Achmad Rachman
Balai Penelitian Tanah, Jl. Tentara Pelajar No. 12, Cimanggu, Bogor 16114

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Aplikasi Teknik Computed Tomography (CT) Scan dalam Penelitian Porositas Tanah dan Perkembangan Akar Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak: Perkembangan akar dan laju pergerakan air di dalam profil tanah sangat dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, dan orientasi dari pori tanah. Tingginya variabilitas pori tanah, baik pada skala keruangan (spatial) maupun waktu (temporal), membutuhkan teknik pengukuran yang cepat dan dapat dilakukan berulangkali tanpa merusak obyek penelitian agar dihasilkan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat. Penggunaan X-ray computed tomography (CT) scan, yang digunakan dalam dunia kedokteran untuk mendiagnose penyakit pasien, dapat digunakan secara cepat dan akurat untuk mengkuantifikasi porositas dan sifat-sifat tanah lainnya serta perkembangan perakaran di dalam tanah. Kelebihan teknik CT scan dibanding teknik sebelumnya seperti kurva karakteristik air dan teknik irisan tipis adalah dapat mengkuantifikasi jumlah pori, pola distribusi keruangan, dimensi fraktal, dan bentuk pori dari gambar 3 dimensi (3-D) beresolusi tinggi yang dihasilkan. Makalah ini bertujuan untuk mereview penggunaan CT Scan dalam penelitian porositas tanah dan perakaran untuk mendapatkan pemahaman yang lebih detil tentang interaksi antara tanah dan akar. Dengan pemahaman yang lebih detil tersebut dapat ditentukan teknik pengelolaan tanah dan tanaman yang lebih baik untuk meningkatkan produktivtas pertanian.Abstract: Root development and water movement in the soil profile are highly affected by the shape, size and orientation of the soil pores. The high spatial and temporal variability of soil porosity required a quick and repeated non-distruptive technique to measure it in order to develop a more suitable land management recommendation. The use of computed tomography (CT) scan, which has been used for years in medical examination of patient, can be utilized in quantifying rapidly and accurately soil porosity and other soil characteristics as well as root development in the soil sample. The advantage of CT scan technique over other techniques such as soil water characterictis curve and thin section is the possibility to quantify the amount, spatial distribution, fractal dimension, and shape of the soil pores from 3-D high resolution image produced. The aim of this review is to offer a perspective on the possible application of CT scan technique in soil porosity and root studies to obtain more detail understanding of soil and root interactions. With that understanding, one can develop more accurate soil and crop management to improve agriculture productivity.
Pengembangan dan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Optimalisasi Pengelolaan Lahan Kering Masam Irawan Irawan; Ai Dariah; Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Peranan lahan kering masam dalam mendukung pembangunan pertanian nasional sangat penting, baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan nasional maupun untuk pengembangan tanaman perkebunan. Tingkat produktivitas yang dicapai pada lahan kering masam masih lebih rendah dibanding potensinya, sehingga pendekatan optimamalisasi harus menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian ke depan. Mengingat tingkat kesuburan tanah pada lahan kering masam umumnya tergolong rendah, maka diperlukan berbagai masukan inovasi teknologi, baik untuk menanggulangi faktor pembatas lahan maupun untuk mengoptimalkan produktivitasnya. Pengembangan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering masam telah menghasilkan beberapa teknologi unggulan, antara lain teknologi pengayaan unsur P dan K, teknik pemberian kapur, dan teknologi konservasi tanah dan air. Permasalahan diseminasi inovasi teknologi pertanian umumnya terkait dengan kesenjangan adopsi teknologi, kesenjangan hasil dan kendala sosial-ekonomi petani. Sebagian besar petani lahan kering masam mengelola lahannya secara subsisten, produktivitasnya rendah, senjang hasil dan adopsi teknologi masih tinggi, dan keberlanjutannya tidak diperhatikan sehingga berdampak terhadap terjadinya proses degradasi lahan. Guna memecahkan masalah tersebut dari aspek diseminasi diperlukan model diseminasi inovasi berbasis teknologi informasi yang dapat memanfaatkan berbagai bentuk media diseminasi dan saluran komunikasi para pemangku kepentingan yang terkait. Diseminasi melalui pendekatan model spektrum diseminasi multi channel (SDMC) memungkinkan inovasi teknologi pertanian hasil penelitian dapat didistribusikan secara cepat kepada para penggunanya.Abstract. The role of upland acid soils in supporting national agricultural development is very important to fulfill national food needs as well as to develop estate plantations. The level of productivity achieved on upland acid soils was still lower than its potential, so the optimation approach should be one of the priorities of the agricultural development in the future. Since the level of soil fertility on upland acid soils is generally low, then it is needed the input of various technological innovations, both to overcome the limiting factor of land as well as to optimize its productivity. Development of technological innovation management on upland acid soils has produced some prospective technologies, such as enrichment of P and K elements technology, the technique of lime application, as well as soil and water conservation technology. Most of dissemination problems related to adoption and yield gaps, and farmers’ socio-economic aspect. Most of the upland acid soils farmers managed the land in subsistence, low soil productivity, high gap on yield and technology adoption, and its continuation of farming development was not noted, hence gave impact to land degradation processes. To overcome such problems in perspective of dissemination aspect, it needs innovation dissemination model based on required information technology which utilizes a variety of dissemination means and communication channels of related stakeholders. Dissemination through multi-media channel systems approach may allow agricultural technology innovations to distribute quickly to its users. 
