Witono Witono
BKKBN Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KEMATIAN BAYI DI TIGA PROVINSI DENGAN PERSENTASE TERTINGGI DI INDONESIA Suparna Parwodiwiyono; Witono Witono
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v8i2.2701

Abstract

Abstrak: Kematian bayi di Indonesia secara umum masih relatif tinggi. Provinsi yang mempunyai persentase kasus kematian bayi tiga terbesar perlu mendapatkan perhatian faktor apa yang kemungkinan mempengaruhi terhadap kejadian tersebut. Hal ini perlu mendapatkan perhatian karena kasus ini akan berpengaruh terhadap kualitas hidup, kondisi kesehatan dan praktek penggunaan kontrasepsi. Tujuan penelitian ini untuk melihat kaitan umur, jarak kelahiran, jumlah anak masih hidup, dan pendidikan ibu terhadap kematian bayi di Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, dan Gorontalo.  Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Umur memiliki hubungan signifikan dengan kejadian kematian bayi. Yang perlu diwaspadai bila umur ibu hamil kurang dari 20 tahun. Usia ini rentan   karena   masih   pada   tahap   masa reproduksi   awal   dan   organ   reproduksi belum tumbuh secara sempurna sehingga dapat berisiko terjadi gangguan pertumbuhan janin saat di kandungan. Demikian pula pada usia lebih dari 30  tahun seorang ibu sudah mulai muncul berbagai macam penyakit yang menurunkan kemampuan  ibu  untuk  melakukan  proses persalinan normal karena usia  maupun penyakit kronik yang dialaminya. Kematian bayi juga kemungkinan terjadi 1,695 kali lebih tinggi pada ibu yang memiliki 3 anak atau lebih dibandingkan pada ibu yang baru memiliki 1-2 anak yang masih hidup. Abstract:  Infant mortality in Indonesia in general is still relatively high. Provinces that have the third largest percentage of infant mortality cases need to get attention to what factors are likely to influence the incidence. This needs attention because this case will affect the quality of life, health conditions and the practice of contraceptive use. The purpose of this study was to look at the relationship of age, birth spacing, number of children still alive, and mother's education towards infant mortality in West Nusa Tenggara, South Kalimantan and Gorontalo. This study uses secondary data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). Age has a significant relationship with infant mortality. That need to be aware of if the age of pregnant women is less than 20 years. This age is vulnerable because it is still in the early reproductive stages and the reproductive organs have not fully grown so that there can be a risk of fetal growth disturbance when in the womb. Similarly, at the age of more than 30 years a mother has begun to emerge various kinds of diseases that reduce the ability of mothers to carry out normal childbirth due to age and chronic disease they experience. Infant mortality is also likely to occur 1,695 times higher in mothers who have 3 or more children compared to mothers who have only 1-2 children who are still alive.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM KETAHANAN KELUARGA PADA MASA PANDEMI COVID-19 Witono Witono
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 4, No 3 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.283 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v4i3.2525

Abstract

Abstrak: Individu dan keluarga yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang ketahanan keluarga yang baik, akan mampu bertahan dengan perubahan struktur, fungsi dan peranan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis proses implementasi ketahanan keluarga dilihat dari kepesertaan masyarakat dalam program bina keluarga. Penelitian berdasarkan data sekunder dari hasil laporan pengendalian program BKKBN DI Yogyakarta. Metode analisis yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat sudah baik, hal itu terlihat dari tingkat partisipasi dan kesadaran masyarakat untuk ikut kegiatan bina keluarga sudah cukup tinggi dan diharapkan capaiannya dapat membantu meningkatkan ketahanan keluarga meskipun terdapat beberapa kendala seperti adanya pandemi Covid-19, sehingga partisipasinya menurun. Penurunan partisipasi masyarakat  pada bulan April 2020 dalam Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan Bina Keluarga Lansia tinggal sekitar 40-50 persen, yang sebelumnya mencapai 70-80 persen. Berkenaan dengan itu, dalam usaha mewujudkan ketahanan keluarga penting dikembangkan kebijakan dalam rangka peningkatan ketahanan keluarga secara sosial dan mental spiritual. Kebijakan diarahkan pada pengembangan jejaring di kelompok-kelompok masyarakat yang diinisiasi pemerintah maupun kelambagaan sosial yang tumbuh secara alamiah untuk mendapatkan ketahanan keluarga seperti yang diinginkan. Abstract:  Individuals and families who have knowledge and understanding of good family resilience will be able to survive with changes in the structure, function and role of the family. This study aims to describe and analyze the process of implementing family resilience in terms of community participation in the family development program. The study is based on secondary data from the results of the BKKBN DI Yogyakarta control report. The analytical method used is quantitative descriptive. The results showed that the implementation of the community empowerment program was good, it was seen from the level of community participation and awareness to participate in family building activities which were quite high and it was hoped that their achievements could help improve family resilience despite several obstacles such as the Covid-19 pandemic, so participation declined . Decreased community participation in April 2020 in the Development of Toddler Families, Adolescent Families, and Elderly Family Development live around 40-50 percent, which previously reached 70-80 percent. In this regard, in an effort to realize family resilience it is important to develop policies in order to increase family resilience socially and mentally and spiritually. The policy is directed at the development of networks in community groups initiated by the government and social institutions that grow naturally to obtain family resilience as desired.