Cece suhara
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Ketahanan Delapan Klon Abaka (Musa textilis) Terhadap Fusarium oxysporum F sp. cubesence Titiek Yulianti; Kristiana Sri Wijayanti; Cece suhara; Untung Setyobudi; Marjani Murtojo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.1-7

Abstract

Penyakit layu Fusarium pada tanaman Abaka (Musa textilis L.) yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum  f sp. cubesence (Foc) merupakan salah satu kendala terhambatnya perkembangan Abaka di Indonesia karena menyebabkan penurunan kualitas serat.  Gejala serangan Foc adalah terbelahnya batang semu bagian luar dan warna daun berubah menjadi kuning pucat sampai kuning kecoklatan kemudian layu.  Indonesia belum memiliki varietas unggul untuk mendukung pengembangan Abaka, meskipun Balittas memiliki koleksi plasma nutfah yang cukup.  Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi ketahanan delapan klon Abaka yang memiliki potensi produksi tinggi terhadap infeksi Foc.  Penelitian dilakukan di rumah kaca Balittas pada tahun 2018.  Sebanyak delapan klon abaka (UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, dan UB-5) yang diuji disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga kali ulangan.   Isolat Foc yang digunakan berasal dari tanaman abaka yang menunjukkan gejala layu Fusarium.    Masing-masing klon ditanam dalam polibag berukuran 500 g satu tanaman per polibag. Setiap klon ditanam sebanyak 10 polibag per ulangan.  Benih abaka berumur 3 bulan direndam selama 24 jam dalam suspensi konidia Foc dengan kerapatan105/ml. Pengamatan kejadian penyakit dilakukan setiap 5 hari sekali sampai tanaman berumur 60 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa,  tidak ada klon abaka yang diujikan tahan terhadap Foc melainkan rentan (UB8 dan Tangongon) dengan tingkat kejadian penyakit 43,3% - 46,7% dan sangat rentan (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7,  UB-11, dan UB-5) dengan tingkat kejadian 56,7% - 96,7%. Resistance of Eight Clones of Abaca (Musa textilis) to Fusarium oxysporum F sp. cubesenceABSTRACT.Fusarium wilt on Abaca (Musa textilis L.) caused by Fusarium oxysporum f sp. cubesence (Foc) was one of the obstacles to development of Abaca in Indonesia since it decreased fibre quality. Symptom of Foc infection was splitted of the outer low pseudostem and discoloured of the leaf sheat to pale yellow or brownish yellow and then wilt. Indonesia has not released a superior variety (ies) to support the development of Abaca, although Balittas has enough germplasm collection.  This paper reported the resistance of eight Abaca clones, which have high potential production, to Foc.  The trial activity has been conducted in the screen house of BALITTAS in 2018.  The tested clones were:  UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, and UB-5 which was arraned in randomized block design with three replicates. Foc was isolated diseased abaca with wilt and yellow leaf symptom. Each clone was grown in sterilised soil in a 500 g polybag, with 10 three months old plants for each replicate.  The plants were soaked in conidial suspension (105/ml) for 24 hours.  Disease incidence was observed every five days for 60 days.  Result of the test showed, none of the clones was resistant to Foc but susceptible (UB8 and Tangongon) with disease incidence rates of 43.3% - 46.7% and very susceptible (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1 -2, UB-7, UB-11, and UB-5) with an incidence rate of 56.7% - 96.7%, respectively.
Ketahanan Beberapa Aksesi Tembakau Cerutu Terhadap Penyakit Cucumber Mozaic Virus (CMV) Cece SUHARA
Jurnal Pengendalian Hayati Vol 1 No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan beberapa aksesi tembakau cerutu (Nicotiana tabacum L.) terhadap penyakit Cucumber Mosaic Virus (CMV) Penelitian dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kasa Fitopatologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Malang, mulai bulan Mei sampai dengan Oktober tahun 2006. Rancangan percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari 30 aksesi tembakau cerutu termasuk tanaman kontrol. Unit perlakuan 10 tanaman tiap aksesi. Parameter pengamatan dengan menghitung luas serangan, intensitas serangan dan persentase daun yang terserang pertanaman. Inokulasi dilakukan pada umur dua minggu setelah tanam pada tiga helai daun bagian atas yang telah membuka secara mekanis setelah ditaburi carborundum 600 mess. Ekstrak daun tembakau yang sakit dalam buffer fosfat pH 7 dioleskan secara merata menggunakan kapas steril. Pengamatan dilakukan satu minggu setelah inokulasi dengan interval satu minggu. Hasil evaluasi menunjukkan ketahanan aksesi tembakau cerutu terhadap penyakit CMV diperoleh : dua aksesi sangat tahan yaitu S.2234 dan S.2398 dengan rata-rata luas serangan 0,00%.
Ketahanan Delapan Klon Abaka (Musa textilis) Terhadap Fusarium oxysporum F sp. cubesence Titiek Yulianti; Kristiana Sri Wijayanti; Cece suhara; Untung Setyobudi; Marjani Murtojo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.52 KB) | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.1-7

