Yati Supriati
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEANEKARAGAMAN ILES-ILES (Amorphophallus spp.) DAN POTENSINYA UNTUK INDUSTRI PANGAN FUNGSIONAL, KOSMETIK, DAN BIOETANOL Yati Supriati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n2.2016.p69-80

Abstract

Iles-iles (Amorphophallus spp.) memiliki keanekaragaman yang tinggi, tercatat ada 200 spesies di dunia,  menyebar terutama di Asia, yakni di Tiongkok, Vietnam, Indonesia, dan Thailand masing-masing 15, 21, 24, dan 53 spesies. Namun, hingga saat ini baru tiga spesies yang sudah diusahakan di Indonesia, yaitu Amorphophallus companulatus (Roxb.), A. variabilis Blume, dan  A. oncophyllus Prain ex Hook.f.  synonym A. moelleri  Blume. Iles-iles mempunyai nilai ekonomi karena umbinya mengandung glukomanan, suatu senyawa polisakarida jenis hemiselulosa yang bersifat hidrokoloid, larut dalam air, jernih, rendah kalori, dan bebas dari gluten. Kandungan glukomanan pada iles-iles, A. konjac, A. oncophyllus, dan A. variabilis masing-masing 64, 55, dan 44%. Dalam industri pangan, glukomanan digunakan sebagai bahan pengental, pem-bentuk gel, pengemulsi, dan penstabil. Sebagai sumber pangan fungsional, glukomanan berperan antara lain dapat mengontrol kadar lipida dan gula darah pada penderita diabetes melitus tipe 2, mengurangi obesitas, mencegah dan menghambat kanker, serta menurunkan gejala klinis divertikulosis. Pada industri kosmetik, tepung konjak digunakan untuk membuat spon pembersih wajah dan kulit yang sangat halus dan bersifat agak alkali untuk membersihkan noda dan debu berminyak. Manfaat lain dari glukomanan ialah dalam pembuatan bioetanol. Kadar etanol tertinggi yang dapat dihasilkan dari umbi iles-iles adalah 79,94 g/l  pada suhu fermentasi 30° C dengan pemberian ragi 15 g. Hasil panen umbi iles-iles di wilayah subtropis berkisar 11-30 t/ha, sedangkan di Indonesia hanya 10-12 t/ha. Sebagai bahan baku industri pangan, kosmetik, dan bioetanol, tantangan dalam pengembangan iles-iles di Indonesia ialah bagaimana mendapatkan dan merakit varietas unggul dengan kadar glukomanan tinggi dan teknologi pengolahan sampai menjadi produk siap pakai.
KEANEKARAGAMAN ILES-ILES (Amorphophallus spp.) DAN POTENSINYA UNTUK INDUSTRI PANGAN FUNGSIONAL, KOSMETIK, DAN BIOETANOL Yati Supriati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.084 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v35n2.2016.p69-80

Abstract

Iles-iles (Amorphophallus spp.) memiliki keanekaragaman yang tinggi, tercatat ada 200 spesies di dunia,  menyebar terutama di Asia, yakni di Tiongkok, Vietnam, Indonesia, dan Thailand masing-masing 15, 21, 24, dan 53 spesies. Namun, hingga saat ini baru tiga spesies yang sudah diusahakan di Indonesia, yaitu Amorphophallus companulatus (Roxb.), A. variabilis Blume, dan  A. oncophyllus Prain ex Hook.f.  synonym A. moelleri  Blume. Iles-iles mempunyai nilai ekonomi karena umbinya mengandung glukomanan, suatu senyawa polisakarida jenis hemiselulosa yang bersifat hidrokoloid, larut dalam air, jernih, rendah kalori, dan bebas dari gluten. Kandungan glukomanan pada iles-iles, A. konjac, A. oncophyllus, dan A. variabilis masing-masing 64, 55, dan 44%. Dalam industri pangan, glukomanan digunakan sebagai bahan pengental, pem-bentuk gel, pengemulsi, dan penstabil. Sebagai sumber pangan fungsional, glukomanan berperan antara lain dapat mengontrol kadar lipida dan gula darah pada penderita diabetes melitus tipe 2, mengurangi obesitas, mencegah dan menghambat kanker, serta menurunkan gejala klinis divertikulosis. Pada industri kosmetik, tepung konjak digunakan untuk membuat spon pembersih wajah dan kulit yang sangat halus dan bersifat agak alkali untuk membersihkan noda dan debu berminyak. Manfaat lain dari glukomanan ialah dalam pembuatan bioetanol. Kadar etanol tertinggi yang dapat dihasilkan dari umbi iles-iles adalah 79,94 g/l  pada suhu fermentasi 30° C dengan pemberian ragi 15 g. Hasil panen umbi iles-iles di wilayah subtropis berkisar 11-30 t/ha, sedangkan di Indonesia hanya 10-12 t/ha. Sebagai bahan baku industri pangan, kosmetik, dan bioetanol, tantangan dalam pengembangan iles-iles di Indonesia ialah bagaimana mendapatkan dan merakit varietas unggul dengan kadar glukomanan tinggi dan teknologi pengolahan sampai menjadi produk siap pakai.