FITRININGDYAH TRI KADARWATI
Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KERAPATAN GALUR HARAPAN KAPAS PADA SISTEM TUMPANGSARI DENGAN KEDELAI PRIMA DIARINI RIAJAYA; FITRININGDYAH TRI KADARWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v9n1.2003.11-16

Abstract

Penelitian pengaturan kerapalan galur harapan kapas pada sistem tumpangsari dengan kedelai dilakukan di IPPTP Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur pada lahan sawah sesudah padi dari bulan Mei sampai dengan Oktobcr 2000. Tujuan penelitian untuk mendapatkan kerapalan lanaman yang sesuai pada galur harapan kapas pada sistem tumpangsari dengan kedelai Percobaan disusun dalam rancangan petak tcrbagi dengan 4 varictas'galur (92016/6, 91001 29 2, 88003/16/2 dan Kanesia 7) sebagai pelak utama Anak petak terdiri atas 3 tata tanam yaitu (1) tala tanam 1(1); 3, yaitu I bans kapas (I tan 'lubang) dan 3 bais kedelai, (2) tata tanam 2 (1) 4 yaitu 2 baris kapas(l tan.'lubang) dan 4 baris kedelai, (3) tata tanam 1 (2)3 yaitu 1 baris (2 tan 'lubang dan 3 bais kedelai) Jarak lanam kapas dan kedelai pada (ala tanam 1(1) 3 adalah 150 x 20 cm dan 25 x 20 cm, pada tata tanam 2( I ):4 adalah 150 (60) cm x 30 cm dan 20 cm x 20 cm, dan tata tanam 1 (2) 3 adalah 150 cm x 30 cm dan 25 cm x 20 cm Hasil penelitian menunjukkan bahwa lata tanam yang sesuai pada galur varietas baru kapas adalah tata tanam 1(1)3 |1 baris kapas (1 tan lubang) dan tiga baris kedelai] Mengurangi jumlah lanaman kapas tiap lubang dari 2 menjadi I lanaman pada tata tanam 1 (2)3 (1 baris kapas (2 lan lubang) dan 3 bais kedelai) meningkatkan eisiensi fotosintcsis dai 59 x 10 menjadi 9.4 x 10"" mgC02.mgll20 sehingga produksi kapas meningkat dari 1 167 2 menjadi I 251 6 kgha, sedangkan produksi kedelai tidak berpengaruh yaitu rata-rata 846 kgha Apabila dialur dalam sistem 2:4 (2 baris kapas diantara 4 baris kedelai), maka eisiensi fotosintcsis hanya meningkat dari 5.9 x \0A menjadi 77 x 10 mg C02mg H20 sehingga produksi kapas hanya meningkat dari I 167 2 menjadi I 206 2 kgha Pada kedua sistem lanam tersebut produktivitas galur 8800316/2 (1 323.3 kgha) lidak berbeda dengan Kanesia 7 (I 365.2 kg/ha) dan nyata lebih tinggi daripada galur 920166 (1 096 9 kgha) maupun 91001.29/2 (1 048 0 kgha).Kata kunci: Gossypium hirsutum. kapas. Glycine Max, kedelai, kerapatan lanaman, tumpangsari, hasil ABSTRACTDensity of neyv cotton lines under intercropping system with soybeanThe ield trial on different crop densities for new cotton lines under intercropping system with soybean was conducted in Mojosari. East Java from May lo October 2000 on the rice ield ater harvest. The purpose of the study was to investigate die optimum population for new cotton lines under intercropping with soybean The field experiment was arranged in a Split Plot Design with three replications. Pour new cotton lines were allocated lo main plots 92016 6, 91001/29.2 (okra leal). 88003/16/2 and Kanesia 7 'Three crop arrangements were allocated to sub-plots: 1 (1 ):3 [1 cotton row (I plant/hole) in between 3 rows of soybean), 2(1 ):4 [ 2 coton rows (1 plant/hole) in between 4 rows of soybean, and 1(2):3 (1 cotton row (2 planlholc) in between 3 rows of soybean). Two replications for sole crops of cotton and soybean were included in this expeiment lo compare both cropping systems. Research showed that by keeping one cotton plant/hole under intercropping system wi(h soybean in arrangement of 1:3 11 conon row in between 3 rows of soybean), increased the photosynthetic efficiency from 5 9 x 10"* to 9.4 x 10"* mg C02/mg H20, causing cotton yield increased from 1167.2 to 1 251.6 kg/ha; however soybean yield did not differ between different propotions of cotton and soybean (846 kg/ha) Under arrangement of Iwo cotton rows * four rows of soybean, the photosynthetic efficiency increased from 5.9 x 10"1 to 7.7 x 10"* mg COj'mg HjO resulted in increased cotton yield from I 167.2 lo 1 206.2 kgha Ihe yield of line 88003/16 2 (1 323.3 kgha) did not differ with that on Kanesia 7 (I 365.2 kg/ha); both were higher than those on 92016/6 (1 096.9 kg/ha) and 91001 /29/2 (1 048.0 kgha).Key words: Gossypium hirsutum, kapas. Glycine Max, soybean, crop density, intercropping, yield
KARAKTERISASI DAN EVALUASI WILAYAH PENGEMBANGAN TEMBAKAU CERUTU BESUKI ABDUL RACHMAN; FITRININGDYAH TRI KADARWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v9n1.2003.25-37

