Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penerapan Standard Setting dengan Metoda Angoff, Modified Angoff, Ebel, dan Contrasting Groups Darminto Salim
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 18 No. 48 September - Desember 2012
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v18i48.910

Abstract

AbstrackStandard setting merupakan salah sau komponen penting dalam evaluasi pembelajaran. Ada dua tipe standar evaluasi dalam institusi, pendidikan yaitu : standar relative dan standar absolut. Standar setting bertujuan untuk menentukan nilai batas lulus. Penerapan standard seting tidak berttujuan untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang lulus. Setiap institusi pendidikan berhak menentukan standard setting yang digunakan, tergantung kemampuan institusi tersebut. Peran serta standard setting dalam dunia pendidikan adalah: untuk menentukan bahwa peserta ujian yang lulus telah memenuhi kriteria minimal yang disyaratkan, nilai batas lulus suatu ujian berbeda-beda tergantung dari tujuan ujian tersebut, dan mencegah mahasiswa yang tidak pantas lulus menjadi lulus. Bagi masyarakat pengguna jasa lulusan mendapatkan lulusannya lebih kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan. Penerapan standard setting, dapat diterapkan pada semua evaluasi, baik paa institusi pendidikan kedokteran maupun diluar kedokteran.Kata kunci : standard setting, nilai batasan lulus, metoda angoff
Penegakan Diagnosis dan Penatalaksanaan Subclavian Steal Syndrome Darminto Salim
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1274

Abstract

Abstrak Subclavian steal Syndrome (SSS) merupakan sindrom yang disebabkan penyempitan atau  penyumbatan  arteri  subclavia. Penyebab paling sering SSS adalah aterosklerosis. Kelainan ini sering kali tidak terdiagnosis. Gejala  umum dari SSS pada lengan atas yang terkena  klaudikasio, nadi lemah bahkan tidak teraba, perbedaan tekanan darah > 20 mmHg antara kanan dan kiri. Keluhan neurologis (diperburuk dengan latihan lengan) berupa pusing, vertigo, sinkop, ataksia, gangguan penglihatan, disartria, kelemahan, dan, gangguan sensorik. Kelainan neurologis ini disebabkan karena gangguan perfusi serebral. Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis SSS adalah  doppler, ultra sonografi, magnetic resonance angiography, dan computed tomography angiography. Terapi untuk SSS: Endovascular, dan operasi bypass. Semua terapi ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular. Kata kunci: subclavia, perfusi serebral, angiografi  Abstract Subclavian steal syndrome (SSS) is a syndrome that is caused by abnormal blood flow due to narrowing or blockage of the subclavian artery. The most common cause of SSS is atherosclerosis. The disorder is often not diagnosed. The common symptoms of SSS in the upper arm are claudication, weak pulse does not even exist, differences in blood pressure > 20 mmHg between right and left. Neurological disorder (exacerbated by arm exercises) such as dizziness, vertigo, syncope, ataxia, visual disturbances, dysarthria, weakness, and, sensory disorders. This neurological disorders caused by cerebral perfusion. Investigations to diagnose SSS: doppler, ultra sonography, magnetic resonance angiography, and computed tomography angiography. Therapy for SSS: Endovascular, and bypass surgery. All of this therapy will reduce the risk of cardiovascular and cerebrovascular diseases. Keywords: subclavian, cerebral perfusion, angiography
Penegakan Diagnosis dan Penatalaksanaan Kelainan Tungkai Bawah Blount Disease Darminto Salim
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1455

Abstract

AbstrakBlount disease merupakan kelainan proses osifikasi pada: proksimal tulang tibialis yang menyebabkan deformitas  progresif tungkai  bawah1. Penyakit ini juga  dikenal  dengan  istilah  tibia vara.  Blount disease dibedakan menjadi: infantile dan adolesence, dimana pada infantile terjadinya bilateral, sedangkan  yang   adolesence   unilateral.   Penegakan   diagnosis   Blount   disease   ini  berdasarkan pemeriksaan fisik pada inspeksi bentuk dari ekstremitas inferior pasien. Pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosisnya adalah pemeriksaan rontgen terhadap ekstremitas inferiornya, sedangkan untuk penatalaksaannya menggunakan brace untuk anak usia 2-5 tahun, tetapi jika deformitasnya progresif biasanya dilakukan tindakan osteotomi. Kata kunci: Blount disease, deformitas, brace, ostoetomi AbstractBlount disease is a disorder of ossification process at the proximal tibial bone that causes a progressive deformity of the lower extremity1. This disease is also known as the tibia vara. Blount disease can be divided into: blount infantile and adolesence,   where the blount infantile  occur bilateral, and occur unilateral in adolesence. Diagnosis of Blount disease is based on the physical examination of the lower extremities of the patients. Investigations that supports the diagnosis is X- ray examination of the inferior extremities, while the theraphy is using the brace for children aged 2-5 year, however if the deformity is progressive its better to do osteotomy.. Keywords: Blount disease, deformity, brace, osteotomy 
Penegakan Diagnosis dan Penatalaksanaan Carpal Tunnel Syndrome Darminto Salim
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i63.1568

Abstract

Carpal tunnel syndrome (CTS): Suatu keadaan dimana nervus medianus mengalami tekanan (kompresi) sehingga menyebabkan gangguan sensorik dan motorik pada daerah yang dipersarafinya. Faktor risiko terjadi CTS antara lain genetik, penyakit tertentu (diabetes melitus, hipotiroid, dan rematoid artritis), obesitas, kegiatan yang mengharuskan gerakan fleksi berulang pada pergelangan tangan, dan pekerjaan dengan memakai alat getar seperti gerinda. Diagnosis CTS berdasarkan Anamnesis, pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda kelemahan otot sekitar jari I ( ibu jari) tangan dan pemeriksaan rontgen ultrasonografi (USG). Sedangkan penatalaksanannya: spint pergelangan tangan, suntikan kortikosteroid dan bedah rilis carpal tunnel.Kata kunci: carpal tunnel, nervus medianus, fleksi, spint