Naufal Luthfi Lazuardi
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TINDAKAN PENGALIHWUJUDAN KARYA FOTOGRAFI DITINJAU DARI DOKTRIN FAIR DEALING DALAM PERSPEKTIF HAK CIPTA INDONESIA DAN KANADA Naufal Luthfi Lazuardi
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Naufal Luthfi Lazuardi, Afifah Kusumadara, S.H., LL.M., SJD., M. Zairul Alam, S.H., M.H. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya llazuardi19@gmail.com  ABSTRAK Salah satu karya seni yang dilindungi oleh peraturan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta adalah karya fotografi dan potret, yang diatur dalam Pasal 40 angka (1) huruf k dan l tentang ciptaan yang dilindungi dan dijelaskan sebelumnya mengenai peraturan tentang potret yang terdapat dalam Pasal 12 Undang-Undang Hak Cipta. Potret sebagai salah satu karya seni intelektual yang dilindungi oleh undang-undang, maka dari itu jika seseorang ingin menggunakan karya tersebut haruslah mendapatkan izin dari pemilik hak cipta. Pasal 40 angka (1) huruf n Undang-Undang Hak Cipta bertuliskan bahwa: terjemahan, tafsir, sanduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi. Dalam penjelasan Pasal 40 angka (1) huruf n bahwa yang dimaksud dengan “adaptasi” adalah mengalihwujudkan suatu ciptaan menjadi bentuk lain, sebagai contohnya adalah dari novel menjadi film, dan potret menjadi lukisan. Pengalihwujudan ini harus memperoleh izin terlebih dahulu dari pemegang hak ciptanya, namun ada cara lain tanpa harus mendapatkan izin yaitu dengan doktrin fair dealing. Kurang tepatnya aturan yang berkaitan dengan batasan-batasan dalam melakukan tindakan adaptasi atau pengalihwujudan dalam hukum Indonesia, apabila ketika karya yang baru itu diciptakan dengan dalih terinspirasi. Kekaburan yang muncul pada pasal di dalam UUHC adalah jika seseorang menciptakan suatu karya adaptasi dengan dalih terinspirasi berarti dia mengklaim bahwa karya ciptanya berbeda dengan ciptaan aslinya, yang otomatis menjadi ciptaan yang dilindungi menurut Pasal 40 UUHC. Karya dari tindakan adaptasi tersebut dapat dilanjutkan dengan perlindungan undang-undang, karena disebutkan dalam Pasal 40 ayat (2) UUHC bahwa karya adaptasi dilindungi sebagai ciptaan tersendiri atau terpisah. Kata Kunci: Tindakan Pengalihwujudan, Fotografi, Fair Dealing   ABSTRACT Photography and portrait are artwork protected by Indonesian regulation, specifically in Act Number 28 of 2014 concerning Copyright. This study looks into Article 40 point (1) letter k and l concerning Protected Creation and Article 12 of Act concerning Copyright governing portrait. The word ‘adaptation’ as written in Article 40 point (1) letter n is defined as a transformation of a creation to another form, such as novel to film and portrait to a painting. Such a transformation must be proven with the consent of the copyright holder, or when the consent is absent, fair dealing can be performed. Inappropriate and incomplete regulations regarding the scope of the adaptation or transformation in Indonesian law are among people admitting that they are inspired when the adaptation is indicated. When someone adopts artwork due to an inspiration, it can be understood that the artwork should be different from the original piece of art. When this is true, the creation is categorised as an artwork that is protected according to Article 40 of Act concerning Copyright. On the contrary, Article 1 Paragraph (12) states that copying is an act of duplicating or multiplying a creation in several ways permanently or temporarily. This research is aimed to study reasonable interests of a copyright holder. Keywords: transformation, photography, fair dealing