IGAA. INDRAYANI
Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Jl. Raya Karangploso, Kotak Pos 199 Malang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH BIOREGULATOR SERTA PUPUK N TERHADAP KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAUN DAN INFESTASI Amrasca biguttula (ISHIDA) PADA KAPAS IGAA. INDRAYANI; FITRININGDYAH T.K.; M. SOHRI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n2.2011.60-66

Abstract

ABSTRAKTeknik pengendalian Amrasca biguttula yang paling efektif belumtersedia hingga saat ini. Penggunaan varietaspun belum ada yang benar-benar tahan terhadap hama ini karena keterbatasan aksesi kapas yangmembawa gen ketahanan. Sementara itu penggunaan pupuk N danbioregulator sering diaplikasikan untuk pertumbuhan, sedangkan peng-gunaan keduanya erat hubungannya dengan serangan serangga hama.Penelitian pengaruh bioregulator mepiquat khlorida dan paclobutrazolserta pupuk N terhadap karakteristik morfologi daun dan infestasi Amrascabiguttula dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanTembakau dan Serat di Karangploso, Malang, mulai April - September2010. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh mepiquatkhlorida dan paclobutrazol serta pupuk N terhadap karakteristik morfologidaun dan infestasi A. biguttula pada tiga galur/varietas kapas. Perlakuanterdiri atas bioregulator sebagai petak utama, yaitu: (1) mepiquat khlorida,(2) paclobutrazol, dan (3) tanpa bioregulator (kontrol). Sebagai anak petakdigunakan dua dosis pupuk N, yaitu: (1) 90 kg N/ha dan (2) 120 kg N/ha.Sedangkan anak-anak petaknya adalah dua galur baru kapas, yaitu: (1)99022/1 dan (2) 99023/5, dan (3) Kanesia 8. Penelitian menggunakanrancangan petak terbagi dua kali (split-split plot) dengan tiga kali ulangan.Parameter yang diamati untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadapkarakteristik morfologi daun adalah: panjang tulang daun, kerapatan danpanjang bulu pada tulang daun dan lamina daun, sedangkan terhadapinfestasi A. biguttula dilakukan pengamatan jumlah nimfa pada tanaman dilapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan interaksiantar perlakuan yang diaplikasikan, pengaruh bioregulator dan pupuk Npada tanaman kapas menyebabkan perubahan karakteristik morfologi daun.Mepiquat khlorida dan paclobutrazol dapat memperpendek tulang daunsekitar 4,0-6,6% dan meningkatkan kerapatan bulu pada tulang daun danlamina daun masing-masing sebesar 10-11% dan 4,0-8,7% dibandingdengan kontrol. Pemberian pupuk N dengan dosis 120 kg N/hamengurangi kerapatan bulu pada tulang daun dan lamina masing-masingsebesar 8,9% dan 9,7%. Penggunaan mepiquat khlorida dan paclobutrazolmenurunkan jumlah nimfa A. biguttula instar kecil (4,9%) maupun instarbesar (0,31%) dibandingkan dengan kontrol. Pemberian pupuk N padadosis 120 kg N/ha meningkatkan jumlah nimfa A. biguttula instar kecilmaupun besar masing-masing sebesar 4,5% dan 21,3% dari jumlah nimfapada perlakuan dosis 90 kg N/ha. Galur 99022/1 dan 99023/5 mempunyaikerapatan bulu pada lamina daun lebih tinggi (288,06 dan 253,50helai/cm 2 ) dibanding pada Kanesia 8 (248,28 helai/cm 2 ). Jumlah nimfa A.biguttula instar kecil pada kedua galur (99022/1 dan 99023/5) rata-ratalebih rendah (6,37 dan 6,63 ekor/5 tanaman) dibanding pada Kanesia 8(6,87 ekor/5 tanaman). Implikasi dari penelitian ini adalah (a) pemilihangalur harapan atau varietas kapas dapat didasarkan pada morfologi daun(kerapatan bulu pada lamina daun), (b) kombinasi antar penggunaan pupukN sesuai rekomendasi dan bioregulator dapat pula menurunkan serangan A.biguttula.Kata kunci: Gossypium hirsutum, bioregulator, mepiquat khlorida,paclobutrazol, Amrasca biguttula, instar, nimfa, galur,varietas, lamina daunABSTRACTEffects of bioregulator and nitrogen fertilizer onmorphological characters of cotton leaf and Amrascabiguttula infestationUp to now effective method for controlling cotton jassid (A.biguttula) has not been available yet. Resistant varieties so far can be usedto reduce the cotton jassid infestation. Cotton plant usually needs nitrogenfertilizer for optimal growth but sometimes the dosage used is higher thanrecommendation. In certain case bioregulator was applied to limit thevegetative growth. As known nitrogen fertilizer and bioregulatorassociated with insect pest infestation. Study on effects of bioregulator(mepiquat chloride and pachlobutrazole) and nitrogen fertilizer onmorphological characters of cotton leaf and A. biguttula infestation wasconducted at Experimental Station of Indonesian Tobacco and Fiber CropsResearch Institute (IToFCRI) at Karangploso from April to October 2010.The objective of the study was to find out the effects of mepiquat chloride,pachlobutrazole, and nitrogen fertilizer on morphological characters ofcotton leaf and A. biguttula infestation. Treatments consisted of threefactors. Factor A : bioregulator (mepiquat chloride, paclobutrazole, andcontrol), factor B : dosage of nitrogen (N) fertilizer (90 and 120 kg/ha),and factor C : cotton cultivar/variety (99022/1; 99023/5; and Kanesia 8).The experiment was arranged using split-split plot with three replicates.Data recorded were mid vein length, hair density on mid vein and lamina,hair length on lamina, and number of A. biguttula nymph. Results showedthat application of bioregulator and N fertilizer altered some morpho-logical characters of cotton leaf. Mepiquat chloride and paclobutrazoleshortened mid vein length by 4.0-6.6%, increased hair density of both midvein and leaf lamina by 10-11% and 4.0-8.7%, respectively, whencompared to control. When applied 120 kg/ha, N fertilizer decreased hairdensity on mid vein by 8.9% and leaf lamina by 9.7% compared to lowerdosage (90 kg N/ha). When compared to control, application of mepiquatchloride dan paclobutrazole reduced number of both small instar (4.9%)and big instar (0.31%) of A. biguttula nymph. Higher dosage (120 kg/ha)of N fertilizer increased population of small and big nymphs of A.biguttula by 4.5 and 21.3%, respectively, compared to lower one (90kg/ha). Leaf hair density was higher on cultivar 99022/1 (288.06hairs/cm 2 ) and 99023/5 (253.50 hairs/cm 2 )than that of Kanesia 8 (248.28hairs/cm 2 ). Nymph population of small instar was lower on 99022/1 and99023/5 (6.37 and 6.63 nymphs) compared to Kanesia 8 (6.87 nymphs).The implication of the reseach is the selection of cotton accession is basedon the morphology of cotton leaf, combined with the use of recommendedN fertilizer and paclobutrazole.Key words: Gossypium hirsutum, bioregulator, mepiquat chloride,paclobutrazole, Amrasca biguttula, variety, cultivar, nymph,instar, lamina
KEMAMPUAN PEMULIHAN AKSESI KAPAS SEBAGAI RESPON TERHADAP KERUSAKAN OLEH KOMPLEKS HAMA PENGGEREK BUAH SECARA SIMULASI IGAA. INDRAYANI; SUJAK SUJAK; DECIYANTO SOETOPO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.106-111

Abstract

ABSTRAKSebagai tanaman indeterminit, kapas (Gossypium hirsutum) mem-perlihatkan pola pertumbuhan yang memungkinkan bertahan darikehilangan sejumlah komponen produksi tanpa kehilangan hasil secaranyata. Dengan kata lain tanaman kapas mampu melakukan pemulihan(recovery) dan kompensasi setelah kerusakan akibat serangan hama.Penelitian tentang kemampuan pemulihan aksesi kapas sebagai responterhadap kerusakan oleh kompleks hama penggerek buah secara simulasiini dilakukan di KP Karangploso, Balai Penelitian Tanaman Tembakaudan Serat, Malang, mulai Januari hingga Desember 2009. Tujuannyaadalah untuk mengetahui kapasitas pemulihan aksesi kapas setelahserangan hama dan kemampuan melakukan kompensasi. Sepuluh aksesikapas, yaitu: (1) L57x1124-81-411, (2) M35-5-2, (3) 40727-2xNL-11-1-73-1, (4) HG10x1209-619-9-76, (5) NC-177-16-C2, (6) 731Nx1656-12-76-2, (7) Stoneville 825, (8) 619-998xLGS-10-77-3-1, (9) NMG 1222, dan(10) NMG-5-2 diuji dalam penelitian ini dengan menggunakan rancanganacak kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Setiap aksesi kapasditanam dalam kantong-kantong plastik berukuran 10 kg dengan duatanaman per kantong. Satu tanaman diperlakukan dengan cara meng-hilangkan seluruh kuncup bunga yang ada setelah tumbuh 9-13 