Latar Belakang: Banyak ibu kesulitan pasca bersalin mengalami dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Berbagai faktor harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping potensial, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan dan orang tua. Pasangan Usia Subur di Desa Mangunan banyak yang tidak menggunakan kontrasepsi. Tujuan Penelitian : mengetahui penggunaan alat kontrasepsi di Desa Mangunan Dlingo Bantul Metode Penelitian: Jenis penelitian ini bersifat kuantitatif dan menggunakan studi korelasi Design penelitian yaitu survei analitik dengan pendekatan cross sectional, yang dilakukan di Desa Mangunan pada bulan Januari - April 2014 dengan menggunakan data sekunder hasil praktik kebidanan komunitas dengan melihat pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, jumlah anak dan penghasilan keluarga. Hasil Penelitian :Desa Mangunan ada sebanyak 602 PUS dan paling sedikit pasangan usia subur di dusun Kanigoro yaitu 79 pasangan usia subur. Pendidikan istri sebanyak 40.7% berpendidikan sekolah dasar (SD).Pekerjaan istri sebanyak 43.2% adalah petani. Penghasilan keluarga sebanyak 79.4% kurang dari Rp 1.000.000,-.Pasangan usia subur sebanyak 38.0% mempunyai satu anak. Pengetahuan pasangan usia subur tentang alat kontrasepsi sebanyak 57.3% mempunyai pengetahuan cukup. Sebanyak 48.9% pasangan usia subur di Desa mangunan tidak menggunakan alat kontrasepsi, dan yang menggunakan kontrasepsi hormonal 41.0%. Pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepi 27.4% mengatakan sering mengalami pusing dan yang tidak mempunyai keluhan sebanyak 24.4%. Kesimpulan dan Saran :Ada hubungan bermakna jumlah anak ibu dengan penggunaan kontrasepsi di Desa Mangunan Dlingo Bantul. Tidak ada hubungan bermakna pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan terhadap penggunaan alat kontrasepsi.Untuk petugas kesehatan harus memberikan penyuluhan tentang metode kontrasepsi rasional terpilih kepada masyarakat.