Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

FORMULA INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA PENGGULUNG DAUN (Pachyzancla stultalis) PADA TANAMAN NILAM Herwita idris
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 25, No 1 (2014): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v25n1.2014.69-76

Abstract

Hama penggulung daun (Pachyzancla stultalis) merupakan salah satu hama penting pada tanaman nilam, dapat merusak dan menurunkan mutu minyak, sehingga perlu dicari solusi yang lebih aman untuk mengendalikan hama tersebut. Penggunaan insektisida botani adalah salah satu cara untuk mengendalikan hama pada tanaman. Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian insektisida nabati yang mengandung bahan aktif cynamaldehid, citronellal, oleandrin, thevetin dan alamandin terhadap hama penggulung daun nilam P. stultalis. Penelitian dilaksanakan dirumah kaca dan di lapang. Penelitian rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap (tujuh perlakuan dan empat ulangan), sedangkan pengujian skala lapang dilakukan dalam rancangan acak kelompok (10 perlakuan dan tiga ulangan). Parameter pengamatan meliputi mortalitas dan intensitas serangan larva penggulung daun nilam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula insektisida nabati yang diuji dalam skala rumah kaca, dapat mengendalikan penggulung daun P. stultalis antara 19,81-52,09% pada konsentrasi 5-10%. Pemakaian formulasi 20%, menunjukkan efektifitas lebih baik dengan persentase kematian antara 23,96-56,24%. Pada uji skala lapang, efektivitas formula insektisida lebih rendah dibandingkan rumah kaca, dengan tingkat kematian larva antara 46,80-49,50% dan intensitas serangan antara 41,30-46,40%. Peningkatan konsentrasi formulasi menjadi 22%, menunjukkan hasil yang lebih baik pada semua parameter.
BIOLOGI Aspidomorpha miliaris, F. PADA BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK DAUN GAMBIR . ADRIA; HERWITA IDRIS
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n2.2004.51-58

Abstract

Aspidomorpha miliaris. F. (Coleoptera: Chrysomelidae) termasuk hama penting pada tanaman Ipomoeaceae, Convolvulaceae dan Cucurbitaceae yang pengendalian populasinya perlu diarahkan memakai insektisida botanis, mengingat produk dai tanaman ini umumnya bcroricntasi pangan. Gambir (Uncaria gambir, Roxb), merupakan salah satu tanaman sumber bahan pestisida botanis yang potensial, karena daun tanaman ini mengandung senyawa kimia berupa catechin, tannin catecu (tannat), querchitin dan beberapa senyawa lainnya. Sehubungan dengan itu lelah dilakukan penelitian tentang aspek biologis A. miliaris pada beberapa konsentrasi ekstrak daun gambir di Kebun Percobaan Laing Solok mulai bulan Juli 2001 sampai Januari 2002. Penelitian memakai rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan, masing-masing perlakuan adalah ekstrak daun gambir konsentrasi 1000, 2000, 3000, 4000, 5000, 7500 ppm dan lanpa ekstrak (0 ppm) sebagai kontrol. Parameter pengamatan meliputi persentase kematian larva, pupa dan imago, persentase penetasan telur dan emcrgensi pupa, fckunditi imago, penurunan volume makan dan panjang siklus hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun gambir mcmiliki sifat insektisidal yang baik sehingga mampu mempengaruhi aspek biologis dari serangga A. miliaris. Dalam konsentrasi 5000 ppm dan 7500 ppm bahan ini dapat menyebabkan kematian terhadap larva instar III, IV, V, VI sebesar 65.20%, 62.00%, 55.20%, 46.80% dan 79.40%, 74.20%, 67.80%, 57.00%. Kedua konsentrasi juga mampu meningkatkan kematian imago 6.85% dan 7.15% menekan persentase penetasan lelur (18.09% dan 21.94%) dan emergensi pupa (16.72% dan 20.82%). Di samping itu konsentrasi diatas dapal menekan volume makan larva dan imago, mempengaruhi masa prcreproduktif dan tingkat fckunditi imago seta memperpanjang siklus hidup.Kata kunci: Uncaria gambir Roxb., insektisida botanis, ekstrak daun, Aspidomorpha miliaris, F., aspek biologis ABSTRACTBiology of Aspidomorpha miliaris F. at several concen¬ trations ofgambier leavesextractAspidomorpha Miliaris F. (Coleoptera Chrysomelidae) is an impotant pest in Ipomoeaceae, convolvulaceae and cucurbitaceae plants. Their population need to be controlled by using botanical insecticide, consideing thai the product from these plants usually be oiented to food. Gambier (Uncaria gambier.Roxb), is a potential source for botanical pesticide, because the leaves contain chemical compounds in the form of catechin, lannin catecu (tannat), querchitin and some other compounds. In connection with that, the research on biologycal aspects of A. millions at some concentration of gambier leaf extract was done in KP. Laing Solok from July 2001 lo January 2002. The research used a completely randomized design with 7 treatments and 4 replications. The concentration of gambir leaf extracts were 1000, 2000, 3000, 4000. 5000, 7500 ppm. 0 ppm as control The paiiiineleis oliseivcd were laivac motality, pupae and Imago, egg exlotion and pupae emergency, imago fecundity, the decrease of eating volume and life cycles. The research result showed that gambier leaf extract had good inseciicidallity and was able to influence the biology aspect A. miliaris insect. At the concentration of 5000 ppm and 7500 ppm this extract caused mortality to the larva instar III, IV, V, VI as much as 65.20% 62.00%, 55.20% 46.80% and 79.40%, 74.20%, 67.80%, 57.00%. Both the concentraions also were able (o increase (he imago motality 6.85% and 7.15%, pressed down the egg exlosion percentage and pupae emergency 18.09% and 21.94% and 16.72% and 20.82%. Besides these concentrations above could press down larvae and imago eating volume, influences the prareproductive period and the imago fecundity level and life cycles.Key words: Uncaria gambir Roxb., botanical insecticide, leaf extract, Aspidomorpha miliaris F., biological aspect
PENGUJIAN KETAHANAN HIBRIDA SOMATIK NILAM (Pogostemon cablin Benth) TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) DI LAHAN ENDEMIK Nasrun .; Nurmansyah .; Herwita Idris; Burhanudin .
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 23, No 2 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v23n2.2012.%p

