Penelitian ini membahas proses glokalisasi dalam agama Aluk To Dolo yang dilakukan oleh penganutKristen Toraja untuk diintegrasikan ke dalam agama barunya. Pengumpulan data memakai metode etnografi yaituparticipant observation dengan teknik perekaman, video, dan catatan lapangan. Penelitian dilakukan di Torajainduk seperti Makale, Mengkendek dan Sangngalla’ dan di Toraja utara dengan memusatkan penelitian padatiga kasus, yaitu pada pranata tongkonan, sistem ritual dan seni patung. Proses glokalisasi dalam ketiga kasus itumemperlihatkan persamaan dan perbedaannya. Penganalisisan data dilakukan dengan interpreasi langsung yangdigabung dengan analisis narasi.Konsep dualistis agama Aluk To Dolo yang berkonflik dengan konsep monoteismeKristen melatarbelakangi proses glokalisasi dalam ketiga kasus yaitu pranata tongkonan, sistim ritual, dan senipatung. Monoteisme merupakan kriteria utama dalam mengevaluasi Aluk To Dolo. Akibatnya banyak praktikritual yang dihapuskan. Dalam hal itu agama Kristen global bersifat hegemonik. Namun masyarakat lokal Kristenmemakai strategi untuk mempertahankan unsur lokal agamanya. Masyarakat mempunyai kejeniusan lokal untukmembangun keharmonisan kedua elemen budaya yang direkayasa pada dialektika spasio-temporal. Berdasarkantemuan itu disimpulkan bahwa globalisasi tidak selalu hegemonik pada agama lokal. Masyarakat Kristen setempatmempunyai kearifan lokal dalam membangun keharmonisan kedua elemen yang berpusat pada ekstensi spasiotemporal.Kata kunci: dialogisme, glokalisasi budaya, spasio-temporal, Kristen dan Aluk To Dolo