Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERBAIKAN TEKNIK PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PERKEBUNAN PALA BANDA (Myristica Fragrants Houtt) DI MALUKU / Control Techniques Improvement of Banda Nutmeg Pest and Disease in Maluku Marietje Pesireron; Sheny Kaihatu; Risma Suneth; Yacob Ayal
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v25n1.2019.45-58

Abstract

Banda Nutmeg (Myristica fragrans Houtt.) is a native plant of Maluku Islands. The aim of the study was to improve control technique of pest and disease Banda nutmeg in Maluku. The location of this study was in Pulau Ay village, Banda Naira District, Central Maluku Regency. This Study began in 2014 - 2015 through a survey of pest and disease identification. The research used Randomized Block Design (RBD) consisting of 6 (six) treatments followed by DMRT test. Treatment of Integrated Pest Management (IPM) includes: (A) Sanitation + furadan 3G pesticides), (B) Sanitation + Beauvaria bassiana, (C) Sanitation + Shell charcoal + Additional fertilizer (M2C), (D) Sanitation + Shell charcoal + Liquid Organic Fertilizer (LOF), (E) Sanitation + Biotris and (F) farmers' Practices. Results of identification, the main pests and diseases were stem borers (Batocera hercules) and stem cancer (Phytopthora palmivora). Pest and disease attacks, decline fruit production for the last 5 years from 3000-5000 fruits/tree/year to 457 - 2905 fruits/tree/year. After the treatment, the production increases 1,850 - 3,000 fruits/tree/year. The effective technology component applied was Treatment B (Sanitation + Beauvaria Bassiana), followed by treatment D (Sanitation + Shell charcoal + LOF), treatment C (Sanitation + Shell Charcoal + M2C) and treatment E (Sanitation + Biotris). The control treatment which was economically beneficial, were: treatment D (Sanitation + shell charcoal + LOF), followed by treatment C (Sanitation + shell charcoal + M2C), B (Sanitation + Beauvaria bassiana) and treatment A (Sanitation + furadan 3G pesticides).Keyword: Integrated control, Banda Nutmeg, LOF, B. bassiana, biotris AbstrakPala Banda (Myristica fragrans  Houtt.) merupakan tanaman asli Kepulauan Maluku. Tujuan dari penelitian adalah untuk menguji teknik pengendalian hama dan penyakit terpadu pada pala Banda di Maluku. Lokasi penelitian di Desa Pulau Ay, Kecamatan  Banda  Naira, Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2014 -2015, dimulai dengan survei identifikasi hama dan penyakit utama tanaman pala. Penelitian pengendalian hama dan penyakit menggunakan Racangan Acak Kelompok  (RAK) yang terdiri atas 6 perlakuan, yaitu (A) Sanitasi + furadan pestisida 3G), (B)   Sanitasi + Beauveria bassiana, (C) Sanitasi + Arang tempurung + Pupuk tambahan (M2C), (D) Sanitasi + Arang tempurung + pupuk organik cair, (E) Sanitasi + Insektisida nabati Biotris dan (F) kebiasaan petani. Hasil identifikasi diketahui bahwa hama utama pada pertanaman pala di Maluku adalah penggerek batang (Batocera hercules) dan penyakit utamanya adalah kanker batang (Phytophthora   palmivora). Akibat serangan hama dan penyakit maka produksi buah pala selama 5 tahun terakhir menurun dari dari 3000 - 5000 buah/pohon/tahun menjadi 457 - 2905 buah/pohon/tahun. Setelah dilakukan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu maka produksi meningkat menjadi 1.850 -3.000 buah/pohon/tahun. Paket pengendalian terbaik adalah perlakuan sanitasi + B. bassiana, diikuti dengan perlakuan sanitasi + arang tempurung + hormon, perlakuan sanitasi + arang tempurung + pupuk tambahan, dan perlakuan sanitasi + insektisida hayati biotris. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman pala yang paling menguntungkan adalah  sanitasi + arang tempurung  + pupuk organik cair. Oleh karena itu, perlakuan tersebut perlu diuji pada skala komersial sebelum direkomendasikan kepada petani.Kata kunci: Pengendalian terpadu, pala Banda, LOF, B. bassiana, biotris
Pengembangan Model Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai di Lahan Kering dan Lahan Sawah di Maluku Marietje Pesireron; Syeni S. Kaihatu
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman kedelai belum berkembang di Maluku dan masih berstatus sebagai komoditas pangan baru, namun potensi pengembangan dan permintaan pasarnya cukup baik. Pengkajian PTT kedelai dilakukan di lahan petani, melibatkan petani secara partisipatif di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. Komponen PTT yang diuji meliputi varietas unggul Sinabung (lahan sawah) dan Tanggamus (lahan kering), olah tanah sempurna (OTS) dan olah tanah tidak sempurna (OTTS) di lahan sawah, perlakuan benih dengan rhizoplus (20 g/kg benih), jarak tanam 40 cm x 10 cm (lahan sawah) dan 40 cm x 20 cm (lahan kering), dua biji per lubang, jumlah benih 40-50 kg/ha, pemupukan pada lahan kering: PTT1 (200 kg/ha Ponska + 50 kg/ha urea + 1 t/ha pupuk organik + 150 g rhizoplus), PTT2 (100 kg/ha Ponska + 25 kg/ha urea + 2 t/ha pupuk organik + 150 g rhizoplus), dibandingkan dengan cara petani. Pada lahan sawah: PTT1 (200 kg Ponska + 50 kg urea + 1 t pupuk organik + 150 g rhizoplus/ha ), PTT2 (100 kg Ponska + 25 kg urea + 2 t pupuk organik + 150 g rhizoplus/ha). Dari ketiga paket teknologi PTT (PTT1, PTT2, Petani) yang diterapkan di lahan sawah, PTT2 memberikan hasil lebih tinggi yaitu 2,8 t/ha, PTT1 dan cara petani masing-masing 2,4 t/ha dan 2 t/ha. Pada lahan kering, hasil kedelai pada PTT1 dan PTT2 sama yaitu 1,6 t/ha dan cara petani 0,9 t/ha. Berdasarkan analisis kelayakan usahatani kedelai pada lahan sawah, PTT2 memberi R/C rasio lebih tinggi (2,1) diikuti oleh PTT1 (2,0), dan cara petani 1,9. Untuk meyakinkan bahwa usahatani kedelai dengan teknologi PTT layak dikembangkan maka analisis ini dilengkapi dengan nilai MBCR (Marginal Benefit Cost Ratio). Nilai MBCR PTT2 dan PTT1 di lahan sawah masing-masing 2,7 dan 2,54 sehingga dinilai layak untuk dikembangkan. Komponen teknologi PTT kedelai di lahan kering berbeda dengan lahan sawah. Berdasarkan R/C rasio, PTT1, PTT2, dan cara petani layak secara finansial, namun berdasarkan nilai MBCR, PTT1 dan PTT2 kedelai di lahan kering kurang layak dikembangkan karena nilai MBCRnya kurang dari 2. Biaya pengolahan tanah yang lebih besar di lahan kering dan biji kedelai yang lebih kecil dibandingkan dengan di lahan sawah menjadi penyebab kurang layaknya usahatani di lahan kering.
PERBAIKAN TEKNIK PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PERKEBUNAN PALA BANDA (Myristica Fragrants Houtt) DI MALUKU / Control Techniques Improvement of Banda Nutmeg Pest and Disease in Maluku Marietje Pesireron; Sheny Kaihatu; Risma Suneth; Yacob Ayal
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v25n1.2019.45-58

