Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Pengembalian Wilayah Nusa Tenggara Timur Sebagai Sumber Ternak Sapi Potong Dwi Priyanto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n4.2016.p167-178

Abstract

ABSTRACTEast Nusa Tenggara (NTT) in the 1998 was able to supply beef cattle with minimum body weight of 250 kg to Java. This capacity, however, decreases today due to the some contraints faced. Pasture is a comparative advantage for grazing system. However, quality of the pasture has declined, and rice intensification policy has reduced grazing areas. The cases of livestock theft are also high which will decrease farmers interest to rearing cattle. Calf mortality is high and slaughtering productive cows is still occurred whichresulted in decreasing beef cattle population. Policy measures to push NTT as a source of beef cattle include pasture management and improvement and application of integrated paddy-cattle to anticipate the reduction of grazing areas in spuring the carrying capacity. Cattle securing is required to avoid theft. Control policies on slaughtering of productive cows are needed through institutional development by the local government. Decreasing calf mortality rates with no shepherd and addition of feed based on local resources are needed. Furthermore, improvement of beef cattle genetic quality through natural mating with the provision of superior male, and development of snapping estrus and artificial insemination are required. These strategies will be able to push increasing beef cattle population in NTT, therefore NTT would revive as a supplier of beef cattle to Java Island.Keywords: Beef cattle, regional development, East Nusa TenggaraAbstrakProvinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 1980-an merupakan pemasok ternak sapi potong ke Pulau Jawa dengan bobot badan minimal 250 kg/ekor. Namun, kemampuan tersebut makin menurun karena berbagai kendala yang dihadapi. Padang penggembalaan merupakan keunggulan komparatif dengan sistem pemeliharaan digembalakan. Namun, kualitas padang penggembalaan makin menurun, selain kebijakan intensifikasi tanaman padi yang berdampak terhadap berkurangnya area penggembalaan. Kasus pencurian ternak yang tinggi akan menurunkan minat peternak dalam usaha ternak. Kematian anak sapi yang masih tinggi dan adanya pemotongan sapi betina produktif akan mengganggu program peningkatan populasi sapi di NTT. Langkah kebijakan untuk memacu NTT kembali sebagai sumber ternak sapi potong di antaranya adalah perbaikan padang penggembalaan dan pengelolaannya dan penerapan model integrasi padi-sapi untuk mengantisipasi berkurangnya area penggembalaan dan meningkatkan daya dukung pakan. Jaminan keamanan ternak diperlukan akibat kasus maraknya pencurian, karena sapi adalah aset utama petani dalam memenuhi ekonomi keluarga. Kebijakan pengendalian pemotongan sapi betina produktif dapat dilakukan melalui pengembangan kelembagaan yang tepat oleh Pemda. Kematian anak sapi dapat diturunkan dengan tidak mengikutkan anak dalam penggembalaan. Perbaikan kualitas genetik dilakukan melalui kawin alam dengan pejantan unggul, maupun pe-ngembangan gertak berahi dan inseminasi buatan. Strategi ini diharapkan mampu memacu peningkatan populasi sapi potong dan mengembalikan peran NTT sebagai pemasok sapi ke Pulau Jawa.
Strategi Pengembangan USaha Ternak Sapi Potong dalam Mendukung Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014 Dwi Priyanto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n3.2011.p108-116

Abstract

Laju permintaan daging sapi meningkat tajam seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, perbaikan pendapatanper kapita, dan perubahan selera konsumen. Namun, sampai saat ini Indonesia masih merupakan negara netimportir daging sapi karena 35% pasokan dipenuhi dari impor. Oleh karena itu, upaya mencapai swasembada dagingsapi dan kerbau (PSDSK) tahun 2014 difokuskan pada pengembangan usaha peternakan rakyat dengan memanfaatkansumber daya lokal. Strategi untuk mendukung PSDSK meliputi pengembangan sentra-sentra produksi sapi potongdan penggalian sumber pakan (padang penggembalaan), khususnya untuk usaha pembibitan, serta pengembanganaspek teknis dan teknologi, yang meliputi penyelamatan sapi betina produktif untuk meningkatkan populasiternak, menunda pemotongan ternak untuk mencapai bobot potong yang optimal, memperpendek jarak beranak(calving interval) untuk efisiensi reproduksi, dan penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) untuk memperolehbobot badan yang tinggi. Keempat komponen tersebut mampu memberi kontribusi terhadap produksi daging sapisebesar 58,43% dari target swasembada 400.000 t/tahun, dengan menerapkan pola integrasi dan inovasi kelembagaan.Kebijakan pemerintah dengan mengendalikan impor daging dan sapi bakalan berperan penting pula dalam melindungipeternakan rakyat. Koordinasi antarinstitusi pusat dan daerah sangat diperlukan dalam implementasi program dilapangan, termasuk pemantauan dan evaluasi secara periodik.