Setyowati Retno Djiwanti
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERLAKUAN BENIH AIR PANAS, EKSTRAK MIMBA DAN JARAK KEPYAR UNTUK MENGENDALIKAN NEMATODA (Meloidogyne spp.) TERBAWA RIMPANG JAHE Setyowati Retno Djiwanti
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 26, No 1 (2015): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v26n1.2015.55-62

Abstract

Benih rimpang jahe dapat membawa organisme pengganggu tanaman berbahaya seperti nematoda buncak akar, Meloidogyne spp. Tujuan penelitian adalah menguji pengaruh metode perlakuan benih dalam menekan serangan nematoda terbawa rimpang jahe Meloidogyne spp. Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor sejak 2005 sampai 2006. Rimpang jahe terinfeksi Meloidogyne spp. dicuci bersih, dipotong seberat 30-40 g, kemudian diberi perlakuan (1) perendaman dalam air panas (40°C selama 20 menit dan 50°C selama 10 menit), (2) perendaman dalam larutan ekstrak nabati mimba (2,5 dan 7,5%) dan jarak (2,5 dan 7,5%), (3) perendaman dalam larutan kimia karbosulfan EC (2 ml l-1 air), (4) pelapisan dengan tepung kimia karbosulfan ST (20 g kg-1 rimpang) dan (5) direndam air selama dua  jam (kontrol). Rimpang setelah diperlakukan, ditanam dalam polibag berisi media tanah steril di rumah kaca. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 10 ulangan. Pertumbuhan tanaman dan populasi nematoda diamati setelah jahe berumur empat bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan air panas 50°C selama 10 menit paling baik dalam menekan populasi nematoda sebesar 80,86%, diikuti perlakuan perendaman dalam larutan 2,5% ekstrak mimba (25,24%) dan pelapisan dengan tepung karbosulfan ST (23,66%). Perlakuan benih yang diuji umumnya tidak menekan pertumbuhan tanaman. Parameter tingkat populasi nematoda (dalam akar, rimpang dan tanah) lebih sensitif untuk merefleksikan keefektifan suatu perlakuan benih rimpang jahe dibandingkan parameter indeks buncak. Pada perlakuan benih terbaik yaitu air panas 500C selama 10 menit, penekanan populasi nematoda menghasilkan nilai yang signifikan dibandingkan penekanan indeks buncak pada akar dan rimpang.
AKTIVITAS NEMATISIDAL BEBERAPA EKSTRAK TANAMAN OBAT DAN AROMATIK TERHADAP Meloidogyne sp. PADA JAHE Setyowati Retno Djiwanti; Supriadi .
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 23, No 2 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v23n2.2012.%p

Abstract

Pengendalian nematoda dengan senyawa kimia asal tanaman cukup prospektif. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi aktivitas nematisidal 13 macam ekstrak tanaman obat dan aromatik (TOA) terhadap mortalitas juvenil (J2) Meloidogyne sp. di laboratorium dan enam formula pestisida nabati (minyak cengkeh, serai wangi, kayu manis, mimba, dan temulawak) terhadap populasi Meloidogyne sp. pada akar tanaman jahe di rumah kaca. Pengujian aktivitas nematisidal di laboratorium dilakukan dengan merendam J2 Meloidogyne sp. dalam 0,5-1,0% larutan ekstrak TOA selama satu jam kemudian diamati persentase kematiannya. Pengujian keefektifan formula pestisida nabati di rumah kaca dilakukan dengan menyiramkan 100 ml larutan pestisida nabati (1,5-2,0%) pada perakaran tanaman jahe yang telah diinokulasi dengan J2 Meloidogyne sp. (800 ekor tanaman-1). Aplikasi penyiraman pestisida nabati diulang tiga kali setiap tujuh hari, dimulai pada saat inokulasi nematoda. Rancangan penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan pada penelitian laboratorium, dan dua ulangan (setiap ulangan terdiri dari 10 tanaman) pada penelitian rumah kaca. Ekstrak daun cengkeh, daun serai wangi, dan biji mengkudu pada konsentrasi 1,0% menyebabkan 100% kematian J2 Meloidogyne sp.; perlakuan ekstrak mahkota dewa, brotowali, sambiloto, jarak, kunyit, kacang babi, kenikir, legundi, cabe jawa, dan babadotan sama sekali tidak menyebabkan kematian J2. Empat dari enam jenis formula pestisida nabati yang diuji, yaitu minyak cengkeh + serai wangi, serai wangi + asam salisilat, cengkeh + serai wangi + asam salisilat, dan cengkeh + serai wangi + mimba efektif menekan lebih dari 50% populasi Meloidogyne sp. sebanding dengan karbofuran (69,70%). Namun, aplikasi tersebut menghambat pertumbuhan tanaman kecuali pada aplikasi serai wangi + asam salisilat.
AKTIVITAS NEMATISIDAL BEBERAPA EKSTRAK TANAMAN OBAT DAN AROMATIK TERHADAP Meloidogyne sp. PADA JAHE Setyowati Retno Djiwanti; Supriadi .
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 23, No 2 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v23n2.2012.%p

Abstract

Pengendalian nematoda dengan senyawa kimia asal tanaman cukup prospektif. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi aktivitas nematisidal 13 macam ekstrak tanaman obat dan aromatik (TOA) terhadap mortalitas juvenil (J2) Meloidogyne sp. di laboratorium dan enam formula pestisida nabati (minyak cengkeh, serai wangi, kayu manis, mimba, dan temulawak) terhadap populasi Meloidogyne sp. pada akar tanaman jahe di rumah kaca. Pengujian aktivitas nematisidal di laboratorium dilakukan dengan merendam J2 Meloidogyne sp. dalam 0,5-1,0% larutan ekstrak TOA selama satu jam kemudian diamati persentase kematiannya. Pengujian keefektifan formula pestisida nabati di rumah kaca dilakukan dengan menyiramkan 100 ml larutan pestisida nabati (1,5-2,0%) pada perakaran tanaman jahe yang telah diinokulasi dengan J2 Meloidogyne sp. (800 ekor tanaman-1). Aplikasi penyiraman pestisida nabati diulang tiga kali setiap tujuh hari, dimulai pada saat inokulasi nematoda. Rancangan penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan pada penelitian laboratorium, dan dua ulangan (setiap ulangan terdiri dari 10 tanaman) pada penelitian rumah kaca. Ekstrak daun cengkeh, daun serai wangi, dan biji mengkudu pada konsentrasi 1,0% menyebabkan 100% kematian J2 Meloidogyne sp.; perlakuan ekstrak mahkota dewa, brotowali, sambiloto, jarak, kunyit, kacang babi, kenikir, legundi, cabe jawa, dan babadotan sama sekali tidak menyebabkan kematian J2. Empat dari enam jenis formula pestisida nabati yang diuji, yaitu minyak cengkeh + serai wangi, serai wangi + asam salisilat, cengkeh + serai wangi + asam salisilat, dan cengkeh + serai wangi + mimba efektif menekan lebih dari 50% populasi Meloidogyne sp. sebanding dengan karbofuran (69,70%). Namun, aplikasi tersebut menghambat pertumbuhan tanaman kecuali pada aplikasi serai wangi + asam salisilat.