Abstract

Pada awalnya tembakau cerutu ditanam di wilayah Jember Utara. Tetapi karena berbagai masalah tembakau cerutu berkembang ke Wilayah Tengah dan Selatan Perkembangan ke wilayah baru belum diikuli oleh penyesuaian tcknologi Akihatnya mutu belum sesuai dengan yang diharapkan. Penelitian tahun 1998 dan 1999 dilakukan di Kabupaten Jember dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang sifat klimatologi, lanah, kcragaan hasil dan mutu, kcragaan teknologi dan prefcrensi pasar Informasi ini akan digunakan sebagai dasar untuk perbaikan-pcrbaikan tcknologi. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Daerah pengembangan lembakau cerutu di Jember dibagi liga wilayah, I Hara, Tengah. dan Selatan. sesuai dengan pembagian yang telah disetujui oleh masyarakat pctcmbakauan di Jember. Lima desa contoh diambil untuk mewakili liap wilayah. Penetapan contoh bcrdasar tipe tanah Icrluas dan selanjulnya ditclapkan desa dengan areal tembakau cerutu terluas untuk masing-masing tipe lanah Informasi pasar diperoleh dari wawancara dengan enam eksportir terkemuka Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua wilayah menghadapi masalah tanah berat yang sulit diolah, dan kandungan bahan organik, nitrogen dan fosfor tanah yang rendah Makin ke Selatan iklim semakin kering, bentuk lahan semakin datar, semakin linggi ketersediaan air di musim kemarau, kebutuhan pupuk nitrogen makin tinggi, dan peluang mendapatkan tembakau pembalut makin linggi. Harga tembakau wilayah Selatan tetinggi dari ketiga wilayah Untuk mempermudah pengelolaan disarankan agar wilayah dibagi dua yaitu wilayah Utara dan wilayah Tengah bagian Selatan dengan lahan bcrgelombang sebagai penghasil utama tembakau iller dan pembungkus dan wilayah Tengah bagian Selatan dan wilayah Selatan dengan lahan datar dan terscdianya air cukup, sebagai penghasil tembakau pembalut dan pembungkus.Kata kunci: Nicotiana tabacum, lembakau cerutu, karaktcrisasi lahan, evaluasi lahan ABSTRACT Characterization and evaluation of development region of besuki cigar tobaccoIhe beginning of cigar tobacco cultivation was in North Region of Jember Regency But due to several problems, the cultivation of cigar tobacco expanded to the Middle and South Region. In the new area, the technology of cigar tobacco was not yet adapted. So the tobacco quality did not match their expectation The research was conducted in 1998 and 1999 in Jember Regency, to get information about the characteistics of climate and soil, yield and quality performance, technology display, and market preference. This information should be used as basic knowledge to improve technology for besuki cigar tobacco. The research used survey method The tobacco cultivation was divided into three regions. Five villages were taken as sampling to represent for each region. Determining samples were based on the village has largest area of cigar tobacco located in largest area of soil type of each region. Market information was achieved from interview with six expoters. The result of this research showed thai Ihe more region lo Ihe Soudi was earlier planning date, flatter land, higher water available and nitrogen fertilization, and greater opportunity to get wrapper tobacco All region faced soil problems, were soil hardly cultivated, and low of organic matter, N, and P content of soil To make management of cigar tobacco cultivation easier, il was proposed lhai the area of cigar tobacco should be divided into two regions i.e. North Region and Middle Region of Southern part with wavy land for tobacco produce iller and binder tobacco, and Middle of Nothern part and South one for tobacco produce wrapper binder tobacco.Key words : Nicotiana tabacum, cigar tobacco, land characterization, land evaluation
KERAPATAN GALUR HARAPAN KAPAS PADA SISTEM TUMPANGSARI DENGAN KEDELAI PRIMA DIARINI RIAJAYA; FITRININGDYAH TRI KADARWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v9n1.2003.11-16