Abstract

Banda Nutmeg (Myristica fragrans Houtt.) is a native plant of Maluku Islands. The aim of the study was to improve control technique of pest and disease Banda nutmeg in Maluku. The location of this study was in Pulau Ay village, Banda Naira District, Central Maluku Regency. This Study began in 2014 - 2015 through a survey of pest and disease identification. The research used Randomized Block Design (RBD) consisting of 6 (six) treatments followed by DMRT test. Treatment of Integrated Pest Management (IPM) includes: (A) Sanitation + furadan 3G pesticides), (B) Sanitation + Beauvaria bassiana, (C) Sanitation + Shell charcoal + Additional fertilizer (M2C), (D) Sanitation + Shell charcoal + Liquid Organic Fertilizer (LOF), (E) Sanitation + Biotris and (F) farmers' Practices. Results of identification, the main pests and diseases were stem borers (Batocera hercules) and stem cancer (Phytopthora palmivora). Pest and disease attacks, decline fruit production for the last 5 years from 3000-5000 fruits/tree/year to 457 - 2905 fruits/tree/year. After the treatment, the production increases 1,850 - 3,000 fruits/tree/year. The effective technology component applied was Treatment B (Sanitation + Beauvaria Bassiana), followed by treatment D (Sanitation + Shell charcoal + LOF), treatment C (Sanitation + Shell Charcoal + M2C) and treatment E (Sanitation + Biotris). The control treatment which was economically beneficial, were: treatment D (Sanitation + shell charcoal + LOF), followed by treatment C (Sanitation + shell charcoal + M2C), B (Sanitation + Beauvaria bassiana) and treatment A (Sanitation + furadan 3G pesticides).Keyword: Integrated control, Banda Nutmeg, LOF, B. bassiana, biotris AbstrakPala Banda (Myristica fragrans  Houtt.) merupakan tanaman asli Kepulauan Maluku. Tujuan dari penelitian adalah untuk menguji teknik pengendalian hama dan penyakit terpadu pada pala Banda di Maluku. Lokasi penelitian di Desa Pulau Ay, Kecamatan  Banda  Naira, Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2014 -2015, dimulai dengan survei identifikasi hama dan penyakit utama tanaman pala. Penelitian pengendalian hama dan penyakit menggunakan Racangan Acak Kelompok  (RAK) yang terdiri atas 6 perlakuan, yaitu (A) Sanitasi + furadan pestisida 3G), (B)   Sanitasi + Beauveria bassiana, (C) Sanitasi + Arang tempurung + Pupuk tambahan (M2C), (D) Sanitasi + Arang tempurung + pupuk organik cair, (E) Sanitasi + Insektisida nabati Biotris dan (F) kebiasaan petani. Hasil identifikasi diketahui bahwa hama utama pada pertanaman pala di Maluku adalah penggerek batang (Batocera hercules) dan penyakit utamanya adalah kanker batang (Phytophthora   palmivora). Akibat serangan hama dan penyakit maka produksi buah pala selama 5 tahun terakhir menurun dari dari 3000 - 5000 buah/pohon/tahun menjadi 457 - 2905 buah/pohon/tahun. Setelah dilakukan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu maka produksi meningkat menjadi 1.850 -3.000 buah/pohon/tahun. Paket pengendalian terbaik adalah perlakuan sanitasi + B. bassiana, diikuti dengan perlakuan sanitasi + arang tempurung + hormon, perlakuan sanitasi + arang tempurung + pupuk tambahan, dan perlakuan sanitasi + insektisida hayati biotris. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman pala yang paling menguntungkan adalah  sanitasi + arang tempurung  + pupuk organik cair. Oleh karena itu, perlakuan tersebut perlu diuji pada skala komersial sebelum direkomendasikan kepada petani.Kata kunci: Pengendalian terpadu, pala Banda, LOF, B. bassiana, biotris