nFN Asadi
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111 Telp. (0251) 8337975; Faks. (0251) 8338820

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sidik Lintas Karakter Agronomi dan Ketahanan Hama Pengisap Polong terhadap Hasil Plasma Nutfah Kedelai nFN Asadi
Buletin Plasma Nutfah Vol 18, No 1 (2012): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v18n1.2012.p1-8

Abstract

Path Analysis of Agronomic Characters and Resistance to Pod Sucker Bug on Yield of Soybean Germplasm. Asadi. Soybean productivity was still low and unstable that commonly caused by pest attack and disease. Pod sucking insect pest is most serious pest of soybean that reduce seed production. Riptortus linearis is the most dominant pest of pod sucking bug of soybean. Planting of resistant variety is one of the biological control. To support the soybean breeding program for pod sucking pest resistance, the availability of sources of resistance genes is needed. Sources of resistance genes are obtained by evaluating and identifying of soybean germplasm. Based on soybean germplasm evaluation, it can be identified sources of resistance genes that can be used as the base material of soybean breeding programs for pod sucking pest resistance. How influence of independent variable (Xi) such as agronomic characters and resistance to pod sucking on seed yield as the dependent variable (Yi) of soybean germplasm, can be estimated by path analysis. By knowing the characters that influence the seed yield directly, so the character is going to be used for selection of soybean yield of germplasm. Based on 103 evaluations of soybean germplasm, as much as 5 accessions (B3778, B4400, B3802, B4176, and B2973) were identified as the resistant accessions, while accessions B4142, B4417 (Panderman), and the B3462 were most susceptible to pest of pod sucking bug. The seed size or pod size of soybean germplasm correlated positively and significantly on resistance to pod sucking bug. Multiple regression analysis indicated that the plant height (X3), and pod sucking bug attack (X7) significantly affect seed yield of soybean germplasm. The higher plant, the lower pod sucking bug attack, the higher soybean yield. Path analysis showed that plant high character (X3) affected the seed yield of soybean germplasm directly, indicating that the plant high character can be used for the selection of seed yield of soybean germplasm. Number of pods per plant (X5) by the effect of plant high (X3) affects the grain yield (Y) of soybean germplasm indirectly. AbstrakProduktivitas kedelai yang masih rendah dan beragam disebabkan antara lain oleh masih tingginya serangan hama dan penyakit. Pengisap polong tergolong hama utama yang cukup serius mempengaruhi hasil kedelai. Reptortus linearis merupakan hama yang paling dominan menyerang tanaman kedelai. Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu cara pengendalian yang ramah lingkungan. Untuk mendukung program pemuliaan kedelai terhadap ketahanan hama pengisap polong, ketersediaan sumber gen tahan sangat diperlukan. Sumber gen tahan diperoleh dengan cara mengevaluasi dan mengidentifikasi sejumlah plasma nutfah kedelai yang tersedia. Dari hasil evaluasi diharapkan akan teridentifikasi sumber gen tahan yang dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk program pemuliaan kedelai terhadap ketahanan hama pengisap polong. Sebarapa jauh pengaruh karakter agronomi dan ketahanan terhadap hama pengisap polong sebagai variabel bebas (Xi) terhadap hasil biji sebagai variabel tak bebas (Yi) pada plasma nutfah kedelai dapat diketahui melalui analisis lintasan. Dengan mengetahui karakter yang berpengaruh langsung terhadap hasil, maka karakter tersebut dapat digunakan untuk seleksi terhadap hasil kedelai. Berdasarkan hasil evaluasi 103 plasma nutfah kedelai, sebanyak lima aksesi telah diidentifikasi (B3778, B4400, B3802, B4176, dan B2973) sebagai aksesi yang tahan, sedangkan aksesi B4142, B4417 (Panderman), dan B3462 termasuk paling rentan terhadap hama pengisap polong. Ukuran biji yang dicerminkan oleh besarnya polong berkorelasi positif dan nyata dengan kerentanan terhadap hama pengisap polong. Analisis regresi berganda mengindikasikan bahwa tinggi tanaman (X3) dan tingkat serangan hama pengisap polong (X7) berpengaruh nyata terhadap hasil biji kedelai. Semakin tinggi tanaman dan semakin rendah serangan hama pengisap polong maka semakin tinggi hasil. Analisis sidik lintas menunjukkan bahwa sumbangan tinggi tanaman (X3) besar dalam menentukan hasil (Y). Artinya, karakter tinggi tanaman dapat digunakan untuk seleksi terhadap hasil biji kedelai. Jumlah polong per tanaman (X5) tidak langsung menentukan hasil biji (Y) kedelai dengan adanya peran tinggi tanaman (X3).
Identifikasi Sumber Daya Genetik Kedelai Tahan Penyakit Virus Kerdil Kedelai nFN Asadi; Nurwita Dewi
Buletin Plasma Nutfah Vol 16, No 2 (2010): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v16n2.2010.p107-112

