SJAHRUL BUSTAMAN
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Prospek dan Strategi Pengembangan Pala di Maluku SJAHRUL BUSTAMAN
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPala Banda (Myristica fragrans Houtt) adalah komoditas utama pada program revitalisasi perkebunan Provinsi Maluku dan merupakan tanaman asli daerah. Di tahun 2005 produksi pala rakyat 1998 ton pada luas lahan 1948 Ha, sedangkan perusahaan perkebunan menghasilkan 2357 ton dari luas areal 10.128 Ha, dengan harga biji pada kualitas terbaik Rp 30.000/kg dan fuli Rp 50.000/kg. Dari hasil kajian Agro Ekologi Zona (AEZ) Maluku, luas lahan   yang   masih   tersedia   untuk   pengembangan tanaman perkebunan termasuk pala sebesar 871.656 Ha yang tersebar pada lima kabupaten. Tanaman pala yang ada saat ini bibitnya berasal dari biji sehingga masalah sex ratio untuk menghasilkan buah masih ditemukan. Komposisi tanaman pala rakyat terdiri dari (1) Tanaman  Belum   Menghasilkan (TBM)   sebanyak 27,85%; (2) Tanaman  Menghasilkan  (TM)  44,74%  dan  Tanaman Tua/Rusak (TTR)27,40%. Dalam usaha pengembangan pala,  ketersediaan  teknologi  budidaya  tanaman  dan pasca panen telah ada  di Badan Litbang Pertanian, sedangkan dukungan dana dan kebijakan diharapkan dari  pemerintah  daerah  guna  memulihkan  kondisi tanaman. Di sektor hulu, kebijakan lebih diarahkan kepada peningkatan produktivitas, mutu biji dan fuli pala   melalui   kegiatan   ekstensifikasi,   intensifikasi, rehabilitasi, peremajaan, serta pengendalian hama dan penyakit pala. Sedangkan di sektor hilir, kebijakan lebih  diarahkan  kepada  peningkatan  nilai  tambah dalam   bentuk   hasil   olahan   untuk   industri   dan panganan.   Propinsi   Maluku   terdiri   dari   wilayah kepulauan,  sehingga  strategi  pengembangan  usaha pala untuk kegiatan agribisnis dibagi atas wilayah pengembangan I, II dan III.Kata kunci:  Pala,  Myristica  fragrant,  pengembangan, Maluku. ABSTRACTProspect and Development Strategy of Nutmeg Development In MalukuBanda’s Nutmeg (Myristica fragrant Houtt) is the main commodity of the estate crop revitalization program in Maluku Province, which is native to the region. In year 2005 the total area of the small holder nutmeg crop is about 1948 ha with the total production of about 1998 tons. While the total estate nutmeg crop covers about 10.128 ha with the total production of about 2357 tons. The price of nutmeg seed is about Rp 30.000 / kg and the price of fuli is Rp.50.000 /kg. According to the survey carried out by the BPTP Maluku, the total land which is still available for the development of estate crop including nutmeg is around 871.656 ha, spread over five Regencies (Kabupaten). The existing nutmeg plants is generally come from seedlings, therefore the sex ratio in producing nutmeg fruits is still a major constraint. The composition of small holder nutmeg plantation consists of; (i) Not yet producing (young plants) counts about 27,85% (ii) Productive plants of about 44,74% and (iii) Old plants of about 27,40%. Both cultivation and post harvest technology for nutmeg plantation are available in the Agency for Agriculture Research and Development (Badan Litbang Pertanian). The  regional  authority  should  be  convinced  the necessity of supporting plant rehabilitation in order to produce good quality nutmeg and in turn as the regional income source. In the cultivation sector, the policy is to increase productivity of fruit and fuli quality which is implemented through rehabilitation, intensification, replantation, pests and disease control. In the upstream sector, the policy is directed to improve the added value of post harvest in terms of products for industrial materials and food production. The province of Maluku consists of  several islands, therefore  the  strategy  of  the  nutmeg  agribusiness development is divided into  regional development I, II and III.Key words: Nutmeg, Myristica fragrans, development, Maluku
Strategi Pengembangan Bio-etanol Berbasis Sagu di Maluku SJAHRUL BUSTAMAN
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKBio-etanol  adalah  cairan  biokimia  dari  proses fermentasi  karbohidrat  dengan  bantuan  mikro-organisme, dan dilanjutkan dengan proses distilasi. Upaya   pengembangan   bio-etanol   sudah   begitu mendesak,  terutama  bertujuan mengurangi  beban penderitaan  masyarakat  akibat  kenaikan  BBM  dan pasokan yang tidak menentu pada masyarakat yang tinggal  di  pulau  kecil  dan  terpencil.   Tulisan  ini memberikan gambaran tentang bio-etanol yang dapat diproduksi di Maluku. Hasil analisis faktor kekuatan, kelemahan,  kesempatan  dan  ancaman  pada pengembangan industri  bio-etanol  di Maluku, memberikan   prospek yang  baik. Strategi pengembangan bio-etanol dikelompokan atas beberapa pola skala usaha seperti skala rumah tangga, UMKM, komersial  dan  pola  plasma-inti.  Kebijakan  Pemda Maluku diperlukan untuk mendukung pembangunan bio-etanol   dalam   usaha   meningkatan   pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja.Kata kunci: Metroxylon spp., pengembangan bio-etanol, Maluku. ABSTRACTStrategy of Bio-ethanol Development Base on Sago in MoluccasBio-ethanol   is   biochemical liquid  produced by fermentation of carbohydrate with microorganism and followed by distillation. The development of the bio-ethanol is urgently needed as to help reducing the public burden due to the increasing of oil price and uncertainly oil supply especially for Moluccas society in small island. This paper shows that bio-ethanol can be  produced  in  Moluccas.  SWOT  analysis  results showed that bio-ethanol industry development gave good prospect. Strategy of bio-ethanol development can be recommended by some pattern such as house hold scale, small-micro scale, commercial scale and nucleus-plasm pattern. The regional authority should be convinced about the necessity of supporting bio-ethanol production in order to increasing community income and absorbing labor.Key words: Bio-ethanol development, moluccas.