M. Afif Khoiruddin
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTIFIKASI MODAL SOSIAL DALAM KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN AIR MINUM PERDESAAN BERBASIS MASYARAKAT (Studi pada HIPPAM Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang) M. Afif Khoiruddin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol 5, No 1: Semester Ganjil 2016/2017
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin bertambahnya populasi penduduk yang memanfaatkan air   membuat ketersediaannya semakin langka. Inilah yang kemudian membuat pengelolaan air harus berkelanjutan. Artinya  pengelolaan air harus  dapat  memenuhi kebutuhan konsumsi di  masa sekarang dan juga di masa yang akan datang. Untuk melihat keberlanjutan pengelolaan air minum berbasis masyarakat dapat dilihat dari lima aspek: kelembagaan, keuangan, teknis, lingkungan, dan sosial. Di sisi lain modal sosial belum banyak mendapat perhatian untuk turut merumuskan kontribusinya terhadap keberlanjutan pengelolaan air minum perdesaan berbasis masyarakat. Oleh karenanya, penelitian ini mencoba melihat bentuk-bentuk modal sosial yang terdapat pada Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang dan juga bagaimana implikasi modal sosial yang ada terhadap pengelolaan HIPPAM Sumber Maron yang berkelanjutan. Dalam hal ini HIPPAM Sumber Maron merupakan salah satu pengelola air minum perdesaan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Adapun bentuk-bentuk modal sosial yang menjadi temuan dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi tiga: kepercayaan, jaringan informasi, dan nilai   dan norma. Kepercayaan berwujud dalam: (a) kemauan gotong royong dan bekerja sama pada proses awal  pembangunan  sistem penyediaan  air  minum;  (b)  kerelaan  masyarakat  menyumbang bantuan-bantuan, baik materiil maupun non-materiil; (c) kerelaan membayar iuaran rekening air bulanan; dan (d) kehadiran masyarakat dalam musyawarah juga merupakan cermin dari kepercayaan yang ada. Sedangkan jaringan dapat diklasifikasikan menjadi dua: di luar dan di dalam HIPPAM Sumber Maron. Jaringan informasi di luar bermanfaat dalam mengakses sumber daya-sumber daya  aktual seperti  bantuan-bantuan dan  informasi  terkait  aspek-aspek  teknis. Sementara, jaringan informasi di dalam HIPPAM Sumber Maron bermanfaat untuk merawat infrastruktur yang ada melalui keluhan dan partisipasi masyarakat. Adapun modal sosial berupa nilai dan norma yang terdapat dalam HIPPAM Sumber Maron adalah musyawarah, gotong royong, bantuan sosial. Selain itu, juga diperoleh kesimpulan bahwa kepercayaan berimplikasi terhadap   keberlanjutan   aspek-aspek   internal   organisasi,   seperti   keuangan,   teknis,  dan kelembagan. Jaringan informasi yang ada berimplikasi terhadap keberlanjutan aspek lingkungan, melalui bantuan bibit pohon untuk konservasi lingkungan. Modal sosial nilai dan norma yang berupa gotong royong, musyawarah, dan bantuan sosial berimplikasi terhadap aspek teknis, keuangan, kelembagaan, dan sosial.Kata Kunci: Modal Sosial, Keberlanjutan Pengelolaan Air Minum, Pengelolaan Air Minum Perdesaan Berbasis Masyarakat.
Pengembangan Ekonomi Desa Berkelanjutan melalui Model Lumintu: Studi pada Kawasan Ekowisata Kopi di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang Nugroho Suryo Bintoro; Nurman Fadjar Setiawan; M. Afif Khoiruddin
Nusantara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Februari: NUSANTARA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/nusantara.v6i1.7414

Abstract

The development of rural economies based on locally superior commodities is an integral part of inclusive and sustainable development strategies. Sumberdem located in Wonosari Subdistrict, Malang Regency, possesses significant potential for the development of coffee-based ecotourism. However, this potential remains largely underutilized due to several structural and institutional constraints. Key challenges include inadequate supporting infrastructure, limited capacity of local human resources, and the absence of downstream processing for coffee products. This community engagement program implemented an adaptive approach known as the Lumintu model, rooted in the Participatory Rural Appraisal (PRA) framework. Field assessments revealed critical limitations such as poor road access to plantation areas, insufficient agricultural irrigation, and weak digital connectivity. Moreover, the capacity of village institutions—such as the Village-Owned Enterprises (BUMDesa) and coffee farmer groups—remained low, resulting in local coffee products with limited added value. The initial implementation of the program has shown promising results, particularly in strengthening institutional capacity through training on tourism business management and high–value coffee processing. Furthermore, product diversification through the development of coffee-based agrotourism and digital marketing innovations has been successfully introduced. Overall, this community engagement initiative has provided a concrete solution to rural development challenges in Sumberdem Village. Moving forward, the village is expected to strengthen its position as a sustainable coffee ecotourism destination and improve the long-term economic well-being of its residents. The proposed development model also holds the potential for adaptation and replication in other rural areas with similar characteristics, thereby supporting the broader achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs).