Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Evaluasi Kesesuaian Lahan Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng untuk Pengembangan Tanaman Lada (Piper nigrum L) Muhammad Iqbal; Hazairin Zubair; Rismaneswati Rismaneswati
Jurnal Ecosolum Vol. 7 No. 1 (2018): JUNI
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1419.221 KB) | DOI: 10.20956/ecosolum.v7i1.5211

Abstract

Potential land resources can be expected through land evaluation activities. This study aims to evaluate the suitability of Tompobulu Subdistrict of Bantaeng Regency for the development of pepper plant (Piper nigrum L). This research was conducted in Tompobulu Sub-district of Bantaeng Regency which started from March to July 2016. This research used qualitative method and to determine land suitability using simple limiting factor approach. Determination of observation points based on the overlapping results of the baseline maps that resulted in 6 units of observation (soil profile). Production data and management of pepper crop obtained from farmers of respondents amounted to 10 people. The result of the study shows that the climate type of the research area according to Oldeman is classified as B2 with the actual land suitability class which is quite suitable (S2) with 3,657 Ha and the marginal fit (S3) with 3,023 Ha with rainfall limiting factor, soil depth, Slope, and surface rocks whereas the suitability class is quite suitable (S2) with an area of 6,160 Ha and corresponding marginally (S3) with an area of 520 Ha with rainfall and soil depth limiting factors. The potential of pepper plant development in Tompobulu Sub-district of Bantaeng Regency is quite large indicated by the percentage of land area that is quite suitable (S2) (82.40%).
EVALUASI PEMANFAATAN RUANG BERDASARKAN SEBARAN DAERAH RAWAN BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN SINJAI Irto Suleman; A. M. Imran; Hazairin Zubair
MUSTEK Vol 3 No 1 (2014): MUSTEK ANIM HA
Publisher : Universitas Musamus, Merauke, Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerakan tanah merupakan suatu peristiwa alam yang pada saat ini frekuensi kejadiannya semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk (1). Memetakan daerah rawan bencana gerakan tanah di Kabupaten Sinjai (2). Mengevaluasi arahan struktur dan pola ruang berdasarkan sebaran daerah rawan bencana gerakan tanah di Kabupaten Sinjai. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sinjai Propinsi Sulawesi Selatan, periode bulan Agustus-September 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan melakukan analisis dokumen terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan metode overlay (tumpang tindih) dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) terhadap parameter kemiringan lereng, geologi, struktur geologi, curah hujan penggunaan lahan dan infrastruktur menghasilkan sebaran zonasi kerawanan gerakan tanah, serta overlay peta rawan bencana gerakan tanah  dengan peta rencana tata ruang wilayah untuk menghasilkan rekomendasi perencanaan pengembangan wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian terbagi atas empat zona kerentanan gerakan tanah, yaitu (1) Zona kerentanan gerakan tanah tinggi, (2) Zona kerentanan gerakan tanah menengah, (3) zona kerentanan gerakan tanah rendah dan (4) Zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah. Sedangkan evaluasi pemanfaatan ruang  terdiri atas daerah yang sudah sesuai dan daerah yang belum sesuai peruntukkannya berdasarkan sebaran daerah rawan gerakan tanah. Kesimpulannya adalah Pada wilayah Kabupaten Sinjai  terdapat empat zona kerentanan tanah yaitu zona kerentanan tinggi seluas 1352 Ha (1,6% dari luas wilayah kabupaten) lokasi dominan yaitu : Tompobullu, Bontokatute, Bijinangka, Gunung Perak, Pattongko, Kompang,  zona kerentanan menengah seluas  37403 Ha (45,7% dari luas wilayah kabupaten) lokasi dominan yaitu: Bullupoddo, Barambang, Barania, Bonto, Bontolempangang, Lamatti rilau, zona kerentanan rendah seluas 43055 Ha (52,5% dari luas wilayah kabupaten) lokasi dominan yaitu : Biringere, Kampala, dan zona kerentanan sangat rendah seluas 186 Ha (0,2% dari luas wilayah kabupaten) lokasi dominan yaitu: Bongki, Lappa.
POTENSI DAYA DUKUNG LIMBAH TANAMAN PANGAN DAN HIJAUAN SEBAGAI SUMBER PAKAN TERNAK RUMINANSIA DI KECAMATAN PANCA RIJANG DAN KECAMATAN KULO KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG: The Potential Carrying Capacity of Forage and Crop Waste in The Pancarijang and Kulo Districts, Sidenreng Rappang Regency Yusuf, Subaedy; Hazairin Zubair; Arif, Samsu
Wahana Peternakan Vol. 8 No. 1 (2024): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v8i1.1229

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi daya dukung limbah tanaman pangan dan hijauan di Kecamatan Pancarijang dan Kulo, Kabupaten Sidenreng Rappang sebagai sumber pemetaan wilayah terhadap pengembangan peternakan. Penelitian ini dilakukan menggunakan data sekunder yaitu populasi ternak ruminansia dan luas panen tanaman pangan dan hijauan. Hasil penelitian menunjukkan produksi bahan kering limbah tanaman pangan dan hijauan di Kecamatan Pancarijang yaitu 21.661,77 ton bahan kering (BK) dan Kecamatan Kulo sebesar 28.837,86 ton BK. Produksi limbah tanaman pangan dan hijauan tertinggi berasal dari Desa Rijangpanua, Kecamatan Kulo yaitu sebesar 8964,48 ton BK. Daya dukung untuk pakan yang berasal dari limbah jerami padi, jagung dan hijauan yaitu sebanyak 19.001,56 satuan ternak (ST) di Kecamatan Pancarijang dan 25.296,37 ST di Kecamatan Kulo. Hasil analisis location quotient (LQ) di Kecamatan Pancarijang menunjukkan LQ >1 untuk jerami padi terdapat berada pada lima Desa yaitu Rappang, Lalebata, Macorawalie, Kadidi, dan Timureengpanua, sementara Desa tempat program DKS memiliki LQ <1 untuk jerami padi, namun mempunyai keunggulan LQ>1 berasal dari jerami jagung dan hijauan. Demikian nilai LQ >1 di Kecamatan Kulo untuk jerami padi terdapat empat Desa yaitu Kulo, Maddenra, Bina Baru dan Abbokongang, sedangkan Desa Mario dan Rijangpanua memiliki LQ<1. Namun, kedua Desa tersebut memiliki keunggulan yang sama dengan wilayah DKS di Kecamatan Pancarijang yaitu memiliki jerami jagung dan hijauan yang dapat mendukung ketersediaan limbah tanaman pangan berdasarkan bahan kering sebagai pakan ternak ruminansia.   Kata kunci: Daya dukung, Hijauan, Limbah tanaman pangan, Location quotient, Produksi bahan kering