Abstract

Identification of Soybean Germplasm Resistant to Soybean Stunt Virus (SSV). The experiment was conducted at screen cage and laboratory of the Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), Bogor. The objective was to obtain genotypes (accessions) which were resistant to SSV. The experiment consisted of two activities (1) virulent test of SSV isolates, (2) evaluation and identification of soybean germplasm for resistance to Soybean stunt virus. Evaluation and identification consisted of three steps. Step I, 900 soybean accessions were evaluated for their resistance to SSV. In this trial, each accession or genotype was planted in a pot, 8-14 plants/pot. One week after planting, each plant was inoculated with selected SSV isolate. The disease incidence was observed visually one month after inoculation. In step II, the soybean genotypes considered resistant in step I or about 10% of the total accessions were reevaluated using the Dot-ELISA technique. Finally, in the last step, the resistances of the selected genotypes from step II were reconfirmed using the same technique as that in the step I. The result showed that among two SSV isolates that were tested, isolate J (Jakarta) was more virulent than isolate B, and it is used as inocula source for the next evaluation. Seventeen soybean genotypes were identified resistant to SSV, three of the them showed good agronomic performances, i.e., Mlg 2521, B3570, and Taichung will be used as resistant parents in the subsequent soybean breeding for resistance to SSV. AbstrakPercobaan dilakukan di kurungan kawat dan laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Penelitian bertujuan untuk memperoleh beberapa aksesi kedelai yang tahan terhadap SSV. Penelitian terdiri dari dua kegiatan (1) uji virulensi isolat SSV dan (2) evaluasi dan identifikasi sumber daya genetik kedelai untuk ketahanan terhadap SSV. Kegiatan kedua (evaluasi dan indentifikasi) terdiri atas tiga tahapan penelitian. Pada tahap I, sebanyak 900 aksesi plasma nutfah kedelai dievaluasi ketahanannya terhadap SSV. Setiap aksesi ditanam dalam pot (8-14 tanaman/pot). Seminggu setelah tanam, setiap tanaman diinokulasi dengan SSV virulen (inokulum hasil uji virulensi pada kegiatan, pertama tingkat serangan SSV diamati secara visual sebulan setelah inokulasi. Pada tahap kedua sekitar 10% (84 aksesi) yang bereaksi sangat tahan hingga agak tahan (skor ketahanan 0-3) dievaluasi kembali ketahanannya terhadap SSV secara serologi menggunakan metode Dot-ELISA. Pada tahap ketiga, aksesi tahan terpilih pada penelitian tahap kedua diuji kofirmasi kembali dengan menggunakan teknik Dot-ELISA. Hasil penelitian menunjukkan di antara dua isolat SSV yang diuji, isolat J (Jakarta) lebih virulen dibandingkan dengan isolat B (Bogor). Isolat J digunakan sebagai sumber inokulum untuk evaluasi selanjutnya. Tujuh belas aksesi telah diidentifikasi sebagai aksesi tahan SSV, tiga di antaranya memperlihatkan konsistensi ketahanan dan penampilan agronomis yang baik, yaitu MLG2521, B3570, dan Taichung. Ketiga aksesi diidentifikasi sebagai sumber gen/tetua tahan SSV.