Abstract

Penelitian pengaturan kerapalan galur harapan kapas pada sistem tumpangsari dengan kedelai dilakukan di IPPTP Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur pada lahan sawah sesudah padi dari bulan Mei sampai dengan Oktobcr 2000. Tujuan penelitian untuk mendapatkan kerapalan lanaman yang sesuai pada galur harapan kapas pada sistem tumpangsari dengan kedelai Percobaan disusun dalam rancangan petak tcrbagi dengan 4 varictas'galur (92016/6, 91001 29 2, 88003/16/2 dan Kanesia 7) sebagai pelak utama Anak petak terdiri atas 3 tata tanam yaitu (1) tala tanam 1(1); 3, yaitu I bans kapas (I tan 'lubang) dan 3 bais kedelai, (2) tata tanam 2 (1) 4 yaitu 2 baris kapas(l tan.'lubang) dan 4 baris kedelai, (3) tata tanam 1 (2)3 yaitu 1 baris (2 tan 'lubang dan 3 bais kedelai) Jarak lanam kapas dan kedelai pada (ala tanam 1(1) 3 adalah 150 x 20 cm dan 25 x 20 cm, pada tata tanam 2( I ):4 adalah 150 (60) cm x 30 cm dan 20 cm x 20 cm, dan tata tanam 1 (2) 3 adalah 150 cm x 30 cm dan 25 cm x 20 cm Hasil penelitian menunjukkan bahwa lata tanam yang sesuai pada galur varietas baru kapas adalah tata tanam 1(1)3 |1 baris kapas (1 tan lubang) dan tiga baris kedelai] Mengurangi jumlah lanaman kapas tiap lubang dari 2 menjadi I lanaman pada tata tanam 1 (2)3 (1 baris kapas (2 lan lubang) dan 3 bais kedelai) meningkatkan eisiensi fotosintcsis dai 59 x 10 menjadi 9.4 x 10"" mgC02.mgll20 sehingga produksi kapas meningkat dari 1 167 2 menjadi I 251 6 kgha, sedangkan produksi kedelai tidak berpengaruh yaitu rata-rata 846 kgha Apabila dialur dalam sistem 2:4 (2 baris kapas diantara 4 baris kedelai), maka eisiensi fotosintcsis hanya meningkat dari 5.9 x \0A menjadi 77 x 10 mg C02mg H20 sehingga produksi kapas hanya meningkat dari I 167 2 menjadi I 206 2 kgha Pada kedua sistem lanam tersebut produktivitas galur 8800316/2 (1 323.3 kgha) lidak berbeda dengan Kanesia 7 (I 365.2 kg/ha) dan nyata lebih tinggi daripada galur 920166 (1 096 9 kgha) maupun 91001.29/2 (1 048 0 kgha).Kata kunci: Gossypium hirsutum. kapas. Glycine Max, kedelai, kerapatan lanaman, tumpangsari, hasil ABSTRACTDensity of neyv cotton lines under intercropping system with soybeanThe ield trial on different crop densities for new cotton lines under intercropping system with soybean was conducted in Mojosari. East Java from May lo October 2000 on the rice ield ater harvest. The purpose of the study was to investigate die optimum population for new cotton lines under intercropping with soybean The field experiment was arranged in a Split Plot Design with three replications. Pour new cotton lines were allocated lo main plots 92016 6, 91001/29.2 (okra leal). 88003/16/2 and Kanesia 7 'Three crop arrangements were allocated to sub-plots: 1 (1 ):3 [1 cotton row (I plant/hole) in between 3 rows of soybean), 2(1 ):4 [ 2 coton rows (1 plant/hole) in between 4 rows of soybean, and 1(2):3 (1 cotton row (2 planlholc) in between 3 rows of soybean). Two replications for sole crops of cotton and soybean were included in this expeiment lo compare both cropping systems. Research showed that by keeping one cotton plant/hole under intercropping system wi(h soybean in arrangement of 1:3 11 conon row in between 3 rows of soybean), increased the photosynthetic efficiency from 5 9 x 10"* to 9.4 x 10"* mg C02/mg H20, causing cotton yield increased from 1167.2 to 1 251.6 kg/ha; however soybean yield did not differ between different propotions of cotton and soybean (846 kg/ha) Under arrangement of Iwo cotton rows * four rows of soybean, the photosynthetic efficiency increased from 5.9 x 10"1 to 7.7 x 10"* mg COj'mg HjO resulted in increased cotton yield from I 167.2 lo 1 206.2 kgha Ihe yield of line 88003/16 2 (1 323.3 kgha) did not differ with that on Kanesia 7 (I 365.2 kg/ha); both were higher than those on 92016/6 (1 096.9 kg/ha) and 91001 /29/2 (1 048.0 kgha).Key words: Gossypium hirsutum, kapas. Glycine Max, soybean, crop density, intercropping, yield
KARAKTERISASI DAN EVALUASI WILAYAH PENGEMBANGAN TEMBAKAU CERUTU BESUKI ABDUL RACHMAN; FITRININGDYAH TRI KADARWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v9n1.2003.25-37

Abstract

Pada awalnya tembakau cerutu ditanam di wilayah Jember Utara. Tetapi karena berbagai masalah tembakau cerutu berkembang ke Wilayah Tengah dan Selatan Perkembangan ke wilayah baru belum diikuli oleh penyesuaian tcknologi Akihatnya mutu belum sesuai dengan yang diharapkan. Penelitian tahun 1998 dan 1999 dilakukan di Kabupaten Jember dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang sifat klimatologi, lanah, kcragaan hasil dan mutu, kcragaan teknologi dan prefcrensi pasar Informasi ini akan digunakan sebagai dasar untuk perbaikan-pcrbaikan tcknologi. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Daerah pengembangan lembakau cerutu di Jember dibagi liga wilayah, I Hara, Tengah. dan Selatan. sesuai dengan pembagian yang telah disetujui oleh masyarakat pctcmbakauan di Jember. Lima desa contoh diambil untuk mewakili liap wilayah. Penetapan contoh bcrdasar tipe tanah Icrluas dan selanjulnya ditclapkan desa dengan areal tembakau cerutu terluas untuk masing-masing tipe lanah Informasi pasar diperoleh dari wawancara dengan enam eksportir terkemuka Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua wilayah menghadapi masalah tanah berat yang sulit diolah, dan kandungan bahan organik, nitrogen dan fosfor tanah yang rendah Makin ke Selatan iklim semakin kering, bentuk lahan semakin datar, semakin linggi ketersediaan air di musim kemarau, kebutuhan pupuk nitrogen makin tinggi, dan peluang mendapatkan tembakau pembalut makin linggi. Harga tembakau wilayah Selatan tetinggi dari ketiga wilayah Untuk mempermudah pengelolaan disarankan agar wilayah dibagi dua yaitu wilayah Utara dan wilayah Tengah bagian Selatan dengan lahan bcrgelombang sebagai penghasil utama tembakau iller dan pembungkus dan wilayah Tengah bagian Selatan dan wilayah Selatan dengan lahan datar dan terscdianya air cukup, sebagai penghasil tembakau pembalut dan pembungkus.Kata kunci: Nicotiana tabacum, lembakau cerutu, karaktcrisasi lahan, evaluasi lahan ABSTRACT Characterization and evaluation of development region of besuki cigar tobaccoIhe beginning of cigar tobacco cultivation was in North Region of Jember Regency But due to several problems, the cultivation of cigar tobacco expanded to the Middle and South Region. In the new area, the technology of cigar tobacco was not yet adapted. So the tobacco quality did not match their expectation The research was conducted in 1998 and 1999 in Jember Regency, to get information about the characteistics of climate and soil, yield and quality performance, technology display, and market preference. This information should be used as basic knowledge to improve technology for besuki cigar tobacco. The research used survey method The tobacco cultivation was divided into three regions. Five villages were taken as sampling to represent for each region. Determining samples were based on the village has largest area of cigar tobacco located in largest area of soil type of each region. Market information was achieved from interview with six expoters. The result of this research showed thai Ihe more region lo Ihe Soudi was earlier planning date, flatter land, higher water available and nitrogen fertilization, and greater opportunity to get wrapper tobacco All region faced soil problems, were soil hardly cultivated, and low of organic matter, N, and P content of soil To make management of cigar tobacco cultivation easier, il was proposed lhai the area of cigar tobacco should be divided into two regions i.e. North Region and Middle Region of Southern part with wavy land for tobacco produce iller and binder tobacco, and Middle of Nothern part and South one for tobacco produce wrapper binder tobacco.Key words : Nicotiana tabacum, cigar tobacco, land characterization, land evaluation