Handy Winata
Departemen Anatomi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Description The Nerve Conduction Velocity Of Tibial Nerve To The Use Of High Heels On Students 2017 Faculty Of Medicine UKRIDA Handy Winata; Yustita Sari Tongko; Steven Sakasasmita
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i3.2233

Abstract

Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa pemakaian sepatu hak tinggi minimal 5 cm selama lebih atau sama dengan 1 tahun dengan durasi minimal 6 jam menyebabkan keluhan nyeri ringan hingga berat. Secara umum otot-otot tungkai bawah dipersarafi terutama oleh nervus tibialis. Salah satu pemeriksaan neurofisiologis untuk menilai aktivitas sistem saraf perifer berupa pemeriksaan nilai Kecepatan Hantaran Saraf (KHS) dengan menggunakan alat berupa Elektroneuromiografi (ENMG). Terdapat dua faktor utama yang memengaruhi hasil nilai KHS, yaitu faktor fisiologis berupa usia, indeks massa tubuh, tinggi badan, berat badan, dan jenis kelamin. Faktor kedua yaitu non-fisiologis berupa diameter serabut saraf, derajat mielinisasi dan jarak stimulasi. Desain penelitian ini adalah cross-sectional, dengan analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif, dan metode statistik menggunakan persentase dan rerata. Responden adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida sebanyak 42 orang. Hasil rerata nilai kecepatan hantaran saraf motorik tibialis berdasarkan ukuran tinggi hak 1-4 cm sebesar 56,43 m/s, 5-7 cm sebesar 52,77 m/s dan >7 cm sebesar 69,39 m/s. Hasil berdasarkan durasi penggunaan sepatu hak tinggi <1 tahun sebesar 54,96 m/s, 2-3 tahun 57,41 m/s dan >3 tahun sebesar 56,09 m/s, hasil ini menunjukkan bahwa berdasarkan ukuran tinggi hak maupun durasi penggunaan sepatu terhadap rerata nilai kecepatan hantaran saraf motorik tibialis tidak ditemukan hasil yang terlalu berbeda pada penelitian ini.
Gambaran Union pada Fraktur Tulang Panjang Bagian Metafisis di RS Ciputra Januari – Desember 2020 Reni Oktavina; Christian Yonathan; Reza Rivaldy Azis; Handy Winata
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i3.2512

Abstract

Latar Belakang: Angka kejadian fraktur di Indonesia cukup tinggi, berdasarkan data yang dimiliki Departemen Kesehatan RI pada tahun 2013 didapatkan sekitar delapan juta orang mengalami kejadian fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda dan penyebab yang berbeda. Union merupakan terbentuknya kalus oleh karena proses penyembuhan fraktur yang tidak sempurna, berupa pembungkus yang dikalsifikasikan. Tujuan:  mendapatkan gambaran union pada fraktur tulang panjang bagian metafisis setelah 2 bulan pemasangan plate & screw di Rumah Sakit Ciputra Tangerang. Metode: analisa data sekunder rekam medis tentang union pada pasien dengan fraktur berdasarkan lokasi fraktur di Rumah Sakit Ciputra Tangerang periode Januari – Desember 2020. Sebanyak 62 pasien  dengan fraktur tulang panjang di Rumah sakit Ciputra periode Januari-Desember 2020. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan fraktur tulang panjang yang mengalami union sebesar 75,8% dengan lokasi terbanyak yaitu fraktur pada tulang radius sebanyak 35,5%, dengan gambaran union 18 pasien sebesar 38,3% dan non-union 4 pasien sebesar 26,67%. Simpulan: fraktur tulang panjang yang mengalami union lebih besar dibandingkan non-union dengan lokasi terbanyak yaitu pada tulang radius dengan rata-rata proses pembentukan union dimulai pada minggu ke-empat