Abstract

Penyakit layu Fusarium pada tanaman Abaka (Musa textilis L.) yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum  f sp. cubesence (Foc) merupakan salah satu kendala terhambatnya perkembangan Abaka di Indonesia karena menyebabkan penurunan kualitas serat.  Gejala serangan Foc adalah terbelahnya batang semu bagian luar dan warna daun berubah menjadi kuning pucat sampai kuning kecoklatan kemudian layu.  Indonesia belum memiliki varietas unggul untuk mendukung pengembangan Abaka, meskipun Balittas memiliki koleksi plasma nutfah yang cukup.  Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi ketahanan delapan klon Abaka yang memiliki potensi produksi tinggi terhadap infeksi Foc.  Penelitian dilakukan di rumah kaca Balittas pada tahun 2018.  Sebanyak delapan klon abaka (UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, dan UB-5) yang diuji disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga kali ulangan.   Isolat Foc yang digunakan berasal dari tanaman abaka yang menunjukkan gejala layu Fusarium.    Masing-masing klon ditanam dalam polibag berukuran 500 g satu tanaman per polibag. Setiap klon ditanam sebanyak 10 polibag per ulangan.  Benih abaka berumur 3 bulan direndam selama 24 jam dalam suspensi konidia Foc dengan kerapatan105/ml. Pengamatan kejadian penyakit dilakukan setiap 5 hari sekali sampai tanaman berumur 60 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa,  tidak ada klon abaka yang diujikan tahan terhadap Foc melainkan rentan (UB8 dan Tangongon) dengan tingkat kejadian penyakit 43,3% - 46,7% dan sangat rentan (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7,  UB-11, dan UB-5) dengan tingkat kejadian 56,7% - 96,7%. Resistance of Eight Clones of Abaca (Musa textilis) to Fusarium oxysporum F sp. cubesenceABSTRACT.Fusarium wilt on Abaca (Musa textilis L.) caused by Fusarium oxysporum f sp. cubesence (Foc) was one of the obstacles to development of Abaca in Indonesia since it decreased fibre quality. Symptom of Foc infection was splitted of the outer low pseudostem and discoloured of the leaf sheat to pale yellow or brownish yellow and then wilt. Indonesia has not released a superior variety (ies) to support the development of Abaca, although Balittas has enough germplasm collection.  This paper reported the resistance of eight Abaca clones, which have high potential production, to Foc.  The trial activity has been conducted in the screen house of BALITTAS in 2018.  The tested clones were:  UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, and UB-5 which was arraned in randomized block design with three replicates. Foc was isolated diseased abaca with wilt and yellow leaf symptom. Each clone was grown in sterilised soil in a 500 g polybag, with 10 three months old plants for each replicate.  The plants were soaked in conidial suspension (105/ml) for 24 hours.  Disease incidence was observed every five days for 60 days.  Result of the test showed, none of the clones was resistant to Foc but susceptible (UB8 and Tangongon) with disease incidence rates of 43.3% - 46.7% and very susceptible (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1 -2, UB-7, UB-11, and UB-5) with an incidence rate of 56.7% - 96.7%, respectively.