Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN LINDUNG BUKIT DAUN DI BENGKULU Gunggung Senoaji
Sosiohumaniora Vol 13, No 1 (2011): SOSIOHUMANIORA, MARET 2011
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.514 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v13i1.5458

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan lindung di Bengkulu. Metode penelitiannya adalah metode survey dengan beberapa teknik PRA. Penelitian di lakukan di Desa Air Lanang, Bengkulu. Data yang dikumpulkan dengan pengamatan dan wawancara mendalam kemudian dianalisis dengan analisis dekriptif kualitatif dan kuantitatif. Desa Air lanang memiliki luas 289,25 ha dengan jumlah penduduknya sebanyak 1.460 jiwa (285 KK). Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dengan tingkat pendidikan yang rendah. Rata-rata luas lahan garapannya adalah 2,5 hektar, dimana 1,6 hektar berada di dalam kawasan hutan lindung. Komoditas utamanya adalah kopi, dengan produksi sebesar 500 kg/ha/tahun. Jarak rata-rata dari desa ke kebun di hutan lindung adalah 2,6 km. Pendapatan masyarakat sangat tergantung kepada harga kopi yang fluktuasi harganya cukup tinggi. Jika harga kopi dibawah Rp. 6000, mereka termasuk kedalam katagori masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Saat ini pengelolaan kawasan hutan lindung oleh masyarakat menggunakan konsep hutan kemasyarakatan, yang ternyata belum bisa mengoptimalkan fungsi hutan lindung. Kata kunci : Sosial, ekonomi, masyarakat sekitar hutan, Hutan Lindung
SISTEM PERTANIAN PERLADANGAN BERPINDAH DAN KONSERVASI HUTAN OLEH MASYARAKAT BADUY DI BANTEN SELATAN Gunggung Senoaji
Sosiohumaniora Vol 14, No 3 (2012): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2012
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v14i3.5496

Abstract

Masyarakat Sunda Baduy adalah sebutan bagi masyarakat sunda yang hidupnya mengasingkan diri di sekitar Pegunungan Kendeng, Banten Selatan. Kehidupan mereka sangat tergantung kepada lingkungan alamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pengelolaan lahan oleh masyarakat Baduy di lahan budidaya dan di lahan perlindungan lingkungannya. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan menggunakan beberapa teknik PRA. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi-pengikutsertaan dan wawancara terbuka mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat Baduy mampu mengelola lahan yang diberikan oleh pemerintah, berupa hak ulayat, dengan arif dan bijaksana. Mereka membagi tata guna lahannya menjadi kawasan hutan, kawasan budidaya, dan pemukiman. Kawasan hutan mutlak digunakan untuk perlindungan lingkungan sehingga tidak boleh dialihfungsikan untuk kepentingan lainnya. Setiap masyarakat Baduy wajib berladang sebagai bentuk penghormatan terhadap Sanghyang Dewi Sri yang menjadi salah satu kepercayaannya. Sistem pertanian masyarakat Baduy adalah pertanian padi lahan kering pola perladangan berpindah dengan masa bera 5-7 tahun. Tata cara perladangan dan perlindungan lingkungan diatur oleh norma adat yang harus ditaati oleh seluruh masyarakat Baduy. Kepatuhan masyarakat Baduy terhadap norma adat menjadikan sistem perladangan berpindah dan pelestarian hutan ini tetap berjalan sampai saat ini, sehingga mereka diakui sebagai kelompok masyarakat yang mampu mengelola lingkungan dengan kearifan lokalnya. Kata kunci : Masyarakat Baduy, perlestarian hutan, dan perladangan berpindah
Perilaku Masyarakat Baduy dalam Mengelola Hutan, Lahan, dan Lingkungan di Banten Selatan Gunggung Senoaji
Humaniora Vol 23, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.876 KB) | DOI: 10.22146/jh.1006

Abstract

Baduy community is a Sundanese ethnic isolating themselves around Kendeng Mountains, South Banten. They occupy an area about 5101.8 hectares of land in which the property rights were granted from the government. The people strictly adhere to their customary rules and norms. Hence, this article described to conditions of Baduy community and their behaviour in managing its forests, land and environments. The Baduy behaviour is different from the general community. These behaviour were believed to be initiated by the decrease availability of cultivated areas due to the population growth and influence their customary rules and norms. Their behaviour forms of local wisdom in managing the environment. The behaviour of Baduy community implemented in managing agricultural land, forest, and environment.
PEMANFAATAN LIMBAH KOTORAN AYAM SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN KOMPOS Efratenta Katherina Defari; Deselina ,; Gunggung Senoaji; Fajrin Hidayat
DHARMA RAFLESIA Vol 12, No 1 (2014): JUNI
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/dr.v12i1.3383

Abstract

Farm poultry, especially chicken, is a producer of meat and eggs. In addition to producing meat and eggs, chicken farms also have negative impacts, which can cause odorless gasthat can pollute the environment. In the village there are six places Srikaton laying chickenfarms that always make chicken manure every day. Alternative technology that can beapplied and has a positive outlook is to convert poultry farm waste, ie chicken manure intocompost. IBM outer target groups laying chicken farming is to produce compost chickenthat can be utilized by the villagers Srikaton (short-term targets), and the long-term targetis to sell the compost to other consumer good in the village Srikaton, and outside thevillage Srikaton . Effective technology for the transformation of society is using extensionmethods, training by making demonstrations, or direct practice coupled with mentoring.The target of this service is Srikaton village community, which consists of chickenbreeders, youth organization group, the PKK, and residents who do not have a job(unemployed). Based on the activities carried out, the people were very enthusiastic.Through these activities, the village Srikaton has the skills to produce compost chickenmanure that can be used for fertilizer in the garden itself, and or for sale, so as to improvetheir welfare.Keywords: chicken manure, compostĀ