Abstract

Pengujian ketahanan hibrida somatik nilam terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) di lahan endemik telah dilaksanakan di daerah endemik penyakit layu bakteri nilam di Desa Situak Ujung Gading Pasaman Barat, Sumatera Barat sejak Maret sampai Desember 2009. Tujuan penelitian untuk mendapatkan hibrida somatik nilam tahan penyakit layu bakteri. Penelitian  menggunakan lima nomor hibrida somatik nilam terpilih hasil pengujian secara in planta di rumah kaca, yaitu 2 IV/4, 2IV/5, 2IV/9, 9II/21, dan 9 IV/3, serta varietas Sidikalang sebagai pembanding. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Parameter yang diamati adalah masa inkubasi penyakit, kematian tanaman, intensitas serangan penyakit, pertumbuhan tanaman, dan produksi daun basah. Hasil penelitian menunjukkan, hibrida somatik 2 IV/4 lebih toleran terhadap penyakit layu bakteri dibandingkan hibrida somatik lainnya dan varietas pembanding Sidikalang. Hibrida somatik 2 IV/4 menunjukkan masa inkubasi gejala penyakit 162,5 hari setelah tanam (HST), lebih lambat dibandingkan hibrida somatik lainnya dan varietas Sidikalang, dengan intensitas serangan penyakit 16%, dan tidak mengalami kematian sampai akhir penelitian (184 hari setelah tanam). Hibrida somatik 2IV/4 juga menunjukkan pertumbuhan tanaman lebih baik dibandingkan dengan hibrida somatik lainnya dan varietas Sidikalang. Hibrida somatik 2IV/4 juga memperlihatkan produksi daun basah (910,5 g tanaman-1) lebih tinggi dari pada hibrida somatik lainnya dengan produksi daun basah 375,4-775,0 g tanaman-1 dan varietas Sidikalang dengan produksi daun basah 337,5 g tanaman-1 sehingga berpeluang untuk dikembangkan sebagai varietas nilam toleran penyakit layu bakteri.
BIOLOGI Aspidomorpha miliaris, F. PADA BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK DAUN GAMBIR . ADRIA; HERWITA IDRIS
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n2.2004.51-58

