to Mei 2007. Six varieties were evaluated for their performance in to planting system (directseedingbroadcat and direct seeding using seeder). In each planting system the varieties (Ciujung, Ciherang, IR 66, BatangPiaman, and Batang Lembang) were arranged in Randomized Completely Block Design with four replications. Theso called Lado-21 water management was imposed on planting system and varieties. With this water management,the land was maintained in aerobic condition for 21 days after palnting, and was kept at field capacity conditionin two weeks with the interval of two weeks. The conventional cultural practice was used as control. The resultsshowed that application of Lado-21 increased production of rice from 44,5 to 121%, depend on varieties andaplicable planting system. Batang Piaman gave the higt yield (7,2 t roughrice/ha) with the direct planting system(broadcast). The system also gave the benefit of Rp.14,477,675/ha with R/C 3,73. Batang Lembang using directseeder system gave the yield 7,1 t roughrice /ha and the income of Rp.14,496,225 /ha. Ciherang using direct seedersystem gave the yield of 6,9 t roughrice /ha and the income of Rp.14,075,475/ha with R/C 3,90. The farmersystem with local variety only gave the yield at 3256 kg GKP/ha and income Rp.3,339,000/ha with R/C 1,59.Key words : rice varieties, planting system, iron toxicity, economic analysis. Produktivitas padi sawah pada lahan-lahan sawah berkadar besi tinggi sangat rendah dengan rata-ratahasil hanya 2,5 t GKP/ha, disebabkan cara pengelolaan lahan yang kurang tepat, terbatasnya pilihan varietasyang toleran, cara tanam dan pemupukan yang belum tepat. Tujuan penelitian adalah untuk : 1) Melihatkeragaan masing-masing varietas melalui penerapan teknologi Lado-21 serta kelayakan ekonomis pada lahansawah berkadar besi; 2) Menentukan cara tanam yang cocok untuk masing-masing varietas pada lahan sawahberkadar besi dengan penerapan teknologi introduksi Lado-21. Penelitian dilaksanakan pada lahan petani SitiungII Blok D Desa Koto Salak, Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat pada lahan irigasiberkadar besi tinggi dari bulan Januari sampai Mei 2007. Penelitian terdiri dari dua cara tanam yaitu sebarPerbaikan Teknologi Budidaya Padi Pada Lahan Sawah Berkadar Besi Tinggi (Ismon L dan Azwir)223benih langsung (SBL) dan tanam benih langsung menggunakan alat tanam (Atabela). Pada masing-masing caratanam diuji enam varietas yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok 4 ulangan. Varietas yang diuji yaituCiujung, Ciherang, IR 66, Batang Piaman dan Batang Lembang dengan menerapkan paket teknologi Lado-21(Lingkungan Akar Dioksidasi selama 21 hari). Penerapan teknologi lado-21 yaitu tanah diolah sempurna dapatsecara kering atau basah, saat tanam dalam keadaan lembab (aerobic moisture rezyme) digenangi paling cepatsetelah tanaman berumur 21 hari, dan dipertahankan dalam kapasitas lapang selama dua minggu dengan intervaldua minggu. Sebagai pembanding adalah paket teknologi dan varietas yang biasa digunakan petani (paket petani)dengan cara tanam sebar langsung (Tabela). Hasil peneltian menunjukkan bahwa penerapan teknologi Lado-21meningkatkan hasil pada sawah berkadar besi tinggi sebesar 44,5 sampai 121% tergantung varietas dan caratanam yang digunakan. Batang Piaman memberikan hasil tertinggi (7,2 t GKP/ha) dengan cara tanam sebarlangsung dengan tingkat keuntungan Rp.14.477.675 /ha dengan R/C 3,73. Batang lembang memberikan hasilyang lebih tinggi dengan cara tanam menggunakan alat tanam benih langsung (Atabela) yaitu 7,1 t GKP/hadengan tingkat keuntungan Rp.14.496.225 /ha. Hasil varietas Ciherang lebih tinggi dengan Atabela (6,9 t GKP/ha)dengan tingkat keuntungan Rp.14.075.475 /ha dengan R/C 3,90. Hasil yang diperoleh dengan teknologi petanimenggunakan varietas lokal hanya 3,3 t GKP/ha dengan tingkat keuntungan Rp.3.339.000 /ha dengan R/C 1,59.Kata kunci : Varietas padi, cara tanam, keracunan besi, analisis ekonomi
KAJIAN PEMUPUKAN FOSFOR PADA TIGA TINGKAT STATUS FOSFOR TANAH TERHADAP TANAMAN PADI SAWAH DI KABUPATEN DHARMASRAYA SUMATERA BARAT Ismon L
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n1.2016.p%p

Abstract

ABSTRACT Study of P Fertilization on Three Levels of Soil P Status Towards Lowland Paddy Field in the Dharmasraya District, West Sumatra Province. Based on phosphorus (P) status map (1: 250,000), from the total area of paddy soils in West Sumatra (225,165 ha), about 37,389 ha (16.6%) shows low level of P status, while 95,983 ha (42.6%) and 91,793 ha (40.8%) show medium and high P status, repectively. To obtain the specific fertilization rate based on the type of soil, it is necessary to study the effect of P fertilization and its residual effect on the high P status of lowland paddy soil. The research objective was to determine the optimum rate of P fertilizer on the three level of P status of paddy soils (low, medium, high) towards lowland paddy field in the production center area located in Dharmasraya district, which has Typic Hapludults soil type. Research had been done at three locations (low, medium, and high P status). The first planting season tested five levels of P fertilizer rates. The rates were 18, 36, 72, and 114 kg P2O5 per ha in three P status (low, medium, high) using a Randomized Completely Block Design with four replications. Based on the sufficiency and balance of P in the soil, the optimum rates of P fertilizer for each P status (low, medium and high) were 88.58 kg P2O5/ha; 74.86 kg P2O5/ha; and 0 kg P2O5/ha, repectively. Keywords: fertilizer, paddy, phosphorusABSTRAKBerdasarkan peta status fosfor (P) tanah sawah skala 1:250.000, luas lahan sawah di Sumatera Barat yaitu 225.165 ha dengan tingkat kandungan hara fosfor (P) tergolong rendah seluas 37.389 ha (16,6%); sedang seluas 95.983 ha (42,6%); dan tinggi seluas 91.793 ha (40,8%). Untuk mendapatkan dosis pemupukan spesifik lokasi berdasarkan jenis tanah perlu dilakukan penelitian pemupukan P. Tujuan penelitian untuk menentukan dosis optimum pemupukan P pada berbagai status P tanah sawah di kawasan sentra produksi padi sawah Kabupaten Dharmasraya dengan jenis tanah Typic Hapludults. Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi (status P-rendah, P-sedang, dan P-tinggi), menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan yang diuji pada setiap kelas status hara P adalah lima tingkat takaran pupuk P, yaitu 0, 18, 36, 72, dan 114 kg P2O5/ha dengan 4 ulangan. Hasil maksimum yang dapat dicapai dengan pemberin pupuk P untuk ketiga status P rendah 4.128 kg GKG/ha, P sedang 4.010 kg GKG/ha, P tinggi 4.196 kg GKG/ha. Berdasarkan kecukupan dan keseimbangan hara P dalam tanah, takaran optimum pupuk P untuk masing-masing status P (rendah, sedang dan tinggi) 88,58 kg P2O5/ha; 74,86 kg P2O5/ha; dan 0 kg P2O5/ha. Kata kunci: padi sawah, pemupukan, fosfat