Fandy Aprianto Rohman
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RINTISAN AWAL PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH DI SUMATERA BARAT TAHUN 1925-1939 Fandy Aprianto Rohman; Mulyati Mulyati
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.46 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v5i1.20

Abstract

Muhammadiyah pada awalnya hanya berkembang di wilayah Pulau Jawa saja, namun dalam waktu cepat dapat menyebar ke seluruh Indonesia, termasuk ke Sumatera Barat. Pada tahun 1925, Syekh Abdul Karim Amrullah membawa perserikatan ini ke Sumatera, tepatnya di Maninjau, Sungai Batang, Sumatera Barat. Dari sinilah Muhammadiyah semakin berkembang ke seluruh Sumatera. Penelitian ini menganalisis dan mendeskripsikan proses awal mula Muhammadiyah muncul di Sumatera Barat hingga usaha-usaha yang dilakukan Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan pembaruan. Adapun penelitian ini menggunakan teknik analisa kualitatif, yaitu analisa yang didasarkan pada hubungan sebab-akibat dari fenomena historis pada cakupan waktu dan tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tarik Muhammadiyah di Sumatera Barat terletak pada gerakan pemurnian Islam, terutama dalam bidang pendidikan. Muhammadiyah memperbarui sistem pendidikan Islam di Sumatera Barat dengan tujuan mendidik masyarakat agar menghindari hal-hal yang bertentangan dan menyimpang dari akidah Islam. Muhamadiyah initially only developed in the island of Java, but soon it could spread throughout Indonesia, including West Sumatera. In 1925, Syekh Abdul Karim Amrullah brought this organization to sumatera, precisely in Maninjau, Sungai Batang, West Sumatera. From this, Muhammadiyah increasingly developed throughout Sumatera. This study analyzes and describes the initial process of Muhammadiyah appearing in West Sumatera until the efforts made by Muhammadiyah to develop renewal ideas. The research uses qualitative analysis techniques, namely analysis based on causal relationship of historical phenomena in the scope of time and place. The result of the study indicate that the appeal of Muhammadiyah in West Sumatera lies in the Islamic purification movement, especially in the field of education. Muhammadiyah renewed the Islamic education system in West Sumatera with the aim of educating the public to avoid things that are contrary and deviate from the Islamic faith.
JEJAK KESENIAN SRANDUL DI DUSUN DUKUHAN, DESA SUMBER, KECAMATAN DUKUN, KABUPATEN MAGELANG Fandy Aprianto Rohman
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.130

Abstract

Indonesia has a variety of different arts in each region, ranging from traditional dance, traditional music, and traditional drama. One of the various arts is Srandul. Srandul is an art that arises from the people and involves music, dance and drama. The show can be classified into the form of folk theater because there are stories or plays played by players by dialogue. This research is located in Dukuhan Hamlet, Sumber Village, Dukun District, Magelang Regency. The method used in this study is a phenomenological research method that relies on events that existed in the past. The results of this study indicate that Srandul art in Dukuhan Hamlet began to emerge around 1982. The performance was often done based on requests from the community to fill a celebration (circumcision or marriage).Indonesia memiliki beragam kesenian yang berbeda-beda di tiap daerah, mulai dari tari tradisional, musik tradisional, dan seni drama tradisional. Salah satu dari kesenian yang beraneka ragam tersebut adalah Srandul. Srandul merupakan kesenian yang muncul dari rakyat dan di dalamnya melibatkan unsur musik, tari, serta drama. Pertunjukan tersebut dapat digolongkan ke dalam bentuk teater rakyat karena terdapat cerita atau lakon yang dimainkan oleh pemain dengan berdialog. Penelitian ini dilakukan di Dusun Dukuhan, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian fenomenologi yang bertumpu pada kejadian yang ada pada masa lampau. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kesenian Srandul di Dusun Dukuhan mulai muncul sekitar tahun 1982. Pementasannya sering dilakukan berdasarkan permintaan dari masyarakat untuk mengisi acara hajat (khitan atau nikah).