Abstract

Aspidomorpha miliaris. F. (Coleoptera: Chrysomelidae) termasuk hama penting pada tanaman Ipomoeaceae, Convolvulaceae dan Cucurbitaceae yang pengendalian populasinya perlu diarahkan memakai insektisida botanis, mengingat produk dai tanaman ini umumnya bcroricntasi pangan. Gambir (Uncaria gambir, Roxb), merupakan salah satu tanaman sumber bahan pestisida botanis yang potensial, karena daun tanaman ini mengandung senyawa kimia berupa catechin, tannin catecu (tannat), querchitin dan beberapa senyawa lainnya. Sehubungan dengan itu lelah dilakukan penelitian tentang aspek biologis A. miliaris pada beberapa konsentrasi ekstrak daun gambir di Kebun Percobaan Laing Solok mulai bulan Juli 2001 sampai Januari 2002. Penelitian memakai rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan, masing-masing perlakuan adalah ekstrak daun gambir konsentrasi 1000, 2000, 3000, 4000, 5000, 7500 ppm dan lanpa ekstrak (0 ppm) sebagai kontrol. Parameter pengamatan meliputi persentase kematian larva, pupa dan imago, persentase penetasan telur dan emcrgensi pupa, fckunditi imago, penurunan volume makan dan panjang siklus hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun gambir mcmiliki sifat insektisidal yang baik sehingga mampu mempengaruhi aspek biologis dari serangga A. miliaris. Dalam konsentrasi 5000 ppm dan 7500 ppm bahan ini dapat menyebabkan kematian terhadap larva instar III, IV, V, VI sebesar 65.20%, 62.00%, 55.20%, 46.80% dan 79.40%, 74.20%, 67.80%, 57.00%. Kedua konsentrasi juga mampu meningkatkan kematian imago 6.85% dan 7.15% menekan persentase penetasan lelur (18.09% dan 21.94%) dan emergensi pupa (16.72% dan 20.82%). Di samping itu konsentrasi diatas dapal menekan volume makan larva dan imago, mempengaruhi masa prcreproduktif dan tingkat fckunditi imago seta memperpanjang siklus hidup.Kata kunci: Uncaria gambir Roxb., insektisida botanis, ekstrak daun, Aspidomorpha miliaris, F., aspek biologis ABSTRACTBiology of Aspidomorpha miliaris F. at several concen¬ trations ofgambier leavesextractAspidomorpha Miliaris F. (Coleoptera Chrysomelidae) is an impotant pest in Ipomoeaceae, convolvulaceae and cucurbitaceae plants. Their population need to be controlled by using botanical insecticide, consideing thai the product from these plants usually be oiented to food. Gambier (Uncaria gambier.Roxb), is a potential source for botanical pesticide, because the leaves contain chemical compounds in the form of catechin, lannin catecu (tannat), querchitin and some other compounds. In connection with that, the research on biologycal aspects of A. millions at some concentration of gambier leaf extract was done in KP. Laing Solok from July 2001 lo January 2002. The research used a completely randomized design with 7 treatments and 4 replications. The concentration of gambir leaf extracts were 1000, 2000, 3000, 4000. 5000, 7500 ppm. 0 ppm as control The paiiiineleis oliseivcd were laivac motality, pupae and Imago, egg exlotion and pupae emergency, imago fecundity, the decrease of eating volume and life cycles. The research result showed that gambier leaf extract had good inseciicidallity and was able to influence the biology aspect A. miliaris insect. At the concentration of 5000 ppm and 7500 ppm this extract caused mortality to the larva instar III, IV, V, VI as much as 65.20% 62.00%, 55.20% 46.80% and 79.40%, 74.20%, 67.80%, 57.00%. Both the concentraions also were able (o increase (he imago motality 6.85% and 7.15%, pressed down the egg exlosion percentage and pupae emergency 18.09% and 21.94% and 16.72% and 20.82%. Besides these concentrations above could press down larvae and imago eating volume, influences the prareproductive period and the imago fecundity level and life cycles.Key words: Uncaria gambir Roxb., botanical insecticide, leaf extract, Aspidomorpha miliaris F., biological aspect
FORMULA INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA PENGGULUNG DAUN (Pachyzancla stultalis) PADA TANAMAN NILAM Herwita idris
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 25, No 1 (2014): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v25n1.2014.69-76

Abstract

Hama penggulung daun (Pachyzancla stultalis) merupakan salah satu hama penting pada tanaman nilam, dapat merusak dan menurunkan mutu minyak, sehingga perlu dicari solusi yang lebih aman untuk mengendalikan hama tersebut. Penggunaan insektisida botani adalah salah satu cara untuk mengendalikan hama pada tanaman. Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian insektisida nabati yang mengandung bahan aktif cynamaldehid, citronellal, oleandrin, thevetin dan alamandin terhadap hama penggulung daun nilam P. stultalis. Penelitian dilaksanakan dirumah kaca dan di lapang. Penelitian rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap (tujuh perlakuan dan empat ulangan), sedangkan pengujian skala lapang dilakukan dalam rancangan acak kelompok (10 perlakuan dan tiga ulangan). Parameter pengamatan meliputi mortalitas dan intensitas serangan larva penggulung daun nilam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula insektisida nabati yang diuji dalam skala rumah kaca, dapat mengendalikan penggulung daun P. stultalis antara 19,81-52,09% pada konsentrasi 5-10%. Pemakaian formulasi 20%, menunjukkan efektifitas lebih baik dengan persentase kematian antara 23,96-56,24%. Pada uji skala lapang, efektivitas formula insektisida lebih rendah dibandingkan rumah kaca, dengan tingkat kematian larva antara 46,80-49,50% dan intensitas serangan antara 41,30-46,40%. Peningkatan konsentrasi formulasi menjadi 22%, menunjukkan hasil yang lebih baik pada semua parameter.