Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI DESA MANGUNAN KECAMATAN DLINGO BANTUL INTISARI Eka Nur Rahayu
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.79 KB) | DOI: 10.36577/jkkh.v3i2.140

Abstract

Latar Belakang: Banyak ibu kesulitan pasca bersalin mengalami dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Berbagai faktor harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping potensial, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan dan orang tua. Pasangan Usia Subur di Desa Mangunan banyak yang tidak menggunakan kontrasepsi. Tujuan Penelitian : mengetahui penggunaan alat kontrasepsi di Desa Mangunan Dlingo Bantul Metode Penelitian: Jenis penelitian ini bersifat kuantitatif dan menggunakan studi korelasi Design penelitian yaitu survei analitik dengan pendekatan cross sectional, yang dilakukan di Desa Mangunan pada bulan Januari - April 2014 dengan menggunakan data sekunder hasil praktik kebidanan komunitas dengan melihat pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, jumlah anak dan penghasilan keluarga. Hasil Penelitian :Desa Mangunan ada sebanyak 602 PUS dan paling sedikit pasangan usia subur di dusun Kanigoro yaitu 79 pasangan usia subur. Pendidikan istri sebanyak 40.7% berpendidikan sekolah dasar (SD).Pekerjaan istri sebanyak 43.2% adalah petani. Penghasilan keluarga sebanyak 79.4% kurang dari Rp 1.000.000,-.Pasangan usia subur sebanyak 38.0% mempunyai satu anak. Pengetahuan pasangan usia subur tentang alat kontrasepsi sebanyak 57.3% mempunyai pengetahuan cukup. Sebanyak 48.9% pasangan usia subur di Desa mangunan tidak menggunakan alat kontrasepsi, dan yang menggunakan kontrasepsi hormonal 41.0%. Pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepi 27.4% mengatakan sering mengalami pusing dan yang tidak mempunyai keluhan sebanyak 24.4%. Kesimpulan dan Saran :Ada hubungan bermakna jumlah anak ibu dengan penggunaan kontrasepsi di Desa Mangunan Dlingo Bantul. Tidak ada hubungan bermakna pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan terhadap penggunaan alat kontrasepsi.Untuk petugas kesehatan harus memberikan penyuluhan tentang metode kontrasepsi rasional terpilih kepada masyarakat.
PENILAIAN KINERJA BIDAN ALUMNI AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA DI KABUPATEN SORONG SELATAN Eka Nur Rahayu
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol 1, No 3: Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKBIDYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/jik.v1i3.15

Abstract

Latar Belakang: Kabupaten Sorong Selatan sebagai salah satu kabupaten yang ada di provinsi Papua Barat sangat membutuhkan tenaga kesehatan karena masih banyak kekurangan tenaga bidan. Akademi Kebidanan Yog­ yakarta telah menjalin kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Sorong Selatan dalam mulai tahun 2009 dengan mendidik mahasiswa sebanyak 38 dan pada tahun 2012 telah diwisuda sebanyak 25 bidan. Lulusan bidan tersebut telah ditempatkan di kabupaten Sorong Selatan sebagai bidan yang bekerja di rumah sakit umum daerah sebanyak 3 orang dan yang lain bekerja di puskesmas atau menjadi bidan desa. Tujuan: ingin mengetahui bagaimana kinerja lulusan bidan Akademi Kebidanan Yogyakarta dari kabupaten Sorong Selatan. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan surveymenggunakan kuesioner dan akan melakukan wawancara. Sampel penelitian ini diambil secara purposive yaitu alumni mewakili tempat kerja di puskesmas atau rumah sakit termasuk saat praktik mandiri Hasil: Bidan lulusan Akademi Kebidanan Yogyakarta bekerja di kabupaten Sorong Selatan sebanyak 27 bidan, sebanyak 89,9 % bekerja sebagai bidan desa dan bidan di puskesmas, sedangkan yang bekerja di rumah sakit 11,1%. Bidan yang bekerja di rumah sakit sudah cukup mendapatkan ilmu tentang asuhan kebidanan, yang perlu ditambahkan adalah pengenalan tentang alat yang lebih modern seperti USG. Kinerja bidan lulusan Akademi Kebi-danan Yogyakarta sudah cukup baik dalam melaksanakan asuhan kebidanan maupun profesionalisme. Simpulan: Kinerja bidan lulusan Akademi Kebidanan Yogyakarta yang bekerja di Sorong Selatan sudah baik. Kinerja­ bidan yang bekerja di puskesmas atau menjadi bidan desa perlu diberi materi diluar kompetensi karena ke­ terbatasan petugas yang ada di sana. Perlu pelatihan tambahan bagi lulusan bidan sesuai dengan penempatan.
PENILAIAN KINERJA BIDAN ALUMNI AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA DI KABUPATEN SORONG SELATAN Eka Nur Rahayu
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol 1, No 3: Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKBIDYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.707 KB) | DOI: 10.36307/jik.v1i3.15

Abstract

Latar Belakang: Kabupaten Sorong Selatan sebagai salah satu kabupaten yang ada di provinsi Papua Barat sangat membutuhkan tenaga kesehatan karena masih banyak kekurangan tenaga bidan. Akademi Kebidanan Yog­ yakarta telah menjalin kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Sorong Selatan dalam mulai tahun 2009 dengan mendidik mahasiswa sebanyak 38 dan pada tahun 2012 telah diwisuda sebanyak 25 bidan. Lulusan bidan tersebut telah ditempatkan di kabupaten Sorong Selatan sebagai bidan yang bekerja di rumah sakit umum daerah sebanyak 3 orang dan yang lain bekerja di puskesmas atau menjadi bidan desa. Tujuan: ingin mengetahui bagaimana kinerja lulusan bidan Akademi Kebidanan Yogyakarta dari kabupaten Sorong Selatan. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan surveymenggunakan kuesioner dan akan melakukan wawancara. Sampel penelitian ini diambil secara purposive yaitu alumni mewakili tempat kerja di puskesmas atau rumah sakit termasuk saat praktik mandiri Hasil: Bidan lulusan Akademi Kebidanan Yogyakarta bekerja di kabupaten Sorong Selatan sebanyak 27 bidan, sebanyak 89,9 % bekerja sebagai bidan desa dan bidan di puskesmas, sedangkan yang bekerja di rumah sakit 11,1%. Bidan yang bekerja di rumah sakit sudah cukup mendapatkan ilmu tentang asuhan kebidanan, yang perlu ditambahkan adalah pengenalan tentang alat yang lebih modern seperti USG. Kinerja bidan lulusan Akademi Kebi-danan Yogyakarta sudah cukup baik dalam melaksanakan asuhan kebidanan maupun profesionalisme. Simpulan: Kinerja bidan lulusan Akademi Kebidanan Yogyakarta yang bekerja di Sorong Selatan sudah baik. Kinerja­ bidan yang bekerja di puskesmas atau menjadi bidan desa perlu diberi materi diluar kompetensi karena ke­ terbatasan petugas yang ada di sana. Perlu pelatihan tambahan bagi lulusan bidan sesuai dengan penempatan.
PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI DESA MANGUNAN KECAMATAN DLINGO BANTUL INTISARI Eka Nur Rahayu
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : Jurnal Kesehatan Karya Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v3i2.140

Abstract

Latar Belakang: Banyak ibu kesulitan pasca bersalin mengalami dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Berbagai faktor harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping potensial, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan dan orang tua. Pasangan Usia Subur di Desa Mangunan banyak yang tidak menggunakan kontrasepsi. Tujuan Penelitian : mengetahui penggunaan alat kontrasepsi di Desa Mangunan Dlingo Bantul Metode Penelitian: Jenis penelitian ini bersifat kuantitatif dan menggunakan studi korelasi Design penelitian yaitu survei analitik dengan pendekatan cross sectional, yang dilakukan di Desa Mangunan pada bulan Januari - April 2014 dengan menggunakan data sekunder hasil praktik kebidanan komunitas dengan melihat pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, jumlah anak dan penghasilan keluarga. Hasil Penelitian :Desa Mangunan ada sebanyak 602 PUS dan paling sedikit pasangan usia subur di dusun Kanigoro yaitu 79 pasangan usia subur. Pendidikan istri sebanyak 40.7% berpendidikan sekolah dasar (SD).Pekerjaan istri sebanyak 43.2% adalah petani. Penghasilan keluarga sebanyak 79.4% kurang dari Rp 1.000.000,-.Pasangan usia subur sebanyak 38.0% mempunyai satu anak. Pengetahuan pasangan usia subur tentang alat kontrasepsi sebanyak 57.3% mempunyai pengetahuan cukup. Sebanyak 48.9% pasangan usia subur di Desa mangunan tidak menggunakan alat kontrasepsi, dan yang menggunakan kontrasepsi hormonal 41.0%. Pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepi 27.4% mengatakan sering mengalami pusing dan yang tidak mempunyai keluhan sebanyak 24.4%. Kesimpulan dan Saran :Ada hubungan bermakna jumlah anak ibu dengan penggunaan kontrasepsi di Desa Mangunan Dlingo Bantul. Tidak ada hubungan bermakna pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan terhadap penggunaan alat kontrasepsi.Untuk petugas kesehatan harus memberikan penyuluhan tentang metode kontrasepsi rasional terpilih kepada masyarakat.