daun padabatang utama yang dilakukan selama 21 hari dengan interval 3 hari.Sedangkan satu tanaman lainnya dibiarkan tumbuh normal (kontrol).Parameter yang diamati adalah: luas daun, bobot kering tanaman, indekspemulihan, jumlah node, tinggi tanaman, luas daun, jumlah kuncup bunga,hasil kapas, dan persentase kompensasi. Hasil penelitian menunjukkanbahwa tanaman kapas tahan, moderat, dan rentan serangan hama mampumelakukan pemulihan (recovery) dari kerusakan. Berdasarkan luas daun(R L ) dan bobot kering (R B ), setiap aksesi mempunyai indeks pemulihanyang berbeda-beda dan diantaranya ada yang berbeda nyata. Beberapaaksesi dengan kapasitas pemulihan tinggi memiliki tinggi tanaman, jumlahkuncup bunga, dan hasil kapas lebih tinggi dibanding tanaman kontrol.Dampak dari pemulihan juga terlihat pada perbedaan persentasekompensasi. NMG-5-2, Stoneville 825, 731Nx1656-12-76-2, 619-998xLGS-10-77-3-1, 40727-2xNL-11-1-73-1, dan NMG 1222 merupakanaksesi yang dapat melakukan kompensasi melalui penambahan hasil kapas>15% dibanding kontrol, yaitu berturut-turut sebesar 36,6; 34,5; 31,3;26,6; 20,4; dan 19,2%.Kata kunci: Aksesi, indeks pemulihan, kompleks hama, simulasiABSTRACTRecovery ability of cotton accessions as response tosimulated damage by bollwormsAs an indeterminate crop cotton has demonstrated its ability torecover from pest damage over the growing season without significantyield loss. However, it was unclear to what extent can cotton toleratedamage before and after the onset of fruiting. This field study was carriedout at Karangploso Experimental Station of Indonesian Tobacco and FiberCrops Research Institute (ITOFCRI) Malang from January to December2009. The aim was to know the capacity of cotton accessions to recoverafter damage. Ten cotton accesssions as treatment were planted in polybagand were arranged in randomized block design with three replicate. Tenaccessions of cotton used as treatment were: (1) L57x1124-81-411, (2)M35-5-2, (3) 40727-2xNL-11-1-73-1, (4) HG10x1209-619-9-76, (5) NC-177-16-C2, (6) 731Nx1656-12-76-2, (7) Stoneville 825, (8) 619-998xLGS-10-77-3-1, (9) NMG 1222, and (10) NMG-5-2. Each accessionwas plantation in four polybags with two plants in each polybag. One plantin each polybag was damaged manually by removing all squares (100%)for 21 days at a three-day interval, while another plant was as anundamaged control. Parameters observed in this study were leaf area, dryweight of plant, indices of recovery ( R ), number of main-stem nodes, theaverage of plant height, number of square, and yield of cotton. Resultshowed that all accessions showed their ability to recover after damagedand the recovery indices based on leaf area (R L  ) and dry weight (R w )varied among the accessions tested. Accessions with high recovery abilityperformed better plant height, square formation, and cotton yield than thatof undamaged control. Effect of good recovery was resulting in higherpercentage of plant compensation. NMG-5-2, Stoneville 825, 731Nx1656-12-76-2, 619-998xLGS-10-77-3-1, 40727-2xNL-11-1-73-1, and NMG-1222 were accessions with average compensation percentage was greaterthan 15% : 36.6; 34.5; 31.3; 26.6; 20.4; and 19.2%, respectively whencompared with undamaged control.Key words: Accession, indices of recovery, insect complex, simulation
KEMAMPUAN PEMULIHAN AKSESI KAPAS SEBAGAI RESPON TERHADAP KERUSAKAN OLEH KOMPLEKS HAMA PENGGEREK BUAH SECARA SIMULASI IGAA. INDRAYANI; SUJAK SUJAK; DECIYANTO SOETOPO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.106-111

Abstract

