Fathurrohman Fathurrohman
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Model Talking Stick dan Kemampuan Berbicara Fathurrohman Fathurrohman
SCHOLASTICA: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1 No 2 (2019): November
Publisher : LP3M STITNU AL HIKMAH MOJOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to find out the thoroughness of mathematics learning outcomes of third grade students SD Islam Tarbiyatul Athfal Surabaya after the application of Talking Stick model. This type of research is a quasi experiment with Pre-test and Post-test group design. The population of all third grade students SD Islam Tarbiyatul Athfal Surabaya Lesson Year 2019/2020 amounted to 38 students and as a sample of class III3 taken at random. Data collection is done by test technique. The collected data were analyzed by using t test. Based on the results of the analysis data with the level of trust α = 0.05 obtained tcount (1.85)> ttable (1.68), so it can be concluded that the result of thematic learning of third grade students SD Islam Tarbiyatul Athfal Surabaya after applied Talking Stick method significantly completed . Average student learning outcomes of 79.97 and the percentage of complete students reached 79%.
KONSERVASI PENDIDIKAN KARAKTER ISLAMI DALAM HIDDEN CURRICULUM SEKOLAH Fathurrohman Fathurrohman
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.999 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2014.2.1.131-143

Abstract

Pendidikan di negeri ini hingga sekarang masih menyisakan banyak persoalan, baik dari segi kurikulum, manajemen, maupun para pelaku dan pengguna pendidikan. SDM Indonesia masih belum mencerminkan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Masih banyak ditemukan kasus seperti siswa melakukan kecurangan ketika sedang menghadapi ujian, bersikap malas dan senang bermain, hura-hura, senang tawuran antar sesama siswa, melakukan pergaulan bebas, hingga terlibat narkoba dan tindak kriminal lainnya. Kenyataan membuktikan bahwa Indonesia banyak bermasalah dalam hal karakter. Hal ini berarti bangsa Indonesia yang didominasi oleh umat Islam belum mengamalkan ajaran agama dengan baik. Untuk itu, perlu menjadikan pendidikan karakter Islami sebagai pondasi utama dalam membangun karakter manusia. Dengan agamalah karakter yang seutuhnya bisa dibangun. Namun demikian, untuk zaman sekarang masih diperlukan metode dan strategi yang dikembangkan oleh para ahli moral melalui hidden curriculum di sekolah.
Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Masalah dalam Meningkatkan Kemampuan Metakognitif Siswa Fathurrohman Fathurrohman
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 7 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.719

Abstract

artikel ini menjelaskan tentang implementasi pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan metakognitif siswa. Mata pelajaran pendidikan agama Islam memiliki karakteristik yang kompleks, sehingga kemampuan metakognitif tidak dapat ditemukan dan dikembangkan, melalui model pembelajaran berbasis masalah, kemampuan metakognitif siswa dapat ditemukan dan dipetakan dengan benar. Kemampuan metakognitif siswa perlu ditemukan dan dikembangkan karena sesuai dengan kurikulum yang diterapkan di Indonesia bahwa siswa dapat berpikir kritis, kreatif dan inovatif, semua ini dapat dicapai jika metakognitif siswa kemampuan dapat diasah dengan baik saat mengikuti proses pembelajaran. Apalagi dengan konsep baru dalam pendidikan di Indonesia yang membuat siswa mampu berpikir di level yang lebih tinggi (kemampuan berpikir tingkat tinggi). Ini dilakukan dengan harapan bahwa siswa akan dapat bersaing secara global dengan pemikiran yang kuat dan bertanggung jawab. Model pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi salah satu solusi untuk mengembangkan kemampuan metakognitif siswa dalam berbagai mata pelajaran, termasuk mata pelajaran pendidikan agama Islam yang dalam aspek tertentu dapat mengeksplorasi kemampuan metakognitif siswa. Kemampuan metakognitif siswa bukanlah segalanya, tetapi dengan ditemukannya kemampuan metakognitif, pendidik akan difasilitasi dalam mengatur pembelajaran yang akan dilakukan dengan siswa di kelas.
Penggunaan Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam Berbasis Multiliterasi dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik di Era Digital Ikhwan Saifuddin; Fathurrohman Fathurrohman; Achmad Muhibbin Zuhri; Mohammad Kholilullah
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4 (2025): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4.3529

Abstract

Perkembangan era digital menuntut adanya inovasi fundamental dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pengembangan bahan ajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi upaya optimalisasi bahan ajar PAI berbasis multiliterasi guna meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Temuan penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa penerapan bahan ajar berbasis multiliterasi—yang melibatkan literasi visual, digital, media, dan budaya—mampu meningkatkan partisipasi aktif, pemahaman materi, dan motivasi belajar siswa. Meskipun menghadapi kendala berupa keterbatasan infrastruktur dan kompetensi guru dalam teknologi, tantangan ini dapat diatasi melalui pelatihan dan dukungan kelembagaan. Secara keseluruhan, bahan ajar berbasis multiliterasi memiliki kontribusi yang signifikan dalam menciptakan proses pembelajaran PAI yang lebih transformatif, kontekstual, dan modern, menjadikannya relevan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21.