Aplikasi Teknik Computed Tomography (CT) Scan dalam Penelitian Porositas Tanah dan Perkembangan Akar Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak: Perkembangan akar dan laju pergerakan air di dalam profil tanah sangat dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, dan orientasi dari pori tanah. Tingginya variabilitas pori tanah, baik pada skala keruangan (spatial) maupun waktu (temporal), membutuhkan teknik pengukuran yang cepat dan dapat dilakukan berulangkali tanpa merusak obyek penelitian agar dihasilkan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat. Penggunaan X-ray computed tomography (CT) scan, yang digunakan dalam dunia kedokteran untuk mendiagnose penyakit pasien, dapat digunakan secara cepat dan akurat untuk mengkuantifikasi porositas dan sifat-sifat tanah lainnya serta perkembangan perakaran di dalam tanah. Kelebihan teknik CT scan dibanding teknik sebelumnya seperti kurva karakteristik air dan teknik irisan tipis adalah dapat mengkuantifikasi jumlah pori, pola distribusi keruangan, dimensi fraktal, dan bentuk pori dari gambar 3 dimensi (3-D) beresolusi tinggi yang dihasilkan. Makalah ini bertujuan untuk mereview penggunaan CT Scan dalam penelitian porositas tanah dan perakaran untuk mendapatkan pemahaman yang lebih detil tentang interaksi antara tanah dan akar. Dengan pemahaman yang lebih detil tersebut dapat ditentukan teknik pengelolaan tanah dan tanaman yang lebih baik untuk meningkatkan produktivtas pertanian.Abstract: Root development and water movement in the soil profile are highly affected by the shape, size and orientation of the soil pores. The high spatial and temporal variability of soil porosity required a quick and repeated non-distruptive technique to measure it in order to develop a more suitable land management recommendation. The use of computed tomography (CT) scan, which has been used for years in medical examination of patient, can be utilized in quantifying rapidly and accurately soil porosity and other soil characteristics as well as root development in the soil sample. The advantage of CT scan technique over other techniques such as soil water characterictis curve and thin section is the possibility to quantify the amount, spatial distribution, fractal dimension, and shape of the soil pores from 3-D high resolution image produced. The aim of this review is to offer a perspective on the possible application of CT scan technique in soil porosity and root studies to obtain more detail understanding of soil and root interactions. With that understanding, one can develop more accurate soil and crop management to improve agriculture productivity.
Pengembangan dan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Optimalisasi Pengelolaan Lahan Kering Masam Irawan Irawan; Ai Dariah; Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Peranan lahan kering masam dalam mendukung pembangunan pertanian nasional sangat penting, baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan nasional maupun untuk pengembangan tanaman perkebunan. Tingkat produktivitas yang dicapai pada lahan kering masam masih lebih rendah dibanding potensinya, sehingga pendekatan optimamalisasi harus menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian ke depan. Mengingat tingkat kesuburan tanah pada lahan kering masam umumnya tergolong rendah, maka diperlukan berbagai masukan inovasi teknologi, baik untuk menanggulangi faktor pembatas lahan maupun untuk mengoptimalkan produktivitasnya. Pengembangan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering masam telah menghasilkan beberapa teknologi unggulan, antara lain teknologi pengayaan unsur P dan K, teknik pemberian kapur, dan teknologi konservasi tanah dan air. Permasalahan diseminasi inovasi teknologi pertanian umumnya terkait dengan kesenjangan adopsi teknologi, kesenjangan hasil dan kendala sosial-ekonomi petani. Sebagian besar petani lahan kering masam mengelola lahannya secara subsisten, produktivitasnya rendah, senjang hasil dan adopsi teknologi masih tinggi, dan keberlanjutannya tidak diperhatikan sehingga berdampak terhadap terjadinya proses degradasi lahan. Guna memecahkan masalah tersebut dari aspek diseminasi diperlukan model diseminasi inovasi berbasis teknologi informasi yang dapat memanfaatkan berbagai bentuk media diseminasi dan saluran komunikasi para pemangku kepentingan yang terkait. Diseminasi melalui pendekatan model spektrum diseminasi multi channel (SDMC) memungkinkan inovasi teknologi pertanian hasil penelitian dapat didistribusikan secara cepat kepada para penggunanya.Abstract. The role of upland acid soils in supporting national agricultural development is very important to fulfill national food needs as well as to develop estate plantations. The level of productivity achieved on upland acid soils was still lower than its potential, so the optimation approach should be one of the priorities of the agricultural development in the future. Since the level of soil fertility on upland acid soils is generally low, then it is needed the input of various technological innovations, both to overcome the limiting factor of land as well as to optimize its productivity. Development of technological innovation management on upland acid soils has produced some prospective technologies, such as enrichment of P and K elements technology, the technique of lime application, as well as soil and water conservation technology. Most of dissemination problems related to adoption and yield gaps, and farmers’ socio-economic aspect. Most of the upland acid soils farmers managed the land in subsistence, low soil productivity, high gap on yield and technology adoption, and its continuation of farming development was not noted, hence gave impact to land degradation processes. To overcome such problems in perspective of dissemination aspect, it needs innovation dissemination model based on required information technology which utilizes a variety of dissemination means and communication channels of related stakeholders. Dissemination through multi-media channel systems approach may allow agricultural technology innovations to distribute quickly to its users.