N. M. Heriyanto
Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemanfaatan Dedak Padi sebagai Pakan Tambahan Rusa R. Garsetiasih; N. M. Heriyanto; Jaya Atmaja
Buletin Plasma Nutfah Vol 9, No 2 (2003): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v9n2.2003.p23-27

Abstract

AbstractThe experiment was conducted to study growth of deer (Cervus timorensis) fed on mixture of grass, nampong leaves and rice bran. Each of four head deers of 6-8 months old with 22.5-34.5 kgs of weight was consecutively feed on grass with nampong (treatment R0), grass with leaves of nampong and 1% rice bran (treatment R1), grass with leaves of nampong and 1,5% rice bran (treatment R2), grass with leaves of nampong and 2% rice bran (treatment R3). Percentages of the rice bran were based on the average initial weight of the deer. The result showed that the treatment of R2 tended to give better growth than other treatments. Statistical analysis result showed that among the treatment to the deer growth are non significant.AbstrakPenelitian pengaruh pemberian hijauan pakan berupa rumput dan daun nampong dengan campuran dedak padi telah dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan rusa Timor (Cervus timorensis). Penelitian menggunakan empat ekor rusa umur 6- 8 bulan dengan bobot badan berkisar antara 22,5-34,5 kg. Perlakuan yang diberikan adalah rumput dan daun nampong (R0), rumput dan daun nampong ditambah 1% dedak padi (R1), rumput dan daun nampong ditambah 1,5% dedak padi (R2), rumput dan daun nampong ditambah 2% dedak padi (R3). Dedak padi diberikan berdasarkan bobot badan awal rusa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian rumput dan daun nampong ditambah 1,5% dedak padi (R2) cenderung memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan rusa.
Status Kelangkaan Jenis Pohon di Kelompok Hutan Sungai Lekawai-Sungai Jengonoi, Sintang, Kalimantan Barat N. M. Heriyanto; Endro Subiandono
Buletin Plasma Nutfah Vol 9, No 2 (2003): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v9n2.2003.p28-37

Abstract

AbstrackStudy on the rarity status of plant species in Lekawai river - Jengonoi river forest complex, Sintang, West Kalimantan aimed of confirming rarity status based on IUCN study for further conservation. Stratified random sampling was applied. Fifty five tree species were found. Eleven species were vulnerable based on IUCN criteria such as Dipterocarpus elongatus Foxw., Hopea mengarawan Miq., Shorea macroptera Dyer., Dryobalanops oblongifolia Dyer., Shorea parvifolia Dyer., Agathis borneensis Becc., Eusideroxylon zwageri, Shorea laevis Ridl., Cratoxylum arborescens BL., Alstonia angustifolia Hook.f., and Dacryodes rostrata H.J.L. However based on the field study their species rarity status were not proven. Only Aquilaria malaccensis Lamk. fell under species rarity status and included vulnerable based on IUCN category. Therefore, this species should be conserved.AbstrakPenelitian status kelangkaan jenis pohon di kelompok hutan Sungai Lekawai - Sungai Jengonoi, Sintang, Kalimantan Barat, bertujuan untuk mengetahui status jenis pohon berdasarkan pada IUCN, untuk selanjutnya diambil langkah pelestariannya. Metode yang digunakan, yaitu penarikan contoh bertingkat dengan peletakan satuan contoh tingkat pertama secara terarah dan tingkat kedua secara sistematis. Dalam penelitian ditemukan 55 jenis pohon, 11 di antaranya termasuk kriteria langka IUCN, yaitu Dipterocarpus elongatus Foxw. (keruing), Hopea mengarawan Miq. (meranti batu), Shorea macroptera Dyer. (meranti kuning), Dryobalanops oblongifolia Dyer. (kapur), Shorea parvifolia Dyer., Agathis borneensis Becc. (damar), Eusideroxylon zwageri (ulin T.et.B.), Shorea laevis Ridl. (bangkirai), Cratoxylum arborescens BL. (geronggang), Alstonia angustifolia Hook.f. (pulai), dan Dacryodes rostrata H.J.L. (kemaisan). Pohon jenis Aquilaria malaccensis Lamk. (gaharu) telah masuk ke dalam status kelangkaan spesies dan kategori rawan menurut kriteria IUCN. Untuk itu spesies ini perlu dilestarikan.