Fachrizal A. Halim
Harvard Law School, Harvard University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Adaptation and Cooperation of Minority Muslims in Russian History Halim, Fachrizal A.
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 51, No 2 (2013)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2013.512.311-335

Abstract

The present essay examines the common approach in reading the relationship between Muslims and Russian society as if they were bound by perpetual conflict. Following this angle, historians argue that the Russians underwent long term conflict with Muslims and claim that the Russians have suffered more than any other people in facing the hostile world of Islam. Some also argue that Muslims were completely subdued by the Russians due to Islam’s incompatibility with the secular and atheist Soviet regime. A careful survey of literature on the history of Muslims in Russia, however, does not always lead to the conclusion that the two sides were in continuous conflict. In fact, aside from conflict and subjugation, both Russians and the Muslims enjoyed a considerable level of peace and shared a similar attitude of flexibility in mutual cooperation. Given the extent of flexibility of Muslims in their encounter with the Russians throughout the Czar and the Soviet regimes, I argue that contemporary scholars have scaled down the dynamic of both Russian and Muslims intellectual articulations in relation to modern politics as well as to the internal relationship between the two sides, and that the relationship between them can be written as other than perpetual conflict.[Artikel ini mengulas hubungan Islam dan Rusia yang kerap dijelaskan dalam konteks relasi saling bertentangan. Dari cara pandang demikian, ahli sejarah kerap berpendapat bahwa konflik antara keduanya sudah terjadi lama dan orang Rusia adalah korban paling parah yang diakibatkan kebrutalan Islam. Semantara itu, ahli sejarah lainnya berpendapat bahwa orang Islam sepenuhnya terjajah oleh kekuasaan Rusia karena Islam tidak cocok dengan sistem sekuler dan ateis Soviet. Jika dibaca literatur mengenai sejarah Islam di Rusia, maka relasi konfliktual antara keduanya tidak sepenuhnya benar. Faktanya, terlepas dari konflik dan penaklukan, baik orang Rusia dan umat Islam dapat hidup secara damai dan fleksibel dalam kehidupan sosial mereka. Dengan menjelaskan fleksibelitas relasi antara Muslim dan Rusia pada masa kerajaan Rusia dan rejim Soviet, penulis berargumen bahwa kebanyakan ilmuwan kontemporer menyederhanakan relasi Islam dan Rusia dalam konteks politik modern serta relasi internal antara keduanya, karenanya relasi Islam dan Rusia perlu dijelaskan secara seimbang bahwa relasi konflik antara Islam dan Rusia tidak sepenuhnya benar.]
Lessons Learned, Resilience Built, and Multipolarism Imagined: The Muslim Experience of the 2019-2022 Pandemic Crisis Halim, Fachrizal A.
Abdurrauf Journal of Islamic Studies Vol. 3 No. 2 (2024): Abdurrauf Journal of Islamic Studies
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/arjis.v3i2.119

Abstract

This article examines Muslims' responses to the COVID-19 pandemic from 2019 to 2022, including their efforts to overcome the crisis and envision a post-pandemic global society. This study aims to outline three main categories of Muslim efforts: (1) rejection of biopolitical action, (2) resistance to ongoing crises, and (3) promotion of the common good and imagination of a multipolar world. The method used in this study is qualitative analysis through literature review and case studies describing various responses of Muslim communities to the pandemic. The results show that despite the challenges, the pandemic has provided a unique opportunity for Muslim individuals and communities to reflect and rethink a more just and equal world. Many Muslims recognize the need for greater international cooperation and equitable distribution of resources, leading to a movement towards multipolarity. The author argues that the concepts, ideas, and strategies offered by Muslims can be an alternative to the dominant Western concepts and categories. This allows individuals to interact, enrich each other's points of view, and commit to achieving the common good without getting caught up in ideological or nationalistic excitement. [Abstrak Artikel ini mengkaji respons Muslim terhadap pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, termasuk upaya mereka dalam mengatasi krisis dan membayangkan masyarakat global pasca-pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan tiga kategori utama upaya Muslim: (1) penolakan terhadap tindakan biopolitik, (2) perlawanan terhadap krisis yang berkelanjutan, dan (3) promosi kebaikan bersama serta imajinasi dunia multipolar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif melalui tinjauan literatur dan studi kasus yang menggambarkan berbagai respons komunitas Muslim terhadap pandemi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun menghadapi berbagai tantangan, pandemi telah memberikan kesempatan unik bagi individu dan komunitas Muslim untuk merefleksikan dan memikirkan kembali dunia yang lebih adil dan setara. Banyak Muslim mengakui perlunya kerja sama internasional yang lebih besar dan distribusi sumber daya yang adil, yang mengarah pada gerakan menuju multipolaritas. Penulis berpendapat bahwa konsep, gagasan, dan strategi yang ditawarkan oleh Muslim dapat menjadi alternatif terhadap konsep dan kategori dominan Barat. Hal ini memungkinkan individu untuk berinteraksi, memperkaya sudut pandang satu sama lain, dan berkomitmen untuk mencapai kebaikan bersama tanpa terjebak dalam kegembiraan ideologis atau nasionalistik.]