This Author published in this journals
All Journal Sosiohumaniora
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MAKNA “SILAS” MENURUT KEARIFAN BUDAYA SUNDA PERSPEKTIF FILSAFAT NILAI: RELEVANSINYA BAGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN Firdaus Saleh; Soejadi -; Lasiyo -
Sosiohumaniora Vol 15, No 2 (2013): SOSIOHUMANIORA, JULI 2013
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.996 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v15i2.5745

Abstract

Makna silih asih, silih asah, silih asuh (Silas) sebagai kearifan budaya Sunda mengandung nilaikeharmonisan dalam membangun kualitas kemanusiaan, sehingga digunakan sebagai metodepemberdayaan masyarakat miskin. Dalam perspektif filsafat nilai, makna nilai tersebut memiliki relevansibagi pemberdayaan masyarakat miskin, karena secara sistematika filsafat menunjukkan bahwa, silihasih mengandung makna nilai ontologis, silih asah mengandung makna nilai epistemologis, dan silihasuh mengandung nilai aksiologis. Pada hakikatnya, manusia miskin diakibatkan oleh ketidakberdayaanmengoptimalkan fungsi susunan hakikat kodrat berupa jiwa (akal, rasa, karsa) dan raganya melaluikehidupannya, sehingga dibutuhkan transformasi nilai pemberdayaan dalam hakikat kodrat manusiayang menjadi subtansi dasarnya. Esensi makna nilai Silas bersifat universal sesuai dengan nilai-nilaiPancasila yang digunakan sebagai metode pemberdayaan masyarakat miskin dengan memiliki ciri-ciriberfikir kefilsafatan, bersifat konseptual, runtut, dan sistematis. Dalam menginternalisasikan maknatersebut, ternyata lebih kondusif pada masyarakat perdesaan daripada perkotaan, tetapi menghadapikendala mulai tergerusnya nilai tersebut dalam akulturasi dengan budaya luar, sehingga dibutuhkanrefungsionalisasi makna Silas dengan melakukan redefinisi dalam dimensi kekinian dan tidak mengubahkandungan subtansi nilainya yang disosialisasikan kepada masyarakatnya.