ABSTRAKSebagai tanaman indeterminit, kapas (Gossypium hirsutum) mem-perlihatkan pola pertumbuhan yang memungkinkan bertahan darikehilangan sejumlah komponen produksi tanpa kehilangan hasil secaranyata. Dengan kata lain tanaman kapas mampu melakukan pemulihan(recovery) dan kompensasi setelah kerusakan akibat serangan hama.Penelitian tentang kemampuan pemulihan aksesi kapas sebagai responterhadap kerusakan oleh kompleks hama penggerek buah secara simulasiini dilakukan di KP Karangploso, Balai Penelitian Tanaman Tembakaudan Serat, Malang, mulai Januari hingga Desember 2009. Tujuannyaadalah untuk mengetahui kapasitas pemulihan aksesi kapas setelahserangan hama dan kemampuan melakukan kompensasi. Sepuluh aksesikapas, yaitu: (1) L57x1124-81-411, (2) M35-5-2, (3) 40727-2xNL-11-1-73-1, (4) HG10x1209-619-9-76, (5) NC-177-16-C2, (6) 731Nx1656-12-76-2, (7) Stoneville 825, (8) 619-998xLGS-10-77-3-1, (9) NMG 1222, dan(10) NMG-5-2 diuji dalam penelitian ini dengan menggunakan rancanganacak kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Setiap aksesi kapasditanam dalam kantong-kantong plastik berukuran 10 kg dengan duatanaman per kantong. Satu tanaman diperlakukan dengan cara meng-hilangkan seluruh kuncup bunga yang ada setelah tumbuh 9-13 daun padabatang utama yang dilakukan selama 21 hari dengan interval 3 hari.Sedangkan satu tanaman lainnya dibiarkan tumbuh normal (kontrol).Parameter yang diamati adalah: luas daun, bobot kering tanaman, indekspemulihan, jumlah node, tinggi tanaman, luas daun, jumlah kuncup bunga,hasil kapas, dan persentase kompensasi. Hasil penelitian menunjukkanbahwa tanaman kapas tahan, moderat, dan rentan serangan hama mampumelakukan pemulihan (recovery) dari kerusakan. Berdasarkan luas daun(R L ) dan bobot kering (R B ), setiap aksesi mempunyai indeks pemulihanyang berbeda-beda dan diantaranya ada yang berbeda nyata. Beberapaaksesi dengan kapasitas pemulihan tinggi memiliki tinggi tanaman, jumlahkuncup bunga, dan hasil kapas lebih tinggi dibanding tanaman kontrol.Dampak dari pemulihan juga terlihat pada perbedaan persentasekompensasi. NMG-5-2, Stoneville 825, 731Nx1656-12-76-2, 619-998xLGS-10-77-3-1, 40727-2xNL-11-1-73-1, dan NMG 1222 merupakanaksesi yang dapat melakukan kompensasi melalui penambahan hasil kapas>15% dibanding kontrol, yaitu berturut-turut sebesar 36,6; 34,5; 31,3;26,6; 20,4; dan 19,2%.Kata kunci: Aksesi, indeks pemulihan, kompleks hama, simulasiABSTRACTRecovery ability of cotton accessions as response tosimulated damage by bollwormsAs an indeterminate crop cotton has demonstrated its ability torecover from pest damage over the growing season without significantyield loss. However, it was unclear to what extent can cotton toleratedamage before and after the onset of fruiting. This field study was carriedout at Karangploso Experimental Station of Indonesian Tobacco and FiberCrops Research Institute (ITOFCRI) Malang from January to December2009. The aim was to know the capacity of cotton accessions to recoverafter damage. Ten cotton accesssions as treatment were planted in polybagand were arranged in randomized block design with three replicate. Tenaccessions of cotton used as treatment were: (1) L57x1124-81-411, (2)M35-5-2, (3) 40727-2xNL-11-1-73-1, (4) HG10x1209-619-9-76, (5) NC-177-16-C2, (6) 731Nx1656-12-76-2, (7) Stoneville 825, (8) 619-998xLGS-10-77-3-1, (9) NMG 1222, and (10) NMG-5-2. Each accessionwas plantation in four polybags with two plants in each polybag. One plantin each polybag was damaged manually by removing all squares (100%)for 21 days at a three-day interval, while another plant was as anundamaged control. Parameters observed in this study were leaf area, dryweight of plant, indices of recovery ( R ), number of main-stem nodes, theaverage of plant height, number of square, and yield of cotton. Resultshowed that all accessions showed their ability to recover after damagedand the recovery indices based on leaf area (R L  ) and dry weight (R w )varied among the accessions tested. Accessions with high recovery abilityperformed better plant height, square formation, and cotton yield than thatof undamaged control. Effect of good recovery was resulting in higherpercentage of plant compensation. NMG-5-2, Stoneville 825, 731Nx1656-12-76-2, 619-998xLGS-10-77-3-1, 40727-2xNL-11-1-73-1, and NMG-1222 were accessions with average compensation percentage was greaterthan 15% : 36.6; 34.5; 31.3; 26.6; 20.4; and 19.2%, respectively whencompared with undamaged control.Key words: Accession, indices of recovery, insect complex, simulation