Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

TUTURAN TABU DALAM FILM JEPANG TENTANG REMAJA Hamidiyah, Husnul
Paramasastra Vol 1, No 1 (2014): Vol 1 No 1 Bulan Maret Tahun 2014
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/parama.v1n1.p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji informasi mengenai tuturan yang dianggap tidak  sopan dan dapat membedakan bentuk, motif, fungsi, konteks emotif, dan strategi x-femisme pada penggunaan tuturan tabu dalam  situasi percakapan bahasa Jepang. Penelitian ini berlandaskan pada teori para ahli linguistik yaitu Allan dan Burridge (2006), Ullmann (2006), Searle (1975), Boeree (2006), Hughes (1991), Yonekawa (2008), dan Fargo (2009). Penelitian ini menggunakan metode telaah pustaka dan metode analisis deskriptif  kualitatif. Sumber data adalah film Jepang bertema tentang remaja yaitu  Confessions  (2010) karya Tetsuya Nakashima, Detroit Metal City  (2008) karya Toshio Lee, dan sekuel  Crows Zero (2007 dan 2009) karya Takashi Miike.Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung tuturan tabu  yang ditemukan sebanyak 70 data. Hasil pengklasifikasian dan analisis data menunjukkan bahwa (1) bentuk tuturan tabu dengan sistem ekskresi yaitu 1 data, organ tubuh yaitu 3 data, aktivitas seksual yaitu 5 data, kelainan seksual yaitu 2 data, kematian yaitu 2 data, pembunuhan yaitu 7 data, penamaan/ pengalamatan yaitu 13 data, tempat/ objek sakral/ religi yaitu 7 data, penyakit yaitu 2 data, hewan yaitu 6 data, fisik tidak ideal yaitu 1 data, mental di bawah normal yaitu 14 data, dan kotoran yaitu 7 data; (2) motif tuturan tabu dengan motif taboo of fear, yaitu 7 data, motif taboo of delicacy yaitu 11 data, dan motif taboo of propriety yaitu 52 data; (3) fungsi tuturan tabu dengan fungsi asertif yaitu 16 data, fungsi direktif yaitu 7 data, fungsi komisif yaitu 1 data, fungsi ekspresif yaitu 46 data, dan fungsi deklaratif nol data; (4) konteks emotif tuturan tabu dengan konteks keterkejutan yaitu 3 data, konteks ketakutan yaitu 4 data, konteks kemarahan yaitu 39 data, konteks kesedihan yaitu 7 data, konteks keinginan yaitu 7 data, konteks kebahagiaan yaitu 7 data, dan konteks kebosanan yaitu 3 data; (5) strategi x-femisme tuturan tabu dengan tipe disfemisme yaitu 27 data, ortofemisme yaitu 40 data, dan eufemisme yaitu 3 data. Hasil analisis dapat disimpulkan secara umum bahwa penggunaan tuturan tabu senantiasa didasari dengan latar belakang kebahasaan seperti bentuk, motif, fungsi, konteks emotif, dan strategi x-femisme. Kemudian, penggunaan tuturan tabu juga mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang diharapkan antara penutur dan petutur.
TUTURAN TABU DALAM FILM JEPANG TENTANG REMAJA Hamidiyah, Husnul
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 1, No 1 (2014): Vol 1 No 1 Bulan Maret Tahun 2014
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/parama.v1n1.p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji informasi mengenai tuturan yang dianggap tidak  sopan dan dapat membedakan bentuk, motif, fungsi, konteks emotif, dan strategi x-femisme pada penggunaan tuturan tabu dalam  situasi percakapan bahasa Jepang. Penelitian ini berlandaskan pada teori para ahli linguistik yaitu Allan dan Burridge (2006), Ullmann (2006), Searle (1975), Boeree (2006), Hughes (1991), Yonekawa (2008), dan Fargo (2009). Penelitian ini menggunakan metode telaah pustaka dan metode analisis deskriptif  kualitatif. Sumber data adalah film Jepang bertema tentang remaja yaitu  Confessions  (2010) karya Tetsuya Nakashima, Detroit Metal City  (2008) karya Toshio Lee, dan sekuel  Crows Zero (2007 dan 2009) karya Takashi Miike.Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung tuturan tabu  yang ditemukan sebanyak 70 data. Hasil pengklasifikasian dan analisis data menunjukkan bahwa (1) bentuk tuturan tabu dengan sistem ekskresi yaitu 1 data, organ tubuh yaitu 3 data, aktivitas seksual yaitu 5 data, kelainan seksual yaitu 2 data, kematian yaitu 2 data, pembunuhan yaitu 7 data, penamaan/ pengalamatan yaitu 13 data, tempat/ objek sakral/ religi yaitu 7 data, penyakit yaitu 2 data, hewan yaitu 6 data, fisik tidak ideal yaitu 1 data, mental di bawah normal yaitu 14 data, dan kotoran yaitu 7 data; (2) motif tuturan tabu dengan motif taboo of fear, yaitu 7 data, motif taboo of delicacy yaitu 11 data, dan motif taboo of propriety yaitu 52 data; (3) fungsi tuturan tabu dengan fungsi asertif yaitu 16 data, fungsi direktif yaitu 7 data, fungsi komisif yaitu 1 data, fungsi ekspresif yaitu 46 data, dan fungsi deklaratif nol data; (4) konteks emotif tuturan tabu dengan konteks keterkejutan yaitu 3 data, konteks ketakutan yaitu 4 data, konteks kemarahan yaitu 39 data, konteks kesedihan yaitu 7 data, konteks keinginan yaitu 7 data, konteks kebahagiaan yaitu 7 data, dan konteks kebosanan yaitu 3 data; (5) strategi x-femisme tuturan tabu dengan tipe disfemisme yaitu 27 data, ortofemisme yaitu 40 data, dan eufemisme yaitu 3 data. Hasil analisis dapat disimpulkan secara umum bahwa penggunaan tuturan tabu senantiasa didasari dengan latar belakang kebahasaan seperti bentuk, motif, fungsi, konteks emotif, dan strategi x-femisme. Kemudian, penggunaan tuturan tabu juga mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang diharapkan antara penutur dan petutur.
TUTURAN TABU DALAM FILM JEPANG TENTANG REMAJA Husnul Hamidiyah
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 1 No. 1 (2014): Vol 1 No 1 Bulan Maret Tahun 2014
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/paramasastra.v1n1.p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji informasi mengenai tuturan yang dianggap tidak  sopan dan dapat membedakan bentuk, motif, fungsi, konteks emotif, dan strategi x-femisme pada penggunaan tuturan tabu dalam  situasi percakapan bahasa Jepang. Penelitian ini berlandaskan pada teori para ahli linguistik yaitu Allan dan Burridge (2006), Ullmann (2006), Searle (1975), Boeree (2006), Hughes (1991), Yonekawa (2008), dan Fargo (2009). Penelitian ini menggunakan metode telaah pustaka dan metode analisis deskriptif  kualitatif. Sumber data adalah film Jepang bertema tentang remaja yaitu  Confessions  (2010) karya Tetsuya Nakashima, Detroit Metal City  (2008) karya Toshio Lee, dan sekuel  Crows Zero (2007 dan 2009) karya Takashi Miike.Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung tuturan tabu  yang ditemukan sebanyak 70 data. Hasil pengklasifikasian dan analisis data menunjukkan bahwa (1) bentuk tuturan tabu dengan sistem ekskresi yaitu 1 data, organ tubuh yaitu 3 data, aktivitas seksual yaitu 5 data, kelainan seksual yaitu 2 data, kematian yaitu 2 data, pembunuhan yaitu 7 data, penamaan/ pengalamatan yaitu 13 data, tempat/ objek sakral/ religi yaitu 7 data, penyakit yaitu 2 data, hewan yaitu 6 data, fisik tidak ideal yaitu 1 data, mental di bawah normal yaitu 14 data, dan kotoran yaitu 7 data; (2) motif tuturan tabu dengan motif taboo of fear, yaitu 7 data, motif taboo of delicacy yaitu 11 data, dan motif taboo of propriety yaitu 52 data; (3) fungsi tuturan tabu dengan fungsi asertif yaitu 16 data, fungsi direktif yaitu 7 data, fungsi komisif yaitu 1 data, fungsi ekspresif yaitu 46 data, dan fungsi deklaratif nol data; (4) konteks emotif tuturan tabu dengan konteks keterkejutan yaitu 3 data, konteks ketakutan yaitu 4 data, konteks kemarahan yaitu 39 data, konteks kesedihan yaitu 7 data, konteks keinginan yaitu 7 data, konteks kebahagiaan yaitu 7 data, dan konteks kebosanan yaitu 3 data; (5) strategi x-femisme tuturan tabu dengan tipe disfemisme yaitu 27 data, ortofemisme yaitu 40 data, dan eufemisme yaitu 3 data. Hasil analisis dapat disimpulkan secara umum bahwa penggunaan tuturan tabu senantiasa didasari dengan latar belakang kebahasaan seperti bentuk, motif, fungsi, konteks emotif, dan strategi x-femisme. Kemudian, penggunaan tuturan tabu juga mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang diharapkan antara penutur dan petutur.
TUTURAN UMPATAN ≠ MARAH Husnul Hamidiyah
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 2 No. 2 (2011): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v2i2.93

Abstract

Husnul Hamidiyah SMAN 1 Waru Sidoarjo diglossiafbs@gmail.com   Abstrak Hampir setiap bahasa di dunia memiliki berbagai bentuk umpatan yang unik dengan latar belakang budaya masing – masing, termasuk Indonesia dan Jepang. Hal ini perlu dipahami secara mendalam, mengingat sebagai pembelajar bahasa Jepang juga harus mengerti dan membandingkan bagaimana pertuturan bahasa sehingga dapat tercipta suatu suasana komunikasi yang harmonis dan baik. Tuturan umpatan dalam bahasa Jepang biasa disebut dengan istilah nonoshiri hyougen. Ada empat bentuk Nonoshiri hyougen dalam teori Andersson (dalam Karjalainen 2002:17) dibagi menjadi empat tipe. Setiap tuturan umpatan mengandung konteks emosi yang tidak hanya mengungkapkan situasi kemarahan tetapi juga dapat mengungkapkan konteks emosi keterkejutan, ketakutan, kesedihan, kesukaan , kegembiraan, da kebosanan (Boeree 2008:124). Orang – orang perlu memahami konteks dengan cepat yang menutupi sebuah tuturan umpatan ketika seorang penutur atau pendengar melakukannya. Dikarenakan pemahaman yang baik pada pemaknaan, bentuk ,tujuan , motif, dan fungsi dari Nonoshiri hyougen  atau tuturan umpatan diharapkan dapat menghindarkan persepsi yang salah diantara penutur -  penutur bahasa dalam komunikasi interkultural. Jadi komunikasi antar ras, etnik, agama, dan Negara dapat berjalan dengan lancar. kata kunci: tuturan umpatan, kemarahan  Abstrak Almost every language in the world has many unique forms of vituperation against the background of their respective cultures, including Indonesia and Japan. The existence of a unique culture swearword in foreign languages must be understood in depth, given as a Japanese language learner should also understand and comprehend a conversation. Swearwords in Japanese utterances commonly referred to as  nonoshiri hyougen. There are four forms of Nonoshiri Hyougen (Swearwordsproposed by Anderson ( in Karjalainen 2002:17 ). Every swearwords containing emotive context which not only expressed in situation of anger, but also can be expressed in the emotive context of surprise, fear, sadness, like, happy, and bored (Boeree, 2008:124). People need to understand the context observantly overshadow a swearword when a speaker or listener role. Due to a proper understanding of the meaning, form, purpose, motive and the function of Nonoshiri Hyougen (Swearwords) is expected to prevent the wrong perception among speaker of languages in an intercultural communication. So that communication between races, ethnics, and nations can work well. key